Wulang Sunu meninggalkan zona yang sangat nyaman dengan melepaskan diri dari Papermoon Puppet Theater, rumah yang sempat ia singgahi bertahun-tahun. Reputasi kelompok teater itu yang makin menjulang, tidak menggodanya untuk tinggal. Ia perlu pergi untuk mengembangkan diri sebagai seorang visual artis. Disiplin ilmu kesenian yang sedikit berbeda, membuat keputusan ini sangat masuk di akal.

Dalam bentangan karirnya yang mandiri, ia menemukan banyak kemungkinan baru. Sebagai seorang salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling bidang visual, ia bercerita banyak tentang karirnya yang punya banyak cabang. Simak wawancaranya di bawah ini:

Mas, gimana karirmu selepas Papermoon Puppet Theater? Apa yang sudah kamu temukan setelahnya?

Setelah aku “lulus” dari Papermoon Puppet Theater aku mulai mengulik untuk intensi-intensi pribadiku yang belum sempat tersalurkan.Taun kemarin sih kaya roller coaster. Hehehe. Kalau buat berkarya pribadi, aku mulai ngulik video mapping buat pameran tunggal kecilku di sebuah toko milik teman terus sama mengolah lagi apa yang aku dapet di Papermoon yaitu bermain-main cahaya dan bayangan. Nah proyeksi panjangnya aku pengen kedepan bikin pementasan visual dari kedua hal tersebut. Terus eksperimen itu juga dikembangkan jadi sebuah instalasi di sebuah acara namanya Land of Leisure.Lalu perkembangan terakhir sama temen-temen Studio Batu membuat pementasan bayangan yang sempat dipentasin di Cemeti Art House. Dengan Studio Batu juga, aku kemarin jadi co director sebuah film animasi dokumenter berkolaborasi dengan Kotak Hitam. Tahun ini juga, aku lagi nyiapin buat bikin karya pementasan visual tadi sama bikin publisher khusus picture book namanya Pickpockie books.

Nah, kegiatannya jadi lebar kan, sekarang mundur dikit, sebenarnya apa sih yang membuat kamu tertarik dengan senirupa?

Sebagai seseorang yang pemalu kadang aku bingung untuk mengungkapan sesuatu kepada orang lain.Nah, mengungkapkan sesuatu dengan gambar, film, atau animasi menjadi hal yang membantu untuk mengakomodir keinginan mengungkapkan gagasan yang aku punyai. Kalau momentum yang membuat aku memutuskan untuk mendalami senirupa waktu SMA kelas 2 setelah membaca novel grafis punya temen (yang hingga kini belum dikembalikan) judulnya Epileptik.Di situ aku terkesima dengan kepiawaian David Beauchard menuturkan cerita dengan gambar.Lalu ditambah awal masuk kuliah, masuk ke Papermoon Puppet Theater.Disitu aku mendapat banyak pengalaman bagaimana mengungkapkan sebuah gagasan dengan medium tertentu yang bisa membuat gagasan itu menancap ke benak orang yang menikmati karya yang disuguhkan.Dua hal ini yang membuat aku tertarik dengan senirupa.

Kamu mulai menyadari bahwa punya ketertarikan pada senirupa kapan? Penyebabnya apa?

Kalau menyadari punya ketertarikan secara serius ketika masuk Papermoon Puppet Theater itu. Penyebabnya setelah nonton Mwathirika (salah satu lakon paling populer Papermoon Puppet Theater –red) jadi punya padangan bahwa menyampaikan ide tentang tragedi ‘65 ternyata bisa sangat diolah dengan pendekatan yang populer dan memikat.

Nah, dari petualanganmu sekarang, apakah karirmu yang sendiri ini menjanjikan? Menurutmu lhoo ya? Baik dari segi pengembangan diri atau ekonomi atau parameter lain yang kamu set?

Menjanjikan, cuma butuh waktu, menuntut konsistensi, sama harus optimis. Ibaratnya kayak nanem pohon mas, sekarang baru merawat pohonnya biar batangnya kuat dan buahnya matang. Hehe.

Konsistensi itu kata sifat yang penting menurutmu di dunia seni rupa ini?

Iya, penting banget.

Sebenarnya, kamu punya isu yang ingin diusung banget nggak di dalam karya-karyamu?

Ada. Belakangan ini aku ngulik tema tentang hubungan manusia dengan hewan. Hubungan yang dimaksud hubungan yang merepresentasikan kuasa, salah satu contoh yang dilakukan oleh Cina dengan Panda Diplomacy. Nah, kalau karyaku yang sedang diolah adalah peristiwa Rampogan Macan, praktek yang dilakukan oleh raja-raja Jawa menarungkan macan dengan banteng sebagai bentuk simbolik representasi kuasa yang dimiliki raja kepada penjajah yang biasanya dilakukan sebelum Idul Fitri mas. Nah, kalau ketertarikan hubungan itu aku dapet dari tontonanku pas kecil kayak Digimon dan Pokemon. Ternyata setelah aku cari-cari kita juga punya pola hubungan antara manusia dengan hewan yang mirip seperti di film kartun tadi, nah belakangan ini sedang mengulik tema-tema tersebut.

Menarik. Sudah terbayang akan membawa ini ke arah mana?Atau ini masih tahap eksplorasi awal? Tapi rasanya nggak awal-awal banget, beberapa karyamu sudah begini kan?

Sudah, mau diolah dan dipresentasikan bentuknya jadi pementasan visual yang aku sebut tadi di awal. Iya udah setengah jalan, tinggal gas pol habis ini. Beberapa karya terakhir juga tetep ngulik tema besar tadi tapi dengan sudut pandang yang berbeda.Misalnya: di pameran kelompok Desember taun lalu aku mengolah tentang sesosok “jagoan” korban peristiwa Petrus yang makamnya berbentuk patung macan.

Pada saat mulai mencicil pengalaman seperti ini, apa sih tantangan yang membayangi?

Tantangannya ini sedang terjadi sekarang, karena ini bisa dibilang pengalaman awal untuk membuat karya pementasan visual aku jadi sangat takut untuk mengambil langkah untuk memutuskan eksekusi yang tepat untuk format pementasan ini, karena kepengennya format pementasannya ga cuma ditonton tapi juga melibatkan penonton didalam pementasannya. Jadi progressnya terasa lambat itu sih mas. Ada bayang-bayang ketakutan yang lumayan besar. Haha.

Progress lambat bisa dimaklumi atau malah bikin nggak sabar?

Karena disini aku berusaha untuk bekerja dengan beberapa orang, progress lambat ini jadi bikin bingung kolaboratornya.Tapi di kasus ini refleksinya adalah memang ternyata butuh waktu panjang untuk memasak karya ini jadi matang.

Di dunia yang serba cepat ini, sering kegoda untuk menyelesaikan sesuatu terburu-buru nggak sih? Atau kamu sangat percaya bahwa proses, seberapapun menyakitkannya, adalah fase yang harus dilalui?

Wah, itu tantangannya sekarang. Hahaha.Sering banget kalau menyelesaikan sesuatu terburu-buru, tapi ya ada batas toleransinya. Dulu di Papermoon Puppet Theater, kita sama-sama percaya ketika kita memainkan boneka posisi badannya justru merasa nggak enak.Nah, disitulah malah bonekamu jadi hidup karena kita berusaha mati-matian untuk “menyalurkan” nyawa ke boneka itu. Hal itu juga aku percayai bisa diaplikasikan ke mana aja, proses pasti akan menyakitkan dan kalau nggak menyakitkan mungkin kita patut curiga.

Terakhir, dalam lima kata, coba terangkan deskrispsi singkat tentang Wulang Sunu…

Ini salah satu potongan lirik yang dimodifikasi sama temenku dan kadang aku pegang erat-erat penggalan ini supaya tidak jadi pribadi yang takabur: (bacanya sambil nyanyi) Aku bukan siapa-siapa, mboktenan.

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dokumentasi Wulang Sunu