Gelombang suara Kolibri Rekords terus disebarluaskan. Di penghujung Juni 2018 ini, mereka akan melakukan sebuah perjalanan keliling Asia Tenggara. Filipina, Singapura dan Malaysia, akan menjadi tujuan baru selepas mengunjungi Thailand awal tahun ini. Gerakan mereka diam-diam menghanyutkan. Tanpa banyak omong, jaringan dirancang dan dibentuk. Semuanya berasaskan mutualisme.

Pola komunikasi diulang dan berhasil diterapkan di banyak kemungkinan. Ide untuk menjalankan tur model begini, sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Caranya sama; mengontak tanpa perlu bertemu, berkomunikasi intens dalam bimbingan internet dan meletakkan kepercayaan di dalamnya.

Lalu, terjadilah tur yang berisi pertunjukan-pertunjukan sederhana dan kontak baru yang bahu-membahu di kemudian hari. Bedchamber, Gizpel dan Grrrl Gang akan berkelana menyiarkan musik mereka pada publik yang baru.

Militansi yang mereka punya, membuat banyak orang menyepakati bahwa mereka, adalah salah satu yang paling baik di Jakarta untuk urusan pergerakan musik beberapa tahun belakangan.

SiasatPartikelir.com berbincang dengan Daffa Andika, salah satu otak Kolibri Rekords tentang perjalanan ini. Oh, tiket untuk dua pertunjukan di Jakarta (satunya tambahan karena permintaan begitu banyak), sudah habis terjual. Beruntunglah mereka yang bisa mendapatkannya karena bergerak cepat merespon pengumuman yang disebarluaskan. (*)

Bisa dijelaskan, kenapa sih pengen bikin tur ke luar Indonesia?

Nggak terlalu ada alasan khusus sebenarnya. Sama aja dengan tur di kota-kota lain selama ini. Kebetulan kita dapat kenalan dan kesempatan untuk main di luar (negeri) aja. Awalnya hanya satu negara. Tapi ternyata setelah cek jadwal dan biaya, ternyata sangat terjangkau untuk kita jadikan tur. Ya udah kita sikat aja. Karena momentumnya juga lagi pas. Bedchamber khususnya, butuh manuver-manuver baru sebagai bagian dari album (Geography, debut album Bedchamber –red). Kayaknya juga musiknya agak susah ternyata di sini. Haha. Jadi, sesuai dengan beberapa kata teman juga, memang kayaknya udah saatnya harus coba lapangan baru, dan negara tetangga bisa jadi awal yang pas untuk belajar. Kebetulannya lagi, scene yang kami-kami gini lagi bagus banget di South East Asia (SEA). Lagi growing semua. Jadi kayaknya sayang kalo kita gak ikutan wavenya. Dalam setaun terakhir cukup banyak likes dan followers baru dari orang-orang asia tenggara di Facebook kita.

Keputusan ini ada pengaruhnya dari kemarin Bedchamber jalan ke Thailand? Ada pengaruhnya dari perjalanan kemarin?

Ada banget kalo ini. Tur Thailand kemarin feedback dan aftermathnya di kita bagus banget. Selama di sana pun kita sangat menikmati dan lihat kalo ternyata scene di sana sebenarnya nggak beda jauh dengan kita tapi somehow mereka jalan lebih rapih dan proper. Ini buat gue pribadi bikin semangat dan optimis banget. Mereka pun sebetulnya excited banget sama musik kita. Lebih dari orang-orang di sini. Dan yang handle tur kami di Thailand kemarin juga koneksinya sangat bagus dengan negara-negara lain. Ini bukan hal yang luar biasa. Nah, gue jadi merasa kita harus jadi bagian jaringan ini juga.

Nah, jaringannya kan kebuka nih. Minimal, kalian baru akan menjalani ini. Sebenarnya, meretas jaringan di Asia Tenggara itu perkara yang mudah atau susah sih?

Secara umum harusnya nggak susah. Karena hubungan kita dengan SEA udah ada dan established dari jauh hari via scene HC, punk dan metal misalnya. Bukan hal baru. Tapi kenapa bahkan bisa jadi satu interview sendiri kan mungkin karena kita tidak datang dari scene itu, dengan musik yang juga tidak biasa diketahui jalan tur antar negara. Mungkin yang agak “susah” nya adalah menemukan teman yang tepat di sana untuk membantu ini terjadi. Kembali lagi tadi, kebetulan yang gini-gini lagi bagus banget di kawasan ini. Jadi kayak dipertemukan aja. Momentumnya pas. Tur ini kita kerjasama dengan orang-orang yang persis seperti kami.

Caranya gimana sih buka kontak sama orang-orang yang kata lo ‘seperti kami’ itu?

Awalnya ada band dari Singapura yang bernama Sobs yang mau tur ke Jakarta. Mereka berurusan dengan kolektif kawan kita, Noisewhore. Argia dari Noisewhore menghubungi kalau ada band Singapura mau ke Jakarta tapi minta harus main sama Bedchamber. Haha. Doi bilang suka banget sama Bedchamber dan Kolibri Rekords. Setelah gue cari-cari, ternyata lumayan juga. Masih satu jalurlah. Label merekapun setelah gue kulik, ternyata bener-bener mirip kayak Kolibri Rekords di Singapura. Ya udah kita kenalan dengan mereka di show tersebut. Dan pede nekat aja gue bilang ke Ratta (Bill, partner Daffa sebagai pemiliki Kolibri Rekords, juga frontman Bedchamber –red), ayo kita ajak kolaborasi. Kita ke Filipina juga jaringan dari anak-anak Singapura itu. Kalau Malaysia, teman kita di Kuala Lumpur yang buat. Yang handle anak-anak band Youth Portal. Mereka udah ngikutin Bedchamber dari dulu banget. Bahkan personilnya pernah ke Jakarta dan kita main bareng. Jadi caranya ya, knows your followers well. Siapa tau satu dua di antara ribuan itu adalah potential friends dan work partner lo.

Jadi, sebenarnya nggak ada yang mulai dari nol ya? Ok, ketika kemudian mengajak nama-nama lain selain Bedchamber, jadi masalah nggak? Atau mudah justru?

Maksudnya Gizpel dan Grrrl Gang?

Iya…

Oh jangan salah bung. Pendengarnya udah multinasional. Haha. Malah pada senang waktu kita tawarin untuk tiga band. Mereka semua excited banget. Kita jadi semangat juga. Yang handle kita di Manila penggemar Grrrl Gang banget. Kita juga nggak paham ini pada tahu dari mana.

Jadi, konfirmasi: Awalnya ini tawaran untuk Bedchamber yang kemudian dibesarkan menjadi Kolibri Rekords. Atau sebaliknya? Yang sedari awal ada di dalam pikiran adalah bikin tur Kolibri Rekords yang isinya roster-roster kalian?

Nggak, dari pertama banget di kepala gue sudah untuk barter showcase kolibri dan Middle Class Cigars (MCC). Kolaborasi. Kolibri Records showcase di Singapura, terus gantian MCC showcase di Jakarta. Tapi mereka nggak sanggup kalo showcase ke sini lagi, karena kemarin mereka sudah kesini dua band, main di acara Noisewhore. Setelah gue cek biaya kalo lanjut tur, ternyata masih terjangkau banget. 100% doable. Jadinya tur 3 band.

Nah, elo kan sudah membuktikan nih, kalau tur dengan biaya sendiri itu mungkin dilakukan. Gue balikin deh, sebenarnya, seperlu apa sih untuk pergi tur ke negara lain itu?

Perlu. Pertama jelas untuk pengalaman dan nambah ilmu, teman-teman, dan tantangan baru. Jadi tahu kita sebetulnya sudah mampu sampai mana. Kualitas kita dibanding negara tetangga kayak gimana? Harus liat dan rasain langsung. Tahap akhirnya ya membangun pasar baru. Daya beli mereka jauh lebih tinggi. Harga jual tshirt dan cd normal di SEA aja bisa dua atau tiga kali lipat harga kita.

Rasio secara ekonomi memungkinkan?

Bayangin: Jualan tshirt satu lusin berasa jual dua lusin di sini. Tanpa dibayar fee pun, kalau merch kita oke, harusnya nggak akan rugi. Sebetulnya kita kalo tur mandiri gini-gini bisa jauh lebih profitable dibanding band-band bule yang ke mari. Kita ke sana jualan, standar harga mereka jauh lebih tinggi. Band bule biasa jual cd 150-200rb, di sini harus adjust jual 50-100rb kalo mau abis.

Tur memang sudah seharusnya profitable, bukan? Hehe. Dalam kasus lo, tur sudah jadi peristiwa yang profitable?

Dalam kasus yang nggak komersil-komersil banget sih nggak tahu ya. Haha. Tapi yang jelas ini kami nggak akan rugi. Profit masih ghaib, belum jelas hilalnya, tapi sudah pasti nggak rugi. Itung-itung jalan2-jalan lah. Toh ini kita yang inisiatif juga, bukan “permintaan” dari sana. Masa untuk seneng sendiri aja pelit? Invest juga. Siapa tau berikutnya ke sana lagi dalam kasus ditanggap orang.

Wawancara/ teks: Felix Dass
Foto: Dok. Kolibri Rekords