Bila di Belanda, Luxembourg dan Prancis semua pentas berjalan mulus dan nyaris tanpa hambatan yang berarti, perjalanan ke Jerman justru sebaliknya. Ini pasti diangguki tanda setuju oleh semua personil Rubah di Selatan. Ada beberapa drama di rute lanjutan Paris ke Munchen. Akibatnya, konsentrasi pun terpecah.

Sejak pagi hari, rombongan sudah terbagi dua. Dari Stasiun Gare d l’Est di Paris kloter pertama yang dihuni oleh Roni (perkusi), Adnan (kibor) dan Adjust (dokumentasi) berhasil mengejar kereta antar negara menuju Munchen Hbf. Sedangkan sisanya, Malinda (vokal), Gilang (gitar) dan Yulio (roadman) harus berpisah karena ketinggalan kereta yang aslinya dijadwalkan berangkat pagi hari sekitar pukul 7.

“Setidaknya setengah selamat,” pikir rombongan ini.

Permasalahan kemudian muncul ketika jadwal kereta Paris-Munchen yang berikutnya di jam 11 siang sudah ludes terjual. Malinda, Gilang dan Yulio kemudian panik seketika, mendapati adanya kemungkinan mereka tidak bisa sampai di Munchen tepat waktu. Sebab, Rubah di Selatan dijadwalkan tampil tepat pukul 8 malam di kota Munchen. Sambil mencari opsi-opsi lain mereka berunding, bila naik bus lama perjalanannya memakan 12 jam, sedangkan pesawat harganya sangat tinggi.

(Marienplatz, Munchen)

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya mereka memutuskan untuk naik kereta pukul 3 sore dari Paris, estimasinya tiba tepat pukul 8 di Munchen Hbf, tak apa telat sedikit daripada tidak sampai sama sekali. Harga tiket yang melambung tinggi, membuat persediaan Euro di kantong pun lenyap seada-adanya. Alhasil, Malinda, Gilang dan Yulio harus menahan lapar dan haus selama melintasi Paris ke Munchen, tanpa mandi dan badan yang lengket.

Kloter pertama tiba di Munchen tepat waktu, pukul 2 siang. Tapi tunggu dulu, mereka sampai di sana juga bukan tanpa masalah. Tempat menginap yang sudah direservasi ternyata harus dibatalkan sepihak oleh pihak hotel. Roni, Adnan dan Adjust kalang-kabut mencari penggantinya. Terbayang berkeliling kota Munchen dengan beberapa hardcase, menggotong dari satu stasiun ke stasiun berikutnya. Sangat melelahkan.

Dalam keadaan sama-sama nahas seperti ini, keputusan hanya bisa diambil lewat komunikasi via layar handphone. Rombongan pun menemukan kata sepakat yang isinya, kloter pertama langsung menuju venue di Eine Welt Haus, tempat malam itu Zommerfest diselenggarakan. Sambil melobi panitia untuk memundurkan sedikit jam tampil, dan kloter kedua mesti harus bergegas setibanya di Munchen Hbf menuju Eine Welt Haus.

(Rubah Di Selatan, Eine Welt Haus – Munchen)

Musim panas yang membuat langit pukul 8 malam masih terang benderang, membuat keringat mengucur lebih deras dari biasanya bagi rombongan kloter dua. Tiba di Munchen Hbf, mereka langsung berlari menuju Eine Welt Haus, untung jaraknya tidak terlalu jauh. Satu kali naik tram dan berjalan sekitar 15 menit.

(Rubah Di Selatan, Eine Welt Haus – Munchen)

Sampai di Eine Welt Haus, kloter pertama sudah selesai melakukan soundcheck seadanya karena minus dua personil. Tapi memberikan penampilan terbaik adalah harga mati dan tidak bisa ditawar. Rubah di Selatan punya mental luar biasa untuk ini, tidak peduli seberapa lelah mereka, ruangan yang sudah dipenuhi oleh beberapa bule dan orang-orang Indo yang tergabung dalam Swadaya Indonesia-Munchen berhasil dibuat tercengang oleh penampilan mereka.

Setlist tidak banyak berubah, meski terlihat cukup kelelahan, namun Rubah di Selatan tampil maksimal. Tepuk tangan kembali bergemuruh usai mereka turun panggung seperti di beberapa panggung sebelumnya, pujian demi pujian dilayangkan oleh banyak orang. Tentu saja perjalanan panjang yang melelahkan terbayar lunas oleh ini semua.

(Rubah Di Selatan, Swadaya Indonesia – Munchen, PPI Munchen)

Yang paling bikin sumringah di Munchen adalah banyaknya masakan Indonesia yang disajikan oleh panitia. Usai berhari-hari menyantap burger, kentang goreng, dan bermacam makanan barat lainnya, Rubah di Selatan sudah ditunggu bermangkuk-mangkuk soto betawi selesai tampil. “Ini baru makanan nih,” ceplos gitaris Gilang kegirangan. Semua ditandaskan sampai tuntas, tidak ada yang tersisa. Makanan asli Indonesia memang memiliki tempat tersendiri di hati.

Dengan berakhirnya panggung di kota Munchen ini maka berakhir juga rangkaian tur Siasat Trafficking – Europe Calling hasil kolaborasi Siasat Partikelir dan Rubah di Selatan selama 10 hari mengarungi benua Eropa lewat jalur darat. Banyak cerita dan pelajaran yang harus dibagikan, semoga pengalaman baik ini bisa terus berlanjut dan kembali membuka pintu-pintu yang baru.

(Ronnie – Allianz Arena, Munchen)

*) Perjalanan ini merupakan kerja kolaborasi antara Siasat Partikelir dan Go Ahead Challenge (GAC).

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Adjust Purwatama