Konser ‘Nyanyian Anak Bintang’ dihelat pada hari Minggu (28/1). Sebuah pentas yang menghadirkan para anak berbakat untuk membawakan lagu-lagu karangan mereka sendiri, sekaligus menjadikan acara ini sebagai “release party” dari album Nyanyian Anak Bintang.

Adalah Komunitas Rumah Bintang yang menjadi inisiator dari ide kreatif ini. Anak-anak yang terlibat merupakan warga Gang Nangkasuni, Wastukencana, Bandung yang memang sehari-hari sering belajar di Rumah Bintang. Mereka adalah Dries Putra Hadiyat (kelas 1 SD), Kaisya Nikita Sukma Yudha (kelas 3 SD), Tri Ananda Bayu Nita Yani (kelas 6 SD) , dan Daffi Almeron (kelas 2 SD), empat anak yang paling menonjol dalam bidang musik dari puluhan anak lainnya.

IFI Bandung menjadi tempat diselenggarakannya konser ‘Nyanyian Anak Bintang’ ini. Ruangannya yang tidak terlalu besar dirasa pas dan sangat nyaman untuk menyaksikan anak-anak tersebut membawakan karya yang mereka ciptakan sendiri ini.

Ruangan disulap sedemikian rupa sehingga menyerupai taman bermain khayalan anak-anak, menjadi daya tarik tersendiri sebagai penunjang performa anak-anak Rumah Bintang diatas panggung.

Konser ini memang sengaja dihadirkan secara tidak biasa. Anak-anak Rumah Bintang kedatangan bintang tamu macam Sky Sucahyo, Sigit (Tigapagi), Oscar Lolang, Jon Kastella, Mas Dahlan, Dimas (Mr. Sonjaya), Sendi (Parahyena), Senartogok dan Dua Sejoli.

cover album kompilasi ‘Nyanyian Anak Bintang’

Mendengarkan mereka bersama-sama bernyanyi lagu anak-anak dari berbagai era adalah pengalaman yang jarang ditemukan saat ini. Anak-anak Rumah Bintang sukses membuat para penonton bernostalgia akan masa kecilnya masing-masing. Juga tak jarang gelak tawa terdengar membahana seisi ruangan karena melihat aksi anak-anak yang polos dan lucu sedang menghibur dari atas panggung.

Lagu yang diciptakan oleh anak-anak Rumah Bintang sendiri terdengar sangat jujur dan apa adanya. Seperti pada nomor “Papua”, ada bait yang berbunyi, “Hey Papua, aku dari Jawa. Kita itu sama, tidak ada beda“. Kemudian lagu “Petani” yang sederhana, “Terima kasih para petani, di hari esok kita makan nasi lagi”.

Salah satu yang paling menyentuh hati. Karena kepedulian kepada para petani tidaklah melulu tentang harus mengetahui bagaimana cara mereka bercocok tanam, arus bisnis industri pangan, tingkat kesejahteraan petani, namun ada hal kecil yang kadang suka luput dilakukan, yaitu menghargai setiap butir nasi yang kita makan.

Konser dan album persembahan anak-anak Rumah Bintang ini memberi bukti nyata. Ditengah derasnya laju perkembangan teknologi dan modernisasi, rasa was-was dari banyak orang tua tentang tumbuh kembang anaknya, hingga fakta mengejutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir sangat jarang album bertema anak yang dirilis, mereka yang berada dibawah payung Rumah Bintang setidaknya mampu menepis ketakutan tersebut.

Mereka tidak harus terbawa arus zaman, mereka masih ingin berucap jujur, mereka tidak tergantung dengan bermacam jenis piranti dan menjadi manja, dan yang paling penting, mereka benar-benar mampu menciptakan sebuah harmonisasi yang berangkat dari dalam hati.

Konser Nyanyian Anak Bintang juga seakan menjadi pengingat bahwa perihal kecil seperti “Berkarya haruslah jujur,” belum menjadi sebuah kalimat yang usang di masa kini.

teks: Adjustpurwatama
foto: Andika Pramulia