Rika Yuniorika adalah seorang yang bergelut di dua bidang yang sungguh saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya, adalah musik dan mode. Di bidang musik, Rika mendapat peran sebagai vokalis di band Dromme asal Bali. Sedangkan dalam dunia mode, Rika merupakan seorang fashion designer.

Wanita dengan banyak bakat dan talenta ini meluangkan waktunya untuk berbincang dengan Siasat Partikelir. Suasanya santai, topiknya pun tidak jauh-jauh dari dua bidang yang kini digeluti Rika dengan total itu. ini akan berbagi pengalamannya dalam menggeluti dunia fashion.

Siasat Partikelir dan Rika saling tektok berbicara membahas eksplorasinya dalam dunia mode dan pandangannya tentang perempuan di dunia musik. Penasaran ? Simak dibawah ini.

– Selama ini Rika dikenal sebagai vokalis band Dromme. Sekarang kamu juga mulai memunculkan identitas baru sebagai fashion designer, kenapa tertarik dengan dunia mode ?

Aku baru saja lulus dari jurusan Fashion Design di ISI Denpasar tahun 2017 kemarin. Dari situlah aku mulai serius menggeluti dunia fashion beserta tata cara berbisnisnya. Awalnya masuk sekolah fashion karena ingin membuat busana untuk kebutuhan manggung semata saja sih.

– Apa ada dorongan juga dari keluarga untuk mencoba hal baru ? Seperti dunia mode.

Aku lahir dan besar di keluarga yang bisa dibilang keluarga seniman. Mama adalah model dan pelatih model sampai sekarang. Sedangkan Papa, fotografer dan pelukis. Dulu waktu kecil sempat ikutan les modelling dengan busana yang di desain oleh mama sendiri. Kiranya seperti itu sih peran keluarga, tidak ada sesuatu yang khusus.

– Untuk Yuniorika sendiri, apakah ini merupakan sebuah pseudonim di dunia fashion atau label brand kamu juga ?

Yuniorika untuk label belum jalan, baru mengeluarkan 1 koleksi berjudul Pisces. Yuniorika sekarang masih made-to-order artinya masih mendesain sesuai pesanan. Secara tidak langsung membuat aku harus berdamai dengan ego sendiri, karena mendengarkan keinginan klien dan melihat personality klien. Yuniorika as a brand nanti karakternya akan quirky , impulsive dan dinamis.

– Caranya menghadapi beragamnya tipe orderan dari klien seperti apa tuh biasanya ?

Tahapannya pasti diawali dengan ngobrol mau desain apa, untuk apa dan kapan di pakainya. Kemudian sambil ngobrol juga melihat personalitynya seperti apa, warna kesukaannya kira-kira apa, baru kemudian masuk di sesi sketsa kasar. 3 gambar kemudian di pilih lalu jika setuju mulai melakukan pembayaran dengan tanda jadi dari setengah harga yang telah disepakati bersama klien. Untuk waktu pengerjaan sendiri sekitar seminggu.

– Menurut kamu, bagaimana industri mode di Indonesia sekarang ?

Di kota-kota besar di Indonesia let’s say Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar sekarang street style-nya oke. Dan seragam, bisa di cek di influencer Instagram.

– Kalau di Bali sendiri, bagaimana ?

Bali pergerakannya seru nih, kain tradisional dipadu dengan desain-desain modern. Katakanlah Weda Githa, Tjok Abi, Bintang Mira, Tude Togog.

– Kamu sendiri, apa yang sekarang sedang dipersiapkan untuk masuk lebih dalam ke industri mode ?

Saya sedang dalam tahap mencari ramuan untuk style yang akan saya pakai sendiri. Apakah tetap di jalur warna alam dan kain tanpa poliester atau lebih berkembang lagi. Semenjak sekolah aku jatuh cinta dengan kain kain tradisional Indonesia. Tidak cuma Bali, namun segala jenis kain yang dimiliki oleh Indonesia. Pattern dan unik, karena tiap patternnya ada ceritanya.

–  Nah bagaimana Rika melihat cara publik memaknai setiap desain yang dibuat ?

Secara umum biasanya menggunakan desain karena terinfluence idolanya atau yang sedang trend di media social. Disini forecasting berperan, sekelompok orang berkumpul dan bersekongkol, warna apa, cuttingan seperti apa yang akan trend di musim depan. Dan sekongkolan juga sama dengan desainer kelas dunia dan di peragakan di fashion week, dipakai pesohor. Kemudian boom, semua pakai.

– Untuk setiap klien yang memesan desain, bagaimana respon mereka di setiap desain yang dibuat ?

Sejauh ini karena made-to-order mereka bahagia, Puji Tuhan klien satu merekomendasikan saya ke klien lainnya. Itu sudah cukup buat bahagia.

– Sekarang soal musik, bagaimana Dromme dari kacamata kamu sebagai frontwoman ?

Dromme itu layaknya rumah sendiri. Mau eksplorasi apapun di rumah itu nyaman saja, karena kita bebas berekspresi didalamnya juga.

– Kamu dulu sempat juga menjadi vokalis di ICA, perbedaan paling terasa antara di ICA dan Dromme kini ?

Di ICA dulu lebih childish jadi warna warnanya juga candy potongan busananya lebih ke babydoll. Aku di Dromme sensen-ya lebih gelap dan couture.

– Ada pendapat soal banyaknya pernyataan bahwa ‘peran perempuan dalam sebuah band itu hanyalah untuk menjadi daya tarik sebuah band itu sendiri’ ?

Seksis deh (tertawa). Band kalau nyawa personilnya menjadi satu tidak akan terpencar. Dan akan menghasilkan nyawa baru. Tidak akan ada namanya pemanis atau hiasan. Jadi aku menganggap tidak ada hal seperti itu.

– Kenapa memilih menjadi seorang vokalis ? Dan bagaimana perkembangan gerakan perempuan di skena musik sejauh penglihatan kamu sekarang ?

Aku bahagia saja nyanyi, apalagi nyanyi lagu sendiri. Perempuan punya taring tajam di semua skena saat ini. Segala genre ada perempuan-perempuan kuatnya. Dahsyat!

– Ada project yang sedang disiapkan kah ? Entah itu dari musik atau mode?

Untuk di sisi fashion, saat ini sedang menyiapkan segala keperluan untuk merilis label Yuniorika. Sedangkan untuk Dromme, aku dan teman-teman lagi mempersiapkan juga untuk album yang rencananya akan dirilis tahun ini.

– Last, what is the ultimate “look without limit” from Rika Yuniorika ?

Be who you are. But know yourself first.

teks: Adjustpurwatama
foto: dok. Rika Yuniorika (Dromme)