Nama Rubah dari Selatan mulai mencuri perhatian. Malinda (vokal), Ronie Udara (perkusi), Gilang (gitar, vokal latar) dan Adnan (kibor), dengan nama Rubah di Selatan, dikenal kerap kali memasukan unsur-unsur kelokalan Yogyakarta karya mereka.

Tengok saja dua diantaranya, lagu “Merapi Tak Pernah Ingkar Janji” tentang pengalama menapaki Gunung merapi dan melihat sisa-sisa letusannya, kemudian “Mata Air Mata” yang mengangkat kisah Kanal Yoshiro (selokan Mataram), sebuah upaya penyelamatan warga Yogyakarta di masa lalu atas sistem kerja paksa romusha di era penjajahan Jepang.

Bahkan ketika sepakat untuk mendirikan band ini, nama Rubah di Selatan dipilih karena mewakili domisili mereka saat itu, daerah Yogyakarta bagian selatan. Diwakili oleh Ronie, Siasat Partikelir kemudian berbincang panjang lebar mengupas Rubah di Selatan dan nilai luhur yang mereka anut.

“Karya kami adalah bentuk kekaguman atas Yogyakarta sebetulnya. Banyak ketidaktahuan kami tentang Yogyakarta pada mulanya, lalu terlibat kedalam bermacam proses didalamnya,” Ronie mengutarakan.

Sedikit demi sedikit mereka mulai mempelajari apa itu Yogyakarta dan beragam cerita di dalamnya. Dari yang awalnya hanya sekedar tertarik, kemudian secara simultan merangsang ide-ide dalam proses berkarya dari Rubah di Selatan. Inspirasi memang selalu datang tidak jauh dari tolehan kepala.

“Kami semua kebetulan satu kampus dulu. Dua dari jurusan Etnomusikologi, dua lagi jurusan Desain Komunikasi Visual. Berangkat dari sana, kemudian kami berpikir tentang menggabungkan musik dan visual art. Kami sepakat, setiap tampil, kami akan selalu mengkolaborasikan kedua unsur tersebut.” paparnya lagi.

Terjemahannya sederhana: Dalam visual panggungnya, Rubah di Selatan secara konsisten selalu membawa pesan tentang Batik Nusantara, sebagai sebuah sebuah kontribusi upaya untuk melestarikan budaya batik dalam negeri.

Apa yang membuat mereka tertarik dengan isu-isu lokal ini sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan banyak orang lain yang juga pendekatan sama. Titik temu antara musik dan tradisi adalah kuncinya, mereka terinspirasi dengan hal yang sifatnya adiluhung. Yang membuat Rubah di Selatan menjadi berbeda adalah keberanian untuk mengeksekusi semua ide yang ada di kepala. Semua digali sampai ke dasar dan sisi-sisi menariknya dipresentasikan dalam karya.

Misalnya saja, pada 3 Maret 2018 yang lalu, mereka membuat pertunjukan bertajuk Rubah Lost In Puppets. Pertunjukan musik dengan kolaborasi Wayang di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Kenapa kolaborasi musik dengan wayang yang dipilih? Ronie menilai bahwa wayang memiliki kesan membosankan dan tua di kacamata masyarakat saat ini. “Dari yang banyak aku lihat, wayang semacam terkesan jauh dengan mereka yang ada di masa kini. Untuk itu, kami hanya berusaha untuk memutus jarak tersebut dan membawa wayang kembali hadir dalam bentuk yang bisa diterima di zaman sekarang,” terang Ronie.

Kembali tentang asal muasal Rubah di Selatan. Band ini dibentuk pada tahun 2015 telah menghasilkan sejumlah single, diantaranya ada “Water”, “Rainbow After Rain”, “Istana Dukaria”, “Leaving Anthera” dan dua yang sudah disebutkan di awal tadi. Albumnya sedang dikejar untuk diselesaikan tahun 2018 ini.

Kendati pendatang baru, namun untuk urusan penggalian ide, bisa ditelaah lebih lanjut. Mereka selalu total saat mencipta. Ambil contoh, ketika mempersiapkan konser Rubah Lost In Puppets, mereka mati-matian menggarap 40 wayang dengan kelir (screen) sendiri dalam tokoh dan bentuk yang baru, guna mendukung konsep cerita dan pertunjukan. Membayangkan membuat 40 wayang saja sudah ribet, apalagi membawa pementasan musik dan wayang ini ke kota lain?

Usai sukses menggarap Rubah Lost In Puppets mereka malah kian tertarik dengan proses di baliknya. Mereka menyadari bahwa tradisi itu sangat besar dan kuat serta megah. “Dari sana kami penasaran ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang dunia sekarang yang sebetulnya mampu lebih keren dengan adanya tradisi yang masih kita junjung. Wacana ini pula yang menjadi benang merah perancangan album perdana kami nanti,” ujarnya lagi.

Dengan misi jelas di dalam kepala, Rubah Di Selatan pun giat mencoba berbagai macam cara untuk memperkenalkan musik mereka ke publik yang lebih luas, termasuk melintasi batas geografis negara. Salah satunya lewat program Siasat Trafficking – Europe Calling.

“Kami berempat melihat program ini sebagai sebuah solusi yang luar biasa. Dari tempat kami berasal, yaitu Yogyakarta bagian selatan, kami ingin membawa suatu hal yang dekat dengan kami, yaitu kearifan kedalam karya menuju dimensi yang lebih jauh lagi, ke masyarakat yang lebih luas lagi dan mereka yang berbeda dengan kami secara kultural. Kami ingin mengetahui bagaimana pengaruhnya karya kami disana. Lalu, yang paling menarik, akan seperti apa dampak yang bisa lahir dan kami manfaatkan untuk musik di Indonesia. Sama seperti kami, program Siasat Trafficking – Europe Calling ini tidak main-main ya tentunya, kami sudah mematangkan untuk itu,” jelas Ronie.

Rubah Di Selatan masuk dalam fase 10 Besar program Siasat Trafficking – Europe Calling. Sesuai janji kami sebelumya, mereka yang ada di babak 10 Besar ini akan kami kupas satu persatu. Jadi, terus pantau situs siasatpartikelir.com untuk yang lainnya, jangan sampai terlewat!

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Dok. Rubah Di Selatan