Bagi orang dataran tinggi, menapaki Pontianak untuk pertama kalinya mungkin bisa jadi hal yang sedikit menantang. Bagaimana tidak? Sengatan panasnya tidak main-main. Julukannya sebagai Kota Khatulistiwa merupakan penanda bahwasanya matahari akan selalu muncul tepat di atas kepala. Posisi kota tersebut di garis equator membuat para pendatang luar pulau harus rela menyesuaikan diri dengan usaha keras.

Tapi hal tersebut tentu saja tidak berlaku bagi para orang lokalnya. Seperti Reza Darwin, misalnya. Pria berusia 26 tahun tersebut tampak santai tanpa keringat mengucur saat saya menemuinya di sebuah kedai kopi bernama Ruang Tamu pada suatu siang yang terik. Ia adalah salah satu penggagas sebuah kolektif seni visual independen bernama Satuderajat.

“Awalnya saya dulu merintis sebuah production house, tapi waktu itu alat-alat yang saya punya sempat tidak terpakai lama sekali karena kondisinya stuck dalam hal ide. Lalu saat saya pergi ke Jakarta dan menetap beberapa lama untuk berjejaring, dan hasilnya mendapatkan beberapa pengalaman di Jakarta cukup membuka wawasan saya. Hingga saat saya pulang kembali ke Pontianak, rupanya band-band independent ini sedang banyak bermunculan disini. Saya bersama teman-teman pun sepakat untuk turut berkontribusi dalam pergerakan musisi-musisi tersebut dengan membantu mereka membuat aset-aset visual semisal video klip, dan membuat production house bernama Lantai Empat yang menjadi cikal bakal Satuderajat,” kata Reza menceritakan sejarah Satu Derajat.

Namun saat itu, Reza merasa bahwa idenya dalam berkarya di Lantai Empat selalu bertabrakan dengan keinginan para investor. Satuderajat yang resmi tebangun di sekitaran akhir tahun 2017 pun diciptakan agar bisa merealisasikan mimpinya: membuat sebuah wadah kolaborasi antar profesi di ranah industri kreatif.

“Di awal 2018, Satuderajat membuat sebuah film pendek bertajuk May. Selain menciptakan film itu sendiri, sebenarnya tujuan utama diproduksinya May adalah agar menjadi titik berkumpul para pelaku industri kreatif di Pontianak untuk berkolaborasi karena kami melibatkan aktor dan musisi lokal disana,” ungkapnya.

Membangun sebuah kolektif di Pontianak tidaklah luput dari yang namanya kendala. Ketersediaan ruang, etos kerja pelakunya, hingga minimnya dukungan pemerintah terhadap industri kreatif adalah beberapa daftar masalahnya.

“Perkembangan Industri kreatif disini bagus, kolektif-kolektif banyak bermunculan. Tapi, entah kenapa susah untuk sustainable. Yang pertama ketersediaan ruang yang minim, kedua banyak diantara teman-teman yang malas membangun jejaring koneksi dan hanya terfokus mencari uang, lalu terakhir, pemerintah seakan-akan menutup mata terhadap potensi-potensi anak muda disini,” seloroh Reza.

Bukti nyata bahwa pemerintah kota tidak mendukung terhadap kemajuan industri kreatif di Pontianak makin terlihat saat gelaran Hari Tari Sedunia di Pontianak tahun 2019. Sejumlah dosen Program Studi Seni Pertunjukan dan beberapa mahasiswa Universitas Tanjungpura mengalami kekerasan fisik maupun psikis dari kelompok ormas, dan aksi itu dipicu oleh salah satu penampilan tari yang dianggap mengandung konten lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Aksi kekerasan itu pastinya atas komando wali kota yang sekarang, tapi sampai hari ini, beliau tidak pernah meminta maaf atau mengklarifikasi hal tersebut,” ujar Reza yang sudah memulai karir sebagai video maker sejak 2008.

Kemampuan Reza dalam membangun konektivitas memang patut diacungi jempol. Seperti saat ia pertama kali menghadiri Rain Forest World Music Festival 2017 di Kuching, Malaysia. Hal itu berlanjut dengan diundangnya ia bersama teman-temannya untuk melakukan eksibisi di tahun berikutnya pada gelaran tersebut.

“Dari Festival tersebut, teman-teman di Pontianak jadi memiliki jejaring yang meluas, dari Malaysia hingga UK,” kisahnya.

Tidak berhenti di ranah seni visual, Reza dan Satuderajat juga sering terlibat di berbagai agenda-agenda sosial, semisal dalam usaha untuk mengubah stigma terhadap daerah Beting, yang dikenal sebagai “daerah beling” di Pontianak. Konon, Beting merupakan pusat peredaran narkoba, dan berbagai macam bentuk kejahatan terdapat disana.

“Dari mulai drug dealer, pembunuh bayaran, jambret, dan perampok memang ada disana, tapi tidak semua distrik. Masih ada orang baik disana. Masalahnya, stigma buruk sudah menempel disana. Bahkan, kalau alamat rumahmu di Beting, itu bisa susah dapat kerja di Pontianak,” ucap Reza menjelaskan. Karenanya, beragam kegiatan yang turut mengundang banyak orang digalakan disana, seperti konser Manjakani pada tanggal 28 September 2018, misalnya.

“Manjakani adalah band yang pertama kali konser di Beting, waktu itu lokasinya di tepian sungai Kapuas. Beragam kegiatan lainnya juga sering dilakukan disana,” cerita Reza. Respon masyarakat terkait kegiatan-kegiatan tersebut pun ia katakana sangat positif.

“Meski banyak orang jahat disana, tapi masih banyak juga orang baiknya, dan kami lewat kegiatan-kegiatan kami disana, sebenarnya berusaha mengatakan kepada anak muda disana, bahwa masih banyak jalan untuk bersenang-senang. Jangan pernah memilih langkah illegal,” tambahnya.

Reza Darwin dan Satuderajat, dengan berbagai kendala yang merintangi di kotanya, berkeinginan untuk selalu konsisten dalam mengharumkan nama Pontianak. Panasnya kota Khatulistiwa, rupanya sebanding dengan panasnya gejolak pergerakan kaum mudanya.

Teks: Rizki Firmansyah
Foto: Arsip Reza Darwin