Samsara, band yang memainkan indie pop ini, dibentuk tahun 2015 di Pekanbaru. Ada tiga personilnya; Lia pada vokal dan synth, Elot di drum dan Topik si pemain gitar. Dua tahun setelahnya, Samsara berhasil menelurkan album debutnya dengan judul Album Pertama.

Dari sana Samsara terus bergerak. Sampai saat ini mereka masih rajin mempromosikan Album Pertama. “Untuk kesibukan kami masih dengan panggung-panggung di event lokal Pekanbaru, sambil mengerjakan video klip baru dan mencicil beberapa lagu baru untuk mini album akhir tahun ini,” ungkap Elot.

Mereka mengaku tidak sulit untuk menawarkan rasa baru di kancah musik Pekanbaru. Tanggapan atas musik mereka juga menyenangkan. Meski menjadi satu-satunya band yang memainkan musik indie pop disana, Samsara dengan luwes mampu bersanding dan tampil bersama dengan band-band lainnya.

“Respon publik lumayan positif, banyak dari kalangan di luar scene juga yang senang. Karena lagu milik Samsara memang dikerjakan untuk bisa diterima di telinga orang banyak, biar gampang masuknya. Dan kalau di Pekanbaru untuk indie pop tergolong masih baru, bahkan bisa dibilang hanya Samsara saja yang mengusung indie pop saat ini,” terang Elot lagi.

Semangat kolektif di Pekanbaru saat ini digambarkan cukup meriah. Tidak peduli genre dan pengkotak-kotakan didalamnya, kancah musik disana bergerak bersama. Kata Elot, biarpun lintas genre dan lingkaran pertemanannya berbeda, semua pihak berjalan bersama sambil saling dukung.

Optimisme pun menyeruak. Angin segar berhembus kencang di Pekanbaru menyambut ini semua. “Tahun ini kami optimis sekali akan ada banyak band Pekanbaru yang merilis album sendiri. Sedangkan untuk acara, Pekanbaru juga sedang bersemangat karena para pelaku di dalamnya, para pegiat seni dan gigs, terus melahirkan regenerasi baru, itu semua yang membuat kami optimis.”

Samsara dan Elot memang bisa dibilang menjadi salah satu gerbong yang menyulut semangat di Pekanbaru. Bahkan Elot, memiliki sebuah label yang dijalankan secara mandiri. Namanya Cuma-Cuma Records, yang siap dijadikan wadah bagi band-band lokal Pekanbaru untuk produksi dan distribusi karya.

Kendati semarak, kancah musik Pekanbaru bukan tanpa masalah. Diakui Elot, kini memang Pekanbaru kekurangan tempat untuk menggelar pertunjukan untuk musik-musik alternatif. “Untuk menyewa gedung pertunjukan biayanya tidak sedikit dan prosesnya bertele-tele. Semoga banyak kolektif yang dapat menciptakan ruang-ruang mandirinya sendiri,” Elot menambahkan.

Perwakilan Samsara ini pun merasakan sebuah sinergi antara semangat di kotanya dan apa yang dibawa oleh Siasat Partikelir, khususnya pada program Siasat Trafficking – Europe Calling ini.

Kalau di Pekanbaru kini banyak band yang tengah semangat merilis karya, Siasat Partikelir dianggap mampu mengakomodir semangat tersebut, guna mengembangkan dan membantu menyebarluaskan beritanya. Semua berhubungan.

“Kami senang dengan Siasat Partikelir. Semangatnya sama dengan kami disini, keren pokoknya. Pun disini kami juga terbantu untuk melakukan promosi lewat banyak program yang ada di Siasat Partikelir,” jelasnya.

Pekanbaru sendiri diwakili oleh dua nama di program Siasat Trafficking – Europe Calling. Selain Samsara, juga ada nama Cigarettes Wedding. Kini mereka menaruh harap sebagai representasi geliat kancah Pekanbaru.

“Ada dua band dari Pekanbaru yang lolos ke 10 besar program Siasat Trafficking – Europe Calling. Tentu ini menjadi trigger untuk banyak band lainnya di kota kami agar lebih semangat lagi dalam berkesenian dan merilis karya. Kalau salah satunya bisa menang dan berangkat, tentu ini menjadi hal positif dan berita besar bagi scene musik di Pekanbaru. Secara langsung atau tidak, tentu akan membawa dampak yang berarti bagi kota Pekanbaru.” tutupnya.

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Samsara