Akhirnya tiba saatnya kami dan Tim Outlab Trip 2018 berangkat menuju Playtime Festival di Ulaanbaatar, Mongolia. Kami terbang dari Jakarta hari Kamis (5/7) jam 18:10 dan harus transit terlebih dahulu di Singapore dan Beijing.

Tiba di Changi Airport, Singapore kami mendapat laporan penerbangan Singapore ke Beijing terlamat 1 jam. Tapi semua hal aman terkendali, kami jadi punya waktu lebih lama untuk makan dan istirahat. Kemudian, ternyata pesawat menuju Beijing menambah durasi keterlambatannya. Karena itu, kami hanya punya waktu 45 menit untuk transfer berikutnya, dari Beijing ke Ulaanbaatar. Kami terbang diselimuti banyak kekhawatiran. Tapi, itu jadi alasan untuk minum wine banyak sepanjang perjalanan Singapura ke Beijing.

Tiba di Beijing hari Jumat (6/7) jam 08:00 dan penerbangan selanjutnya ke Ulaanbaatar jam 08:30. Artinya kami sangat terlambat. Beruntung pihak maskapai sudah mengantisipasi ini dan menjadikan kami sebagai penumpang ‘istimewa’. Tiba di bagian transfer, kami sudah ditunggu oleh petugas maskapai dan dia menempelkan sticker sebagai tanda priority passenger. Akhirnya didahulukan di antrian imigrasi dan scanning barang. Selepas itu, dijemput petugas berikutnya untuk diantar menuju boarding gate menggunakan passenger buggies yang mirip mobil golf itu. Tiba di dalam pesawat, ternyata pesawat sedang menunggu kami dan sudah siap terbang, terlihat juga banyak penumpang yang terus menatap dengan penuh kesal. Tapi tidak apa, kami berjalan cuek saja.

Hari Jumat (6/7) jam 10:55 tiba di Chinggis Khaan Airport. Semua berjalan dengan lancar sampai di bagian imigrasi. Petugasnya pun menyapa dengan senyuman dan mengucapkan selamat bermain di Playtime Festival. Namun, ternyata ketakutan terjadi ketika kami duduk cukup lama sekitar 45 menit menunggu bagasi tiba di baggage carousel. Setelah petugas customs memberi tanda bahwa tidak ada lagi bagasi yang tersisa dari penerbangan kami, berarti ada masalah dengan semua bagasi yang kami bawa.

Kami langsung melaporkan tentang kehilangan bagasi ini, ternyata 3 bagasi kami tiba lebih awal dan sudah ada di ruangan lost & found. Ya, hanya 3 bagasi, berarti ada 2 bagasi lagi yang belum diketahui keberadaannya, yaitu bagasi synthesizer dan sebuah koper milik Saska, fotografer pemenang Outlab Trip 2018. Kami lanjut lapor ke bagian customs maskapai dan mendapat info ternyata 2 bagasi tersebut masih tersangkut di Beijing dan baru tiba di Ulaanbaatar jam 18:00. Kabar ini cukup membuat badan semakin pegal-pegal saja.

Keterlambatan 1 bagasi alat ini bagi Bottlesmoker berarti kami tidak bisa tampil di jadwal hari pertama tanggal 6 Juli 2018 yang diagendakan main di Waldo Tent, untuk mengiringi Mandala Yoga sesi laughter yoga. Keterlambatan koper bagi Saska berarti dia tidak bisa ganti baju sampai sore hari karena semua pakaiannya di sana. Kecewa, tetapi ini bukan yang pertama (semoga terakhir) dan sudah bisa kami hadapi dengan tenang. Tidak mengapa.

Bermodal wifi airport, saya langsung memberitahukan Gunsen, manager international artist Playtime Festival bahwa kami sudah mendarat, ternyata dia tidak bisa datang menjemput dan hanya bisa mengirim asistennya. Kami langsung keluar airport dan disambut oleh perempuan berkacamata yang tersenyum terus-terusan sambil mengangkat kertas bertuliskan “Bottlesmoker & Ryuji”. Rupanya perempuan yang bernama Munkhjin ini yang akan menjemput kami dan membawa ke hotel. Ryuji dari Jepang belum mendarat, kami pun memilih untuk memasukan peralatan kami ke bis penjemputan dan merokok.

Di dalam bis sudah ada Ariel Pink, hanya dia sendiri di dalam bis itu yang akhirnya dia terpaksa yang membukakan pintu untuk kami hahaha. Selesai menyusun dan mengatur semua bagasi dan tas kami, Nobie, Agam (soundman) dan Saska merokok di area parkir. Sesaat mengeluarkan rokok di cuaca yang dingin, tim panggung Ariel Pink menegur kami untuk tidak merokok, karena baru saja dia dan temannya didatangi polisi dan didenda 20 USD karena merokok di area parkir.

Akhirnya Munkhjin atau kami panggil Mun datang dengan Ryuji. Saya pun memberitahu Mun soal bagasi kami yang terlambat tiba, dengan sigap Mun berjanji akan kembali ke airport untuk membawanya sore nanti. Kami pun langsung mengisi satu persatu kursi di dalam bis itu dan mengatur posisi duduk. Sepanjang perjalanan dari airport ke hotel yang ternyata hanya ditempuh 30 menit, kami disuguhi oleh landscape pegunungan dan hamparan rumput di lahan yang sangat luas. Gunung-gunung tersebut seolah-olah wahana bermain karena hanya diselimuti rumput, terlihat beberapa bangunan di puncaknya, terlihat juga jalur pejalan kaki yang bisa menempuh hingga ke puncak. Tiba di perkotaan, ternyata suguhannya hampir sama dengan Indonesia, yaitu kemacetan. Bedanya di Ulaanbaatar itu minim motor.

Jam 13:15 kami tiba di Chinggis Khaan Hotel, tidak begitu tepat di bagian pusat Ulaanbaatar namun di kelilingi tempat makanan. Itu modal penting bagi kami. Seharusnya kami jam 16:00 bermain bersama Mandala Yoga di Waldo Tent, Playtime Festival. Namun karena terlambatnya 1 bagasi yang isinya synthesizer itu, kami pun kesulitan untuk mengakalinya karena sumber suaranya dari sana. Gunsen menyarankan kami datang saja ke Waldo Tent dan bertemu dengan Mandala Yoga. Kami pun memutuskan untuk lunch, mandi dan bergegas menuju venue Playtime Festival di Gachuurt Village.

Kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke venue. Sialnya di perjalanan kami tertidur dan terbangun ketika tiba di venue, jadi tidak bisa melihat pemandangan di sekitar. Melihat jam ternyata jarak hotel ke venue cukup jauh. Perlu waktu tempuh 45 menit. Dan itu tanpa macet, kata supirnya. Sambil menenteng air mineral, kami langsung disambut Mun dan diberi wristband Playtime Festival. Mengecek suhu sore itu 12 derajat celcius, anginnya cukup kencang, cukup menyesal tidak membawa perlengkapan jaket yang ideal namun Mun menyarankan untuk lebih banyak minum yang hangat-hangat. Dia pun mengingatkan, ada free flow all drinks untuk artist. Kami pun memasuki festival dengan penuh senyuman.

Melewati artist gate kami disambut dengan beberapa bangunan dan benteng berarsitektur tradisional Tiongkok, setelah melewati bangunan itu, kami perlu berjalan di atas jembatan yang pendek dan di sebelah kanan kirinya kita bisa melihat betapa jernihnya air sungai yang mengalir tersebut. Setelah itu, gate menuju area festival dilewati dan pandangan langsung terbuka lebar, sambil berjalan menuju VIP area, di sekeliling kami terlihat beberapa art installation, booth craft, souvenir, baju. Terdengar musik trance di sebelah kiri yang muncul dari panggung per-DJ-an, tercium juga harum daging sapi yang sedang dibakar tanpa banyak bumbu. Akhirnya terlihat Waldo Tent di sebelah kanan, teman-teman Mandala Yoga sedang bersiap-siap untuk sesi laughter yoga. Kami pun berbincang lama dan menceritakan tentang banyak hal termasuk batalnya kami bermain untuk mereka.

Tentu saja kendala ini bukan masalah besar karena masih ada jadwal lain lagi untuk bermain bersama mereka, akhirnya kami pun mengamati laughter yoga dan pamit untuk melanjutkan ke VIP area. Berjalan semakin ke tengah festival pandangan kami semakin terbuka, kini terlihat pegunungan yang mengelilingi area festival, ribuan orang berkumpul di depan panggung utama dan menggerakan badan mengikuti musik. Ratusan orang sedang berkumpul di satu tenda yang tidak terlihat sedang menikmati apa namun terlihat mereka begitu bersenang-senang. Menengok ke sebalah kanan, ratusan tenda berdampingan rapih yang dipenuhi oleh para penonton yang tinggal di tenda selama festival. Tidak henti-hentinya juga orang berjalan ke berbagai arah sambil bergandengan, menenteng gelas, menggendong anak, sempoyongan, tertawa-tawa, dan lain sebagainya dengan gaya pakaian yang sangat unik.

Akhirnya tiba di VIP area, kami disambut Julia, orang yang bertanggung jawab di VIP area ini. Sambutannya sangat hangat, sambil bersenyum, dia memberikan voucher lunch, dinner dan drink. “Jangan ragu untuk memintanya lagi ya,” kata Julia. Saya, Nobie, Agam dan Saska langsung mengurusi kebutuhan masing-masing.

Kami berkumpul di satu meja penuh dengan makanan dan minuman. Posisi VIP area ini memang sempurna, penuh makanan dan minuman dan bisa menikmati panggung utama dengan santai. Berkali-kali kami menambah minuman dan berkali-kali kami berkenalan dengan banyak band dari negara lain. Hari pertama di Playtime Festival ini sangat ringan. Sisa malam pertama ini kami habiskan dengan banyak makan, minum dan bersulang dengan banyak orang. Penyambutan hari pertama yang sempurna.

.

Soekarno Hatta Airport, Jakarta, menunggu keberangkatan.

 

Tiba di Chinggis Khaan Airport, Ulaanbaatar bersama Mun.

 

Loading in alat-alat ke bis di parkiran Chinggis Khaan Airport.

 

Pemandangan setelah meninggalkan Chinggis Khaan Airport.

 

Pemandangan di sekitar Ulaanbaatar menuju Gachuurt Village.

 

Entrance gate Playtime Festival dengan bangunan arsitektural khas Tiongkok.

 

Menikmati hari pertama Playtime Festival di VIP area.

 

Ritual meditasi di Waldo Tent, Playtime Festival.

 

Menonton The Fin di panggung utama Playtime Festival.

 

Bersama Ariel Pink.

 

teks: Angkuy
foto/dok: Saska Paloma Gladina