“Sayup redup lalu malam terbit menyelimuti, banyakpun bintang, tapi kerap tersembunyi…”

Albert Simanungkalit dalam Degilzine menggunakan sajak di atas sebagai penggambaran skena musik di kota Medan, sekitar tahun 2004 atau 2005. Hampir tidak ada wadah yang bisa menaungi proses kreatif dalam bidang seni musik masa itu. Medan, kala itu hanya membicarakan band-band asuhan label raksasa dengan lirik-lirik yang terdengar “aduh” di telinga.

Perlahan-lahan kemudian ada pertobatan yang muncul di dunia musik Medan, keinginan berproses kreatif semakin besar dan mulai terlihat kesadaran di antara para musisi untuk menelurkan karya sendiri sebagai antitoksin dari band-band yang disinggung sebelumnya. Meski sedang berada di ‘zaman kegelapan’, pergerakan tetap ada, meliputi nama-nama yang terpinggirkan seperti Hairdresser on Fire, Korine Conception, SPR, Fingerprint, Dirty Jacket, The Cangis, hingga Ucok Munthe.

Lalu bagaimana Medan sekarang? Kendati sudah menghasilkan nama-nama ‘besar’, ternyata masalah ‘sorotan’ masih menjadi polemik. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya beberapa oknum penyelenggara acara yang membedakan status dan perlakuan band ‘lokal’ dan ‘nasional’, keengganan untuk memperluas jaringan atau berbagi, hingga masih buruknya sikap ‘tepat waktu’ dari musisi-musisi Medan itu sendiri. Padahal, nama-nama seperti Depresi Demon, Dispencer, Aurevoir, Just in Case, Jansen Ras Guru Patimpus, Lini Masa, Retired, The Clays, TBRX, Soerjakanta, F.E.M, Rumput, dan masih banyak lagi, memiliki nilai dalam karyanya.