Band grindcore Rajasinga, di tahun 2018 ini, berumur 14 tahun. Usia yang tak lagi baru untuk hitungan sebuah band. Setelah merilis album ketiga di tahun 2016 yang lalu, nama Rajasinga seolah tak lagi terdengar kencang. Atau lebih halusnya, intensitas mereka muncul ke permukaan tak sesering dulu. Biman (gitar/vokal), Revan (drum/vokal), dan Morrg (bass/vokal) pun disibukkan oleh pekerjaan masing-masing.

Di pertengahan bulan September ini, tiba-tiba Rajasinga mengumumkan kabar yang mengejutkan. Mereka sedang merencanakan sebuah tur di beberapa kota di Pulau Kalimantan. Kami beruntung mendapatkan kesempatan berbincang langsung dengan salah satu personil mereka, Revan, penggebuk drum Rajasinga. Berikut hasil obrolannya. Oh, simak terus Rajasinga dan informasi mengenai Borneo Tour mereka yang akan datang di www.instagram.com/rajasinga04.

 

 

Bicara pengalaman, kapan sih pertama kali Rajasinga melakukan tur?

Nah ini yang lucu. Rajasinga pertama kali tur itu sebenarnya Tour di Asia Tenggara tahun 2007. Awalnya kayak gini, waktu itu main di Bandung, terus dapet kenalan teman, salah satu penonton kita. Dia dateng ke acara itu, kebetulan dia dulu suka ngeband dan menetap di Kuala Lumpur. Dia antusias sekali dengan musik kita. Kita diajak untuk tur di sana. Ya terjadilah, itu pula yang bikin album pertama kami dirilis oleh label Malaysia. Dia juga yang bantu ngerancang tur buat kita yang belum punya pengalaman apa-apa. Hahaha.

Kalau boleh tahu, Asia Tenggaranya mana saja?

Pertama di Singapura, setelah itu kita main di beberapa kota di Malaysia seperti Penang dan Kuala Lumpur. Kemudian ke Bangkok dan balik ke Kuala Lumpur lagi. Begitu tur kita di tiga negara di Asia Tenggara ini. Terus pulangnya kita lanjut tur Jawa, Sumatera dan Bali bareng Kelelawar Malam.

Kalian lumayan punya pengalaman, memangnya sensasi apa sih yang didapatkan ketika pergi tur itu?

Sensasinya aneh sih. Haha. Begini, dulu Rajasinga itu band baru. Ssebagian malah cuma tahu Rajasinga dari namanya saja. Yang sangat terasa adalah gimana kita sangat dibantu oleh teman-teman. Sensasi berjejaring itu yang sampai sekarang masih terasa nikmatnya. Ditambah karena latar belakang kita adalah perantau, jadi suka jalan-jalan deh. Bahkan di luar jadwal ngeband pun, kita emang suka jalan-jalan, sambil menyelam minum air dong jadinya.

Setelah dua tahun menyepi, Rajasinga secara mengejutkan mengumumkan bahwa kalian akan tur di November tahun ini. Apa sih yang membuat kalian memutuskan untuk melakukan Borneo Tour?

Pertengahan tahun ini, sekitar bulan Mei, ada temen dari daerah Kuching, Malaysia. Dia mengajak Rajasinga untuk manggung di sana. Rencana Rajasinga main di Kuching sebenarnya udah dari dua tahun lalu, sesudah album ketiga dirilis. Tapi ketika itu kawan-kawan di sana belum ada kemampuan untuk membuat acara. Belum siap dan belum stabil. Waktu itu kita bilang ke mereka, “Ya sudah, sabar saja dulu.” Kalau memang berjodoh kita akan berangkat. Seiring waktu berjalan kita tetap berkomunikasi, sampai akhirnya teman saya yang disana, si Aweng, dia bilang mereka udah siap buat ngajak kita. Secara finansial dan lainnya mereka sudah siap.

Oh gitu, awalnya kan cuma main di Kucing, kok bisa nyebar ke kota lain?

Dengan kawan-kawan di Kucing sudah oke. Terus aku berpikir, kenapa nggak sekalian mampir di kota-kota lain. Langsung saja aku cari kontak kawan di Pontianak, si Rudi mantan gitaris Jeruji. Aku tanya ke dia ada nggak kemungkinan kita untuk main di Pontianak. Pertama sih alasannya karena sekalian jalan juga, sayang rasanya kalau cuma main di Kuching aja. Kedua secara motif ekonomi, ini juga akan menekan ongkos produksi. Terus si Rudi bilang, sekalian ke kota-kota lain saja. Nah, itu makanya bisa berkembang jadinya ke kota-kota lain di Pulau Kalimantan.

Totalnya berapa Kota?

Ada sembilan titik. Dengan ini kita bisa menjalankan semangat kolektif. Beban biaya bisa dibagi-bagi oleh masing-masing organizer yang mengundang kami. Soalnya di Kalimantan biaya transportasi itu lebih besar. Bagi kita, hal ini jauh lebih baik dibanding hanya Rajasinga Live in Kuching atau Rajasinga Live in Pontianak saja. Jadinya Rajasinga Borneo Tour. Akan banyak rute yang dilewati. Akan banyak komunitas-komunitas yang ditemui. Berbagi banyak hal dengan teman-teman jauh lebih bermanfaat bagi kami dibanding main ke satu kota lalu pulang. Tentu juga datang ke tempat-tempat baru itu sesuatu yang mendebarkan. Menyenangkan rasanya. Itu salah faktor mungkin kenapa kita bisa awet bermain musil bertiga sampai sekarang.

Sudah punya bayangan belum bagaimana karya-karya kalian disana?

Album-album Rajasinga sudah cukup tersebar lho di Borneo. Ini ada datanya. Haha. Karena kita tahu di sana ada orang yang mengapreasiasi karya kita, nggak ada salahnya juga kita bertamu ke mereka. Mengetuk pintu rumah mereka.

Bicara soal pengalaman tur memang menyenangkan, tapi tentu seperti yang kita semua tahu Rajasinga punya pengalaman yang tidak mengenakkan ketika Tur Sirkus Neraka: Melibas Andalas dulu. Itu membuat kalian trauma gak sih?

Kalau trauma sih nggak, tapi membekas iya. Aku mau cerita sedikit soal insiden di 2012 itu. Insiden ini sebenarnya konflik yang udah mengakar di Padang. Nah kebetulan, Rajasinga yang jadi martir untuk segala konflik yang ada di sana. Puncaknya ya itu, ketika Rajasinga dan Jeruji main disana. Tapi setelah insiden itu, semua orang berbenah. Buktinya skena di sana menjadi lebih baik dan terdengar aman sampai sekarang. Mungkin revolusi membutuhkan darah, kebetulan darah kita yang tertumpah. Tapi ini baik dan kita ingin kembali main di sana.

Tur berlanjut ketika itu?

Kalau dari kita nya enggak. Soalnya kondisi fisik sudah nggak memungkinan. Tangan patah dan diperban, ya nggak mungkin main. Tapi Jeruji tetap lanjut main di Pekanbaru. Dan kita datang juga ke Pekanbaru dalam keadaan yang memprihatinkan. Hahaha. Secara keseluruhan Tur Sirkus Neraka: Melibas Andalas cukup sukses kok walau ada satu insiden yang kurang mengenakkan. Tapi kalau dipikir-pikir sekarang ternyata itu keren juga ya. Momen masa muda. Hahaha.

Pertanyaan terakhir nih, rencana ke depan setelah Borneo Tour apa?

Kita akan rilis album di awal tahun. Oktober ini, sebelum tour, kita akan masuk studio untuk rekaman. Sudah ada empat atau lima materi. Doakan saja semua sesuai rencana. (*)

 

Teks dan wawancara: Rio Jo Werry
Foto: Dokumentasi Rajasinga