Kuncir Sathya Viku berasal dari Bali. Karya-karyanya terinspirasi dari budaya kuno milik Bali. Meski banyak dianggap tabu, Kuncir menyajikannya dalam bentuk yang lebih pop.

Ia menikmati perjalanannya sebagai seniman. Karena berkarya harus dijalankan sepenuh hati menurutnya, asal restu orang tua sudah turun, ia berjalan dengan percaya diri tanpa peduli omongan orang lain.

Jebolan sebuah institut seni di Bali ini bercerita panjang tentang pengaruh budaya Rerajahan Bali kepada Siasat Partikelir dan bagaimana pengaplikasiannya kedalam karya yang ia buat. Kuncir juga sejauh ini cukup rajin berpartisipasi di banyak pameran di Bali.

(2016)
Modern Myth
Artotel Sanur, Bali

(2017)
DK0361
Alleyway Café Denpasar, Bali

Black Market
Kerobokan, Bali

Streetartsy
Mahaart Galery Denpasar, Bali

Ruang Gembira
Two Fat Monks Denpasar, Bali

Mural Pasca Panen
Kulidan Kitchen Gianyar, Bali

Suddenly Pameran
Nu Foam Coffee Denpasar, Bali

Apakah anda seorang seniman yang berangkat dari sekolah seni sebelumnya?

Dulu kuliah di ISI Denpasar, jurusan Desain Komunikasi Visual.

Untuk kesibukan sehari-harinya seperti apa sekarang?

Sekarang bekerja sebagai ilustrator. Kebanyakan desain grafis, sibuknya banyak di seputaran itu saja sih saat ini.

(Aksaralipi)

Karya-karya yang kamu ciptakan cukup menarik dan unik. Inspirasinya darimana? Seperti pemilihan karakter yang ada di karyamu?

Inspirasinya dari Rerajahan Bali. Jadi itu sejenis manuskrip kuno dari leluhur yang didalamnya menggabungkan ilustrasi dan aksara Bali yang berfungsi sebagai magic spell. Kalau yang karyanya seperti saya, sebetulnya di Bali sendiri cukup banyak ya. Yang membedakan adalah pendekatan saya lebih pop. Isu yang saya angkat related dengan keadaan sosial sekarang, berita yang saya baca atau pengalaman sendiri.

Apa itu Rerajahan Bali?

Rerajahan itu produk budaya Bali. Local genius. Jadi sesuai dengan keyakinan masyarakat Bali, Rerajahan ini banyak digunakan dalam upacara adat, sarana pengobatan, ilmu kiri dan ilmu kanan.

Rerajahan berupa simbol yang digabungkan dengan aksara dan mantra tertentu sesuai dengan fungsinya. Rerajahan bisa diibaratkan seperti tato dengan konteks berbeda karena ada pakem yang harus diikuti dan bersifat sakral.

Kenapa tertarik dan memilih Rerajahan Bali sebagai fondasi dalam berkarya?

Alasan saya karena yang pertama hal in masih dianggap tabu oleh banyak orang-orang di Bali yang enggak mau mandalaminya, padahal ini salah satu budaya yang harus dilestarikan. Kedua, karena saya cenderung melawan kalau sudah dilarang. Karena rerajahan ini warisan berharga asli Bali. Kasihan kalau hanya disimpan dan ditabukan. Saya bawa ke (kemasan) pop sebagai jembatan untuk generasi sekarang. Memperkenalkan kembali warisan itu dengan keadaan zaman sekarang.

(Anti-Workday)

Agar mereka yang sekarang bisa mengetahui tentang Rerajahan bali ya berarti. Atau minimal bisa menoleh ke budaya yang satu ini, makanya dikemas dalam bentuk yang lebih pop?

Iya. Kira-kira seperti itu sih tujuannya. Karena zaman langkahnya selalu ke depan. Tidak mungkin balik lagi kita ke masa lalu. Tapi hal-hal di masa lalu bisa kita pakai untuk melangkah.

Kenapa Rerajahan banyak dianggap tabu ya?

Rerajahan, di dalamnya ada unsur magis yang bisa kadang disalahgunakan. Jadi cenderung mengarah ke ilmu hitam. Padahal inti dari ilmu ini adalah bekal untuk menghadapi hidup di dunia.

Waktu memutuskan untuk bersinggungan dengan Rerajahan Bali, pasti banyak pro dan kontra yang di lingkungan kamu. Bagaimana mengakalinya?

Banyak sih. Rata-rata bilang jangan pakai itu karena sakral. Tapi setelah konsultasi dengan orang tua, mereka oke-oke saja. Ya darisitu saya tidak peduli lagi dengan yang lain, selama dapat restu dari orang tua. Saya juga enggak plek-plek meniru aksara dan ilustrasinya. Tapi lebih ke membawa vibe rerajahan itu ke publik.

Kamu banyak memilih media untuk berkarya, dari mulai mural, t-shirt, sampai kolaborasi dengan band-band Bali. Kenapa? untuk membuka banyak peluang baru mungkin?

Iya karena saya bosan dengan media seperti kanvas. Jadi saya ambil media di luar itu. Ada yang commisioned ada juga yang project suka-suka. Yang penting berkarya. Kalau band sih kebanyakan karena asas pertemanan. Selain memang saya suka dengan bandnya, mereka juga mengapresiasi karya saya.

Saat ini ada project yang sedang dijalankan?

Saat ini sedang mempersiapkan pameran tanggal. Mudah-mudahan lancar. Ini pameran tunggal perdana, kalau tidak ada halangan nanti digelar bulan Agustus mendatang.

Bagaimana lingkungan berkesenian kamu? Apakah kamu juga sering berkarya dengan pola-pola kolektif?

Banyak juga bersama teman-teman yang bergerak di bidang seni di sini. Kebanyakan kami menggarap mural. Yang paling serius waktu kami membuat Mural Pasca Panen.

Apa itu Mural Pasca Panen?

Tema yang kami bawakan waktu itu sebenarnya sebuah perayaan di mana kalau dulu setelah petani panen mereka melakukan syukuran. Nah karena kami itu tukang gambar, jadi kami merayakan dengan mural, membawa pesan dari keadaan petani sekarang. Baru dilakukan pada akhir tahun kemarin. Nantinya akan diselenggarakan lagi nanti menunggu petaninya panen, sekitar 2-3 bulan lagi. Dan akan berpindah-pindah tempat di Bali. Yang kemarin kami gelar di Desa Guwang, Gianyar. Sedangkan untuk Scene mural di Bali sendiri, sejauh ini juga sudah mulai menjamur kembali.

*) Kuncir Sathya Viku adalah salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling untuk bidang visual.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Kuncir Sathya Viku