Film Sekala Niskala memastikan jadwal tayang di bioskop nasional. Dibesut oleh sineas muda penuh bakat Kamila Andini, film ini sudah dapat disaksikan oleh para penikmat film di Indonesia mulai tanggal 1 Maret yang akan datang.

Sekala Niskala berkisah tentang persaudaraan erat antara dua anak kembar, Tantri dan Tantra, yang lahir dan tinggal di sebuah pedesaan di Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, film ini menggabungkan berbagai simbol dalam semesta kepercayaan serta unsur mistis yang kemudian dibawakan dengan sempurna oleh akting dan tarian anak-anak di banyak adegan dalam film ini.

Film Sekala Niskala sebelumnya telah berkeliling di beberapa festival film nagri. Hebatnya, film ini menjadi satu-satunya film perwakilan Asia di ajang Toronto Film Festival 2017. Kemudian sempat pula diputar di Busan, Tokyo dan Australia. Bahkan dalam ajang Asia Pasific Screen Awards, film kedua garapan Kamila Andini ini menyabet gelar juara untuk kategori Best Youth Feature Film.

Poster Film Sekala Niskala

Kamila Andini bekerjasama dengan Gita Fara dan Ifa Isfansyah, dua nama yang berperan sebagai produser di dibawah naungan Treewater dan fourcolours. Sedangkan untuk divisi talent, nama-nama seperti Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, dan Happy Salma adalah mereka yang diberi kepercayaan oleh Kamila Andini.

Proses penggarapan filmnya sendiro hampir memakan waktu 5 tahun lamanya. Dukungan agar film ini bisa selesai dan dirilis datang dari banyak pihak, diantaranya adalah Hubert Bals Fund, Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund, dan Cinefondation La Residence.

Kamila Andini merupakan seorang yang aktif di dunia perfilman Indonesia. Film debutnya The Mirror Never Lies (2011) diganjar penghargaan international di ajang 6th Asia Pacific Screen Awards 2012 yang digelar di Brisbane pada 23 November 2012 silam.

 

Sinopsis:

Suatu hari di kamar rumah sakit, Tantri (10 tahun) menyadari bahwa ia tidak memiliki banyak waktu dengan saudara kembarnya, Tantra. Kondisi Tantra melemah dan mulai kehilangan indranya satu per satu.

Tantra menghabiskan waktu terbaring di rumah sakit saat Tantri harus menerima kenyataan bahwa ia harus menjalani hidup sendirian.

Tantri terus terbangun tengah malam dari mimpinya menemui Tantra. Malam hari menjadi tempat bermain mereka. Di bawah bulan purnama Tantri menari; ia menari tentang rumah, alam, dan perasaannya.

Seperti bulan yang meredup dan digantikan matahari, begitu pula dengan Tantra dan Tantri. Bersama, Tantri mengalami perjalanan magis dan relasi emosional melalui ekspresi tubuh; antara kenyataan dan imajinasi, kehilangan dan harapan.

teks: Adjustpurwatama
foto: dok. Sekala Niskala