Rubah Di Selatan, pemenang Sound Trafficking untuk program Siasat Trafficking – Europe Tour, bertolak dari Jakarta menuju Amsterdam pada 1 Juli 2018. Kota itu jadi tujuan pertama sekaligus pembuka tur ini.

(Rubah Di Selatan – Schipol Airport)

Agenda pertama adalah tampil di festival A Day in the Forest, sebuah festival musik dengan latar alam terbuka di Landgoed de Paltz, Soest, desa yang terletak sekitar satu jam dari Amsterdam. Suasananya memang sunyi, namun punya geliat musik yang bergairah.

(Landgoed de Paltz)

Rubah Di Selatan disambut cuaca yang bersahabat setibanya di Soest. Siang harinya 22 derajat, cukup sejuk. Melihat suasana sekitar dan berkeliling, serta bercengkrama dengan para peggiat di sana mereka lakukan dengan senang gembira. Marnix Dorrenstein sang pemilik festival, menyambut Rubah Di Selatan dengan sajian bir lokal yang membuat suasana semakin hangat.

(Marnix Dorrenstein)

Sore itu Marnix juga tampil bersama kekasihnya lewat sebuah sesi akustik yang syahdu. Di A Day in the Forest sendiri, Rubah Di Selatan dijadwalkan tampil pukul 8 malam hari. Festival itu punya tiga panggung; panggung utama, indoor stage dan sebuah ruangan yang dioperasikan oleh sejumlah DJ lokal yang menambah semarak suasana pesta.

(Rubah Di Selatan – A Day in the Forest Festival)

Dalam sebuah set 40 menit yang diberikan, Rubah Di Selatan berhasil memukau penonton. Beberapa lagu yang dibawakan, macam “Rainbow After Rain”, “Water”, “Malicious Time” dan “Lil Fox” mengundang decak kagum para penonton yang cukup memenuhi ruangan indoor stage. “Leaving Anthera” menutup set Rubah Di Selatan malam itu. Seisi ruangan pun menghadiahi tepuk tangan meriah mengapresiasi penampilan mereka.

Usai tampil, yang paling ditunggu adalah sesi bercengkrama dengan para musisi lokal. Kegiatan ini dimanfaatkan betul oleh mereka dengan bermacam obrolan. Bertukar referensi mulai dari soal teknis, hingga apa-apa saja yang menjadi favorit dari masing-masing menjadi topik pembicaraan yang terus mengalir hingga cukup larut malam. Tepat pukul satu malam, Rubah Di Selatan pun kembali ke kota Amsterdam. Panggung pertama tuntas.

(Rubah Di Selatan – Red Light Radio)

Hari kedua di Belanda agendanya cukup lenggang. Mereka hanya akan menjalani sebuah sesi wawancara di Red Light Radio, sebuah radio berbasis komunitas terbesar yang ada di Amsterdam, terselip di kawasan Red Light District yang kesohor itu.

Vokalis Malinda dan gitaris Gilang menjadi juru bicara selama berada di Red Light Radio. Banyak yang dibicarakan tentunya, juga tak lupa menyiarkan beberapa lagu Rubah Di Selatan. Sesi yang berdurasi satu jam itu berjalan mulus.

Usai dari sana mereka menjalankan agenda pribadi masing-masing personil. Ada yang berkeliling hanya untuk sekedar berfoto-foto, ada yang menuju Volendam, sebuah desa kecil yang dipenuhi banyak kincir angin sebagai simbol negara Belanda, hingga mengunjungi beberapa museum.

Salah satunya pemain gitar Gilang yang senang bukan kepalang saat dirinya mendapati jadwal kunjungan ke Belanda ini bertepatan dengan jadwal pameran dari Banksy, seniman grafiti anonim asal Inggris. Ia menghabiskan sore di Moco Museum, tempat pameran berlangsung.

(Gilang – Banksy, Moco Museum)

 

(Amsterdam)

Agenda di Belanda pun usai sudah. Dua hari berhasil dimanfaatkan dengan baik pula maksimal. Besok hari, pada 3 Juli 2018, Rubah Di Selatan melanjutkan perjalanan ke Luxembourg Cty untuk panggung kedua mereka di tur kali ini. (*)

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Adjust Purwatama