“Kalau kata orang-orang, Medan itu memang bukan kota seni,” buka Rally Jachmoon, vokalis dari grup post punk Pullo kepada Siasat Partikelir.

Meski tergolong salah satu kota besar, namun pergerakan musik di sana seakan tidak bergairah. Menurutnya kini, Medan minim apresiasi dari penonton kepada pelaku seninya. Makanya, semuanya seakan mati suri. Hal itu yang paling disayangkan oleh Rally. Memainkan musik mainstream saja cukup sulit, bagaimana dengan yang arus pinggir? Dan lagi, menurutnya banyak yang gengsi untuk memilih menjadi fans band-band lokal di Medan.

“Scene di Medan sekarang mulai naik lagi, sebelumnya kan sempat mati suri, periode tahun 2011-2014. Dulu yang aktif cuma band-band hardcore aja. Nah kalau sekarang terbalik, malah banyak band hardcore yang kini mulai meredup satu-satu. Sempat dulu kita merasakan gigs itu 8 bulan sekali,” terangnya.

Rally mengungkapkan semua beradasarkan pengalamannya berkecimpung di ranah ini. “Sebenarnya Pullo itu band baru yang isinya orang-orang lama. Seperti Gavin drummer kami masih aktif bersama The Clays, atau saya yang dulu punya band punk, AAS, tapi sudah bubar 12 tahun lalu.” ungkap Rally menceritakan sedikit latar belakang Pullo.

Mungkin ekosistem yang mandek itu pula yang membuat Pullo untuk berani keluar. Memutuskan menggandeng kerjasaam dengan Winona Records, record label mandiri dari Jakarta, untuk merilis mini album Age Of New Life bulan Januari 2018 kemarin. “Audience di sini kurang mendukung band lokal. Kalau kata orang-orang, Medan ya memang bukan kota seni.” tambahnya.

Meski demikian, selalu ada nafas baru yang lahir di dalam keterbatasan. Diakui oleh Rally, pelan-pelan kancah seni di Medan kini mulai berbenah lagi. Ada banyak generasi baru yang semangat kolektif masih kencang, tidak hanya dari musik, banyak juga dari visual art misalnya.

Ini tentang kesinambungan, kolektif-kolektif tersebut masih rajin membuat wadah meski sepi pengunjung, semata hanya untuk memberi lahan tampil bagi para pekerja seni. “Mereka nekad saja sih, dan tapi itu yang membuat sponsor mulai berani masuk lagi, lumayan dibanding dulu,” ujarnya.

Tentang keterbatasan ruang yang menjadi masalah klasik tiap kota, Rally memiliki rasa optimis untuk mengakalinya. “Kalau ruang, menurut saya di setiap kota kalau dicari pasti ada, asal niat saja mencarinya. Kasarnya, kalau memang niat, juga bisa buat gigs di garasi rumah kok.”

Soal Pullo sendiri, meski kini mereka menjadi satu-satunya band yang memainkan musik post punk di kota Medan, tidak membuat mereka ciut nyali. Rally Jachmoon (vokalis), Gavin Siregar (drummer), Faiz Fadhillah (gitar) dan Ranggi Ramadhan (bass) adalah empat nama yang berada di balik Pullo.

Pullo, kini terpilih kedalam babak 10 besar program ‘Siasat Trafficking – Europe Calling’. Yang mana pemenang nantinya akan mendapat kesempatan untuk menjalani tur ke benua Eropa.

Rally dengan percaya diri mengatakan bahwa jika Pullo nanti berhasil keluar sebagai pemenang program ‘Siasat Trafficking –Europe Calling’, dirinya bersama kawan-kawan akan memberi bukti, kalau usaha yang maksimal akan membuahkan hasil yang maksimal pula.

“Kita bakal bawa oleh-oleh bukti ke Medan, bukti kalau band yang jarang atau dibilang aneh sama audience di Medan, ternyata bisa sukses dan dihargai di tempat lain. Yang penting berani saja,” ujarnya berapi-api.

teks: Yulio Abdul Syafik
editor: Felix Dass

foto: Dokumentasi Pullo