Belum lama ini muncul seorang penyanyi pria bernama Putra Timur dari Jakarta. Nuansanya sendu mendayu-dayu. Bisa jadi, ia lelaki paling kesepian di muka bumi. Semua rasa yang ia alami, dituangkan ke dalam debut mini album yang rilis awal Juni kemarin.

“Gue ingin menceritakan tentang kisah seseorang, yang bisa dibilang ceritanya sangat personal dan dekat dengan gue. Dan gue pun mencoba memposisikan diri sebagai orang tersebut, baik di saat sedih, senang, marah dan lainnya. Gue mencoba mengambil perspektif dari orang itu,” tuturnya kepada Siasat Partikelir membuka obrolan.

Menamai debut EP dengan The Loneliest Man on Earth jelas penuh maksud. Putra Timur merasakan bahwa kalimat tersebut, yang juga ia pilih sebagai salah satu judul lagunya, cukup mewakili perasaan yang ia alami saat mengerjakan mini album ini.
“The Loneliest Man on Earth menurut gue dibanding lagu lain yang ada di EP, itu lebih kena secara emosional. Nah dari sana kenapa gue memilih kalimat tersebut untuk juga dijadikan sebagai judul mini album ini. Karena memang sisi sedihnya yang mau gue tonjolkan di sini,” terangnya lagi.

The Loneliest Man on Earth adalah rilisan perdananya sebagai musisi. Prosesnya sendiri pun lumayan panjang dan menyita waktu. Berawal dari keraguan Putra Timur akan kumpulan materi miliknya yang bingung akan dibawa kemana.

“Waktu itu sempet bingung, ini materi sudah lama nggak ketemu solusinya, kayak belum menemukan titik cerahnya, belum kebayang mau diapakan. Sampai akhirnya, gue mengumpulkan beberapa teman untuk join workshop. Dari bulan Agustus kemarin, mulai workshop kecil-kecilan, karena ada dua track yang akan dikemas secara full band dan dua lainnya secara akustik,” jelasnya.

“Dari sana, sampai bulan September tahun lalu, gue mulai mengerjakan EP ini di Revolver Studio di Tangerang. Setelah rekaman, mixing dan mastering, akhirnya materi beres di bulan Maret, single pertama keluar, itu judulnya Sweet Life,” tambahnya.
Saat ini Putra Timur tengah menikmati proses bagaimana menjalani hidup sebagai seorang musisi. Rasa penasaran dan banyak tanda tanya setelah merilis mini album pun diakuinya mulai muncul,. Pertanyaan-pertanyaan model “Apakah para pendengar bisa menyerap dan memposisikan diri mereka sama seperti Putra Timur saat mendengar lagu ini?” atau “Mereka murni hanya mendengarkan saja tanpa peduli cerita dibaliknya?” ada.

“Yang pasti, gue berharap dengan adanya EP ini orang-orang bisa menikmati karya gue dan mengerti pesan apa yang gue sampaikan, dan tidak berhenti di sini juga, semoga bisa lanjut ke depannya,” harapnya.

Mimpi kini dirajut perlahan. Target mulai dipasang, salah satunya adalah menjadi seorang musisi penuh waktu. Ada nama-nama macam Dewa 19, Chrisye, Sandrayati Fay, Neil Young, Fleet Foxes, Iron & Wine sampai Father John Misty yang menjadi kiblat bermusik dari seorang Putra Timur. “Menjadi full time musician adalah salah satu mimpi gue dari dulu,” tutupnya. (*)

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Putra Timur