Selesai dari Luxembourg, Rubah Di Selatan melanjutkan perjalanan menuju kota Lille di Prancis. Perjalanan sekitar lima jam akan membawa rombongan tiba pukul tiga sore. Sementara, tiga puluh menit kemudian, sound check sudah harus dilakukan. Waktu yang mepet lumayan bikin grasak-grusuk.

Pertunjukan terjadi di Maison Folin Moulins, sebuah distrik seni yang juga dilengkapi dengan jejeran ragam bar di dalamnya. Sesampainya di sana, Rubah di Selatan langsung mempersiapkan alat dan mengecek segala lini agar tidak ada yang terlewat untuk penampilan malam harinya. Setelah dua jam, semuanya beres. Siap beraksi malam ini.

(Lille)

Sembari menunggu Lena Duxe, kontak yang mengatur banyak hal di penampilan Rubah di Selatan di Lille, beberapa personil memilih untuk jalan-jalan di sekitar venue.

Peran Lena besar. Dari mulai mencarikan venue dan acara, sampai merekomendasikan makanan enak yang ada di kotanya. Lena adalah tipikal pribadi yang gampang cocok dengan orang lain, ramah, penuh gaya, bicaranya santai dan punya wawasan luas.

Lena Deluxe juga kebetulan memiliki hubungan yang lumayan dalam dengan Jogjakarta, di mana pada tahun 2016 dan 2017, dirinya pernah sekitar tiga bulan berada di kota itu. Ia merekam musik dari beragam alat musik tradisional dengan bantuan beberapa musisi Yogyakarta.

(Lena Deluxe – Rubah Di Selatan)

Tepat pukul delapan malam acara dimulai. Penonton mulai berkumpul di bibir panggung dan memadatinya untuk menyaksikan Lena Deluxe yang malam itu memanaskan suasana sebelum Rubah di Selatan naik panggung. Di salah satu bagian setnya, Lena secara tiba-tiba mengajak pemain perkusi Roni untuk berkolaborasi diatas panggung. Tanpa pikir panjang Roni pun mengiyakan. Musik kembali berbicara banyak, sinerginya bisa begitu luas dan menumbuhkan rasa saling percaya.

(Lena Deluxe – Roni Rubah Di Selatan)

Riuh tepuk tangan penonton mengakhiri penampilan Lena Deluxe malam itu, seraya menyambut Rubah di Selatan mengambil alih pentas. Hampir sama dengan panggung-panggung yang dijalankan sebelumnya, Rubah di Selatan tampil memukau. Meski gitaris Gilang sempat kehilangan suaranya karena lelah di perjalanan, dengan elegan mereka mampu membius penonton yang hadir malam itu.

(Rubah Di Selatan – La Bulle Cafe)

Secara teknis dan apresiasi dari penonton, mungkin bisa dibilang penampilan di La Bulle Cafe ini menjadi yang terbaik selama perjalanan tur kali ini. Bahkan hingga usai turun panggung, keempat personil Rubah Di Selatan tidak henti-hentinya disapa oleh para penonton dan dengan sendirinya punya banyak sesi berbincang-bincang. Lille sungguh memuaskan, mereka tahu betul bagaimana cara mengapresiasi sebuah karya dengan baik.

(Rubah Di Selatan – La Bulle Cafe)

Usai tampil, keesokan paginya, rombongan Rubah di Selatan memutuskan untuk menuju Paris. Kurang afdol rasanya memang bila ke Prancis namun tidak mengunjungi kota itu. Di sana mereka memanfaatkan waktu kosong untuk berjalan-jalan dan melihat serta menyadari bagaimana kota Paris ternyata tidak seindah di film atau foto.

(Gare Du Nord – Paris)

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Adjust Purwatama