Seniman asal kota Medan yang satu ini sedang merantau ke Bandung untuk mengenyam pendidikan formal di sebuah institusi seni ternama. Dia tengah jatuh cinta pada polaroid dan fotografi.

Masuk 10 besar program Siasat Trafficking – Europe Calling menjadi hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Seraya mengembangkan diri di Bandung, Tasya pun terus berproses dengan beberapa proyek berkeseniannya.

Usianya memang masih bisa dibilang belia, tapi jam terbangnya cukup lumayan. Sepanjang tahun lalu saja Tasya sudah berhasil menggelar dan mengikuti beberapa pameran. Berikut daftarnya:

(2017)
Karya instalasi & drawing ‘I DON’T WANNA SPEAK’, Platform61, Medan

Performance Art ‘Sun’ di acara musik Ali Robin ‘Iron Age’Cilanguk Art District, Bandung

Performance Art ‘Sublime’
Gedung FSRD ITB, Bandung

Apa kesibukan lain di luar kuliah seni rupa ?

Kuliah aja sih, dan sedang rencana untuk bikin beberapa project.

Project yang bagaimana ?

Foto, karena saya senang bermain di polaroid. Selain itu ada rencana mau membuat film pendek juga. Dan ingin mengerjakan riset tentang orangutan di Sumatera.

(Polaroid)

Bagaimana sih seni rupa di Bandung kalau dilihat dari kacamata anak rantau seperti kamu ?

Seni rupa di Bandung cukup individualis sehingga tidak ada festival yang memerlukan teamwork. Ini juga yang memberi kesan seni di Bandung seperti jalan diatas tread mill, terus berjalan tapi konstan, siapa yang capek engga kelihatan atau lanjut jalan dan nantinya diganti sama yang lain.

Kalau soal pelaku seni rupanya sendiri ?

Seni rupa di Bandung juga banyak diayomi oleh anak-anak muda yang cukup antusias dan didukung juga dengan para seniornya. Mungkin ini yang jadi penyebab Bandung terkenal akan kreativitasnya, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, selain Jakarta.

Secara keseluruhan Bandung itu kontemporer, individualis dan konseptualis juga.

Dari Medan ke Bandung, sengaja memilih kota tersebut karena seni rupanya ?

Justru karena enggak ada pilihan.

Maksudnya ?

Iya, awalnya mau kuliah di Jerman atau Perancis, tapi di tengah jalan tiba-tiba tidak diizinkan orang tua. Mereka juga awalnya tidak setuju ambil seni, mereka lebih setuju dengan pilihan seperti kedokteran hewan. Tapi karena ragu saya bisa sampai melewati tes SBMPTN. Akhirnya tes, lalu dapat di FSRD.

Lalu, kamu nyaman sejauh ini menjalankan pendidikan formal seni rupa ?

Sejujurnya tidak sih. Dari dulu saya itu tipe orang yang paling kurang nyaman untuk pendidikan formal.

(Painting)

Karena menurut kamu belajar soal seni itu tidak perlu lewat jalur formal kah ?

Tidak juga sih, sebetulnya tujuan kita harus dapat sarjana itu apa kalau menurut anda?

Saya tidak menekankan belajar seni secara formal itu tidak penting, tapi menurut saya enggak harus juga selama dia bisa membuktikan, tapi yang membedakan orang sarjana dengan yang tidak itu apa? Kemampuan persuasif kita, orang yang berpendidikan lebih bagus saja. Memangnya yang korupsi tukang angkot?

Kalau konteksnya pendidikan formal, tentu saya merasa tidak nyaman, karena ya memang saya tidak nyaman dengan sistem pendidikan formal. Apapun ceritanya karena sistem pendidikan formal yang bersifat memaksa dan sedikit brainwash, dan pendidikan formal menurutku dull your mind.

Jadi enggak begitu kreatif dan tidak berani menyatakan pendapat kita sendiri, padahal kalau menurut saya belajar sendiri lebih fun karena ada banyak cara yang otomatis bisa mengasah kreativitas sekaligus petualangan atau pengalaman hidup yang tidak bisa didapat dari pendidikan formal itu tadi.

Jadi, sebetulnya seni rupa pun enggak terlalu berkaitan dengan kehidupan kamu sehari-hari ?

I think art is related to everyone and to everything. The art itself is nature. Seni sudah pasti related dengan kehidupan sehari-hari karena seni itu sendiri adalah alam. Dan manusia itu dasarnya adalah alam.

(Face Painting)

Kalau merasa pendidikan formal tidak penting, kenapa ada niatan untuk kuliah di Eropa seperti apa yang kamu utarakan di atas?

Balik lagi ke pertanyaan apa pentingnya sarjana? Selain nilai persuasifnya? Ada ijazah kan? Kalau enggak ada ijazah mana dipandang orang. Mau enggak mau, pendidikan formal harus saya jalani.

Kenapa Eropa? Karena merasa lebih nyaman dengan sistem kerja mereka yang agak lebih teratur dan disiplin saja sih. Dan dari dulu, saya lebih senang bergaul dengan orang westerner karena merasa lebih cocok dan lainnya. Ditambah, saya penggemar seni klasik eropa.

Seni klasik Eropa yang bagaimana yang kamu suka?

Seni klasik ya semenjak adanya peradaban sampai sebelum kontemporer.

*) Tasya Merari adalah salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling untuk bidang visual.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Tasya Merari