Usai tampil di Amsterdam pada 1 Juli 2018, Rubah di Selatan dijadwalkan untuk berpindah ke Luxembourg City, kota berikutnya. Perjalanan sekitar lima jam harus dilalui dengan kereta antar negara.

(Malinda – Luxembourg City)

Rombongan tiba siang hari sekitar pukul sebelas. Dibandingkan dengan Amsterdam, cuaca di sini cukup bersahabat. Tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin. Takarannya pas untuk musim panas eropa.

Sesampainya di Stasiun Luxembourg Central Siang itu, rombongan dijemput oleh Jay, program manager Konrad Café, tempat yang akan menjadi lokasi pertunjukan Rubah di Selatan di kota ini. Dalam obrolan perkenalan, ia menyarankan agar kami berjalan kaki ke mana-mana, karena Luxembourg City bukanlah kota yang besar. Itu jauh lebih baik ketimbang menggunakan transportasi umum, yang menurutnya cukup mahal dan lumayan ribet rutenya.

(Rubah di Selatan – Luxembourg Central Station)

Ada waktu kosong, rombongan Rubah Di Selatan masih memiliki waktu istirahat yang cukup. Empat orang berpisah dengan tujuan masing-masing. Gitaris Gilang menuju Rockhal untuk menonton show band metal Gojira, vokalis Malinda berjalan-jalan ke taman yang tidak terlalu jauh dari penginapan, sementara pemain perkusi Roni dan kibordis Adnan sepakat untuk mencari makanan cina untuk berkompromi dengan selera perut.

(Luxembourg City)

Setelah puas dengan agenda masing-masing, keesokan harinya, Jay kembali menjemput untuk mengangkut alat-alat Rubah Di Selatan dengan mobil sedan putihnya dari penginapan ke Konrad Cafe. Sementara itu, para personil berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk menuju kawasan Rue Du N, kawasan penuh turis dan pusat perbelanjaan dimana Konrad Cafe berada.

Sesi soundcheck hari itu berjalan mulus tanpa hambatan. Kali ini Rubah di Selatan dibantu oleh soundman lokal bernama Gustav, asalnya dari Serbia. Pria ramah ini menolong banyak keperluan Rubah di Selatan dengan cekatan. Ia juga sungguh ramah senyum. Hal-hal seperti ini yang kian membuat semangat sebelum naik panggung. Jay mengatakan bila tidak hujan, akan banyak orang yang datang ke acara malam itu. Sayang hari itu hujan.

(Rubah di Selatan – Konrad Cafe)

Spesial di Luxembourg City, untuk pertama kalinya Rubah di Selatan memutuskan untuk membawakan lagu berbahasa Indonesia di tur ini, tidak seperti di Amsterdam kemarin. Selesai dikumandangkan, sebuah lagu berjudul “Mata Air Mata” disambut cukup meriah oleh mereka yang datang. Ini dia fungsi utama musik, menembus banyak batasan.

(Rubah di Selatan – Konrad Cafe)

Luxembourg City diakui oleh para personil Rubah Di Selatan meninggalkan kesan yang begitu dalam kepada mereka. Suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar seperti Amsterdam, mendatangkan ketenangan yang lebih mereka suka. Juga untuk banyak keramahan yang ada di dalamnya, membuat harapan agar bisa kembali lagi ke Luxembourg City di lain waktu tetap terjaga.

(Luxembourg City)

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Adjust Purwatama