Di Jogjakarta, pusat kesenian Indonesia, geliat Otakotor mulai tercium beberapa tahun belakangan ini. Apa itu Otakotor? Sebuah pemahaman akan hal-hal yang nakal kah? Atau sebuah genk motor? Haha. Otakotor merupakan sebuah kolektif musik yang terus bergerak dan berusaha untuk selalu menghidupkan musik di Jogjakarta.

Semua hal terwujud pastinya berawal dari sebuah kata “pertemanan”, hal ini juga yang mendasari terbentuknya Otakotor di Yogyakarta. Saling berteman, berbagi informasi dan terbentuklah sebuah komunitas. Tapi tidak berstruktur dan siapapun bisa terlibat didalamnya.

Di awal pergerakannya, mereka aktif membuat berbagai macam gigs kolektifan, produksi artwork dan merchandise, membuat sebuah radio online dan sampai membuat sebuah webzine. Tiga tahun lamanya mereka menjalani berbagai macam aktivitas itu, hingga akhirnya terbentuklah sebuah hal yang serius bernama Otakotor Records. Gerakan mereka mengarah pada perilisan karya musik sejumlah nama. Beberapa di antaranya adalah Banana For Silvy, Somnium, Riverstone serta Stickman. Nama terakhir baru saja merilis sebuah full album pada bulan Februari silam.

“Untuk gerakannya itu ya sebenernya santai aja, nggak terlalu ngoyo harus ini dan itu, berjejaring antar komunitas. Berbagi info tur band untuk kemudian kami buatkan sebuah gigs. Selebihnya ya ngopi-ngopi santai aja,” jelas Udin salah satu pendiri Otakotor.

Sejauh ini mereka tetap di jalur yang sudah terbentuk sejak awal; merilis artwork, foto dan video, merchandise, gigs dan tentu saja sebuah rilisan fisik.

Dalam pergerakannya sendiri, Otakotor selalu mengutamakan SDM terlebih dahulu. Berdiskusi selalu menjadi hal yang sangat dan harus dilakukan pada saat berkumpul. Bahkan di sebuah warung kopi pun semua hal bisa tercipta. Bertemu, ngobrol, menyambungkan hal yang diminati bersama. Membahas soal musik, sharing tata cara berproduksi yang baik, semuanya harus didiskusikan terlebih dahulu. Peran teman-teman di luar zona musik juga sangat penting bagi mereka, karena sebuah pergerakan musik tidaklah harus melulu harus orang-orang yang mengerti musik untuk terlibat didalamnya. Lebih dari itu, semua pihak memiliki keterlibatan. Sejauh ini problem terbesar yang mereka temui soal gerakan kolektif yang mereka jalankan ataupun teman yang lain adalah bagaimana caranya menjaga lingkaran pertemanan ini agar tetap kompak dan tidak hilang dimakan usia.

“Susah-susah gampang menjaga lingkaran pertemenan kolektif ini agar tetap utuh, masalah utamanya adalah gerakan ini awalnya ada karena prinsip pertemanan dan suka akan satu hal yang sama sejak kami di bangku kuliah. Setelah kuliah banyak yang sudah sibuk akan pekerjaan, menikah serta hal-hal seperti spiritual dan lain sebagainya. Fokusnya jelas jadi terpecah” ujar Udin lagi.

Atmosfir kolektif di Yogyakarta sendiri bisa dibilang hangat bahkan mungkin berapi-api, karena setiap individu bisa saja memiliki lebih dari satu jaringan kolektif. Tidak puas hanya dalam satu titik, mereka selalu mencari bahkan menciptakan suatu gerakan baru. Tantangannya tentu saja bagaimana membuat gerakan yang baru ini bisa terlihat berbeda dengan gerakan yang sudah ada sebelumnya.

Tentang lini musik, perkembangan disana jelas terlihat menurut Udin. Setiap hari lahir band atau projek dengan karya yang segar dan berkarakter khas. Tidak mengikuti arus yang sedang diminati di luar Yogyakarta, mereka mampu menciptakan hal baru.

“Beberapa tahun belakangan sampai saat ini aku selalu melihat panggung musik yang ada di kota ini selalu saja di isi oleh line up dari kota-kota besar di luar Yogyakarta. Ini menjadi PR terbesar sampai saat ini di industri musik di sini. Proses penghargaan bagi sebuah karya lokal sangat minim, band saat ini dihadapkan dengan keadaan hidup segan mati tak mau. Banyak band yang memili karya bagus namun justru kurang laku di sini. Aneh tapi nyata,” tutup Udin di akhir wawancara untuk artikel ini.

teks: Adjustpurwatama
foto: Udin/Otakotor Records