Wake Up Iris!, duo folk asal Malang yang baru saja menyelesaikan tugas mereka sebagai delegasi musik di SXSW Festival 2018 ini akan mengadakan sebuah acara kumpul-kumpul nan intim pada 15 April mendatang. Acara yang diberi nama Tea Time And Talks ini merupakan sebuah ide sederhana dari Wake Up Iris! bagi teman-teman pegiat dunia kreatif  di kota Malang agar bisa berkumpul bersama serta saling berbagi.

Terinspirasi dengan waktu meminum teh sebagai waktu luang dan bercengkerama dengan orang-orang terdekat, Tea Time And Talks menjadi sebuah acara yang digagas secara sederhana oleh mereka untuk menambah ruang diskusi dan berbagi cerita seputar dunia kreatif dan sekaligus mini showcase untuk musisi-musisi yang ingin menunjukkan karya, harapan dan konsistensinya di dunia musik.

“Apa yang kami dapat di SXSW 2018 sangat berkesan dan membuka pikiran. Semoga apa yang kami bagikan di Tea Time and Talks pertama nanti juga dapat mengompori teman-teman yang datang untuk tetap memiliki mimpi yang tinggi dan mewujudkannya” jelas Vania Marisca, salah satu personil Wake Up Iris!

Tujuan lain diadakannya acara ini adalah dikarenaan keresahan mereka akan kondisi kurangnya tempat untuk bertukar pikiran dengan SDM yang mumpuni serta tempat pengembangan diri yang signifikan membuat daya saing musisi dan pelaku industri musik di Malang kurang secara kualitas dan softskill.

“Kami hanya ingin membuka satu ruang lagi untuk menjelajahi dunia kreatif yang kompleks ini. Keinginan untuk selalu belajar dan menjadi lebih baik memotivasi acara kecil ini, serta kami ingin menyediakan ruang sederhana untuk bertukar pikiran, mendatangkan orang-orang ahli di bidangnya, serta memberi tempat untuk showcase musisi-musisi yang memiliki kemauan keras untuk maju,” tambah Bie Paksi, personil yang lain.

 

Hamur Dieng dipilih sebagai tempat untuk melangsungkan obrolan sore ini. Tempat ini mempunyai konsep rumahan, dimana pengunjung akan merasa seolah di rumah sendiri. Benar-benar rumah lengkap dengan beberapa ruang, pekarangan, kamar mandi, bahkan arena bermain anak-anak. Ditambah dengan lingkungan sekitarnya yang asri dengan pepohonan yang banyak makin membuat suasana waktu meminum teh di sore hari dan berbincang bersama menjadi semakin pas.

Untuk pengisi showcase music dipilih nama Nicolas Mora dan Oddy, dua nama yang sudah tidak asing bagi para pencinta musik di kota Malang. Nicolas Mora seorang yang berharap musik yang dibuat bisa dan mampu menemani orang lain sebagaimana dia yang selalu ditemani musik di hidupnya. Aktif di berbagai gigs di kota Malang, Nicolas Mora terpengaruh oleh musik-musik American folk, country, dan post-rock.

Sementara itu, Oddy memulai debut solonya di tahun 2015. Bermula dari eksperimen Oddy terhadap lagu berbahasa Indonesia yang melankolis, Oddy merasa sayang jika lagu-lagu tersebut hanya mengendap di dalam dirinya saja. Semejak saat itu ia mulai membawakannya sendiri di lagu-lagunya beberapa acara dan merasa ‘ketagihan’ dalam mengeksplorasi musik dan dirinya dalam bentuk Solo. Salah satu panggung yang berkesan untuknya adalah saat ia dapat menjadi salah satu line up dalam tur Angin Kencang oleh Noh Saleh, solois dari Malaysia.

Jika ada waktu sempatkanlah datang, serta berbagi bersama dalam acara Tea Time And Talks. Mari saling menginspirasi.

teks: Adjustpurwatama
foto: Dok. Tea Time And Talks