Tesla Manaf Effendi (pernah) dikenal sebagai seorang gitaris muda penuh bakat yang bergelut di sekitaran musik jazz, etnik dan neoklasik. Pria berusia 30 tahun ini memiliki beberapa rilisan yang jadi wujud karyanya. Tercatat beberapa diantaranya adalah It’s All Yours (2011), A Man’s Relationship With His Fragile Area (2014) dan Tesla Manaf (2015).

Beberapa waktu yang lalu, Tesla Manaf baru saja meluncurkan album paling anyar miliknya, diberi judul Flex. Didalamnya memuat beberapa nomor seperti “Maria”, “Opaque”, “Feeding Aghori” dan “TK1721”. Ada yang terdengar berbeda di sini. Tesla berbelok menuju musik eksperimental elektronik.

“Sebetulnya saya terinspirasi dari musik klasik kontemporer,” ujarnya kepada Siasat Partikelir ketika ditanya tentang berubahnya arah bermusik. “Gyorgi Ligeti dan Karlheinz Stockhausen, keduanya terkenal di era 60an. Mereka berangkat dari orkestra, chamber dan perkusi. Hingga akhirnya merambah keranah elektronik yang biasa disebut elektroakustik pada zamannya,” lanjutnya lagi menceritakan sejumlah inspirasi yang ia serap.

“Dari kecil saya sudah mendengarkan musik kayak gitu sih dari ayah. Jadi, apa yang saya mainkan sekarang ini, seperti balik lagi ke apa yang saya dengar sewaktu kecil dulu,” tambahnya lagi tentang album Flex yang membuat terkejut beberapa penggemarnya usai dirilis.

Banyak dari penggemar Tesla Manaf yang merasa janggal dengan aransemen musik dari Tesla Manaf saat ini. Namun demikian, dirinya cuek saja menanggapi hal tersebut. “Saya bakal melakukan apa yang hati saya hendak lakukan sih. Sejak pertama kali main musik, enggak pernah tergiur terpengaruh sama lingkungan. Menantang diri sendiri itu mutlak, buat yang baru, belajar dari nol lagi itu impian absolut setiap seniman. Soal penggemar, musik itu ‘when it’s good, then it’s good’ apapun genrenya,” dirinya menerangkan dengan santai.

Lewat album Flex yang dirilis bulan Juni ini kepada khalayak luas, Tesla Manaf mempersiapkan panggung internasionalnya menuju kota Berlin di negara Jerman, kiblatnya musik elektronik dunia.

“Sebagai Mekkah untuk musik eksperimental, Berlin tentu menjadi tujuan utama para pegiat musik dengan segmentasi tertentu. Setiap malam, di puluhan kafe, bar dan venue musik tergeletak alunan musik yang jauh dari kesan popular, keberanian masyarakat Berlin sendiri yang dengan mudah menerima sesuatu yang asing membuat kota ini jadi multikultural. Dengan penduduk beragam ras, Berlin menawarkan keunikan untuk seniman agar berkembang dengan modal otentisitas,” papar Tesla menjelaskan pandangannya tentang kota Berlin panjang lebar.

Tesla Manaf akan terbang ke kota Berlin di bulan Agustus nanti melalui ajang Pop-Kultur, sebuah acara yang menampung perkembangan musisi muda di kota Berlin. Keberadaan Pop-Kultur seakan menjadi oase segar bagi para musisi yang mencari agensi dan promotor serta label bergengsi di sana.

Pop-Kultur juga menjalin kerjasama dengan Goethe Institut di Jerman untuk membuka beasiswa bagi 10 orang dari 1200an pelamar dari bermacam penjuru dunia. Tesla Manaf menjadi yang pertama asal Indonesia, dan menjadi satu dari sepuluh orang yang akan berangkat ke Berlin pada periode 8-18 Agustus 2018 mendatang.

“Bagi saya, ini kesempatan besar untuk bertemu agensi dan promotor. Waktu yang tepat untuk ‘pitching’ dan ‘menjual diri’ bertaruh dengan segala kerja keras belasan tahun ini. Tak hanya musisi muda, tapi promotor dan agensi senior, jurnalis serta label dari penjuru dunia akan hadir untuk mencari bakat baru di acara Pop-Kultur ini,” terangnya tentang rencana yang disusun.

Nantinya Tesla Manaf akan tampil di beberapa klub lokal seperti Soda Club Berlin, Loophole dan Luftmenschen. Ia juga memiliiki jadwal tampil di kota Praha, di Republik Ceko yang akan diumumkan segera. “Tanpa gitar, saya bersikeras menampilkan bunyi yang saya sendiri asing sebelumnya. Kokoh di jalur eksperimental, penampilan solo saya kali ini di Eropa akan menjadi perubahan besar dalam kegiatan bermusik ke depannya,” ujarnya lagi.

Sebagai pemanasan sebelum bertolak ke Jerman, Tesla Manaf menggandeng Rio Abror telah menuntaskan sebuah tur yang diinisiasi oleh dirinya sendiri dan beberapa rekan di Malaysia, ke Malaysia dan Singapura pada akhir pekan kemarin, 26-30 Juli 2018 yang lalu. Tur promosi album Flex ini menyambangi beberapa tempat seperti Narrow Marrow (Penang), Khizanat (Ipoh), RAW Art Space (Kuala Lumpur), The Key (Malaka) hingga Goodman Arts Center (Singapura).

“Kami memberi suguhan elektronik eksperimental yang digawangi oleh musik dansa yang membuat kaki kita mengetuk, namun isi kepala tetap dipaksa berkelana,” tutup Tesla Manaf.

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: dokumentasi Tesla Manaf