The Schuberts adalah salah satu talenta yang perlu dicermati asal Bandung. Band indierock yang terdiri dari Bahmaniar Ryou (Guitar, Vocal), Iqra Sadra (Guitar), Lutfi Handika (Bass Guitar), Satrio Adi (Drum) ini, berawal dari kesenangan yang sama atas band-band sejenis asal Inggris dan Amerika.

Pada 2016, The Schuberts membuahkan produk pertama mereka yaitu Kircland EP yang berisikan 5 buah lagu yang diciptakan dari rentang tahun 2012-2016. Setelah EP tersebut, mereka mulai menjajaki berbagai macam panggung dengan rentang penonton yang luas. Salah satu yang diingat adalah keputusan untuk membuat sebuah mini tur bersama dua band lain, Glaskaca dan ROBBRS. Setiap band menjadi host tiap kotanya yang bertajuk Triangle Tour. Beberapa bulan setelah tur tersebut, The Schuberts kembali melakukan tur 6 titik yang tersebar di 4 kota bersama rangkaian tur 100 Kota 1 Bahasa.

Dalam perjalanannya, Kircland EP membantu The Schuberts untuk dikenal orang. Selain itu, dua tur yang dijalani oleh The Schuberts, Triangle Tour maupun 100 Kota 1 Bahasa, memberikan mereka kesempatan pertama untuk bermain di kota-kota lain selain kota mereka, Bandung. Mereka dapat melihat dan merasakan langsung skena musik dari tiap kota yang ternyata berbeda dengan skena Bandung. Mereka juga dapat membangun koneksi baru, bertemu dan bertukar pikiran dengan para pegiat musik di tiap kota.

“Sejak dulu Bandung merupakan kota dengan industri kreatif yang sangat baik dan inovatif. Namun kekurangan Bandung sedari dulu adalah hubungan antara industri kreatif yang kurang saling mendukung satu sama lain. Masih adanya kultur kecemburuan sosial dan perasaan kompetitif yang berlebihan sehingga bukannya saling membantu tetapi malah sering kali tak acuh satu sama lain yang menyebabkan sulit berkembangnya industri kreatif Bandung. Ide banyak tercipta, namun tidak atau susah untuk dilestarikan karena alasan di atas,” terang Rio.

Sebagai sebuah band beraliran musik yang tidak terlalu populer di Indonesia, khususnya Bandung, tentu untuk bertahan dalam bermusik saja sudah cukup sulit. Pendengar kebanyakan tidak familiar. Namun karena hal tersebut pula The Schuberts tetap bertahan memainkan musiknya.

Mereka percaya bahwa “music is made to inspire people”. Sebagaimana empat sekawan ini terinspirasi ketika mereka pertama kali mendengarkan musik indierock pada zaman SMA, pada salah satu masa pencarian jati diri, mereka merasa menemukan jati diri dengan jenis musik ini.

Faktor finansial, yang sering menggoda, juga jadi tantangan. “Kami selalu mencoba untuk memisahkan bermain musik sebagai passion dengan bertahan hidup dengan mencari uang di luar kegiatan bermain musik. Mencoba untuk selalu dapat mengatur jadwal mereka se-fleksibel mungkin agar kegiatan mencari nafkah dan bermain musik dipisahkan dan tidak merusak tujuan masing-masing kegiatan, di mana mencari nafkah untuk bertahan hidup, dan bermain musik untuk menikmati hidup,” lanjut Rio lagi.

Sejak tahun 2017 kemarin, The Schuberts sedang mempersiapkan full-length album yang akan dikeluarkan akhir tahun ini. (*)

 

teks: Adjustpurwatama
foto/dok: The Schuberts