Ingatan terkadang seperti orde baru: ia kejam dan mencari jalan keluar atas kekinian yang tak berpihak. Ia kadang menyamar sebagai pendidikan moral pancasila. Ia sewaktu-waktu muncul sebagai ibu negara dengan parfum luar negeri dan konde yang dipaksa manut. Ia muncul menjadi tentara yang punya senjata. Ia menjadi siskamling. Ia menjadi pelarangan atas kebebasan. Ia menjadi-jadi. Celakanya, ia masih hidup.

Sekitar setahun lalu, pada 9 September 2017, band legendaris asal Jogjakarta, Melancholich Bitch, menelurkan album baru yang bertajuk NKKBS Bagian Pertama. NKKBS merupakan kependekkan dari Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, sebuah jargon kampanye pengendalian jumlah pendudukan yang dijalankan orde baru di salah satu periode kekuasaannya.

Mereka absen menghasilkan karya baru sejak merilis Balada Joni dan Susi pada 2009. Album itu pulalah yang menyematkan status legenda pada Melbi, sebutan akrab Melancholic Bitch. Setelah seolah tidur tenang bertahun-tahun, rindu panjang penggemar akhirnya menemukan pelunasan dengan NKKBS Bagian Pertama.

Yang harus dijauhkan lebih dulu adalah anggapan bahwa NKKBS Bagian Pertama akan punya bagian kedua dan seterusnya. Itu janji yang tidak jelas juntrungannya dan dari kacamata penggemar, sebaiknya tidak diharapkan ada. Maklum, urusannya dengan sekumpulan orang yang merasa perlu punya perhitungan super ketat dengan yang namanya waktu dan momentum.

NKKBS Bagian Pertama menjadi menarik disimak karena pembacaan mereka terhadap sesuatu yang kerap dianggap banyak orang sudah basi. “NKKBS Bagian Pertama adalah album tentang keluarga, ya cocok dibilang album tentang keluarga,” ucap Ugoran Prasad, sang vokalis, dalam wawancara di akun youtube Melancholich Bitch.

Tentu, topik itu tidak bisa dilepaskan dari orde baru. Mereka lahir dan besar dalam lingkaran proyek tersebut. Kemudiaan pertanyaan muncul, “Apakah benar membicarakan orde baru adalah hal yang basi?” Kita tentu tak bisa mengambil keputusan tergesa-gesa dalam kasus NKKBS ini.

Hampir 20 tahun sudah Presiden Soeharto jatuh. Hal ini ditandai dengan era reformasi. Kejatuhan Presiden Soeharto menjadi legitimasi hari-hari baru untuk bangsa ini. Reformasi menjadi angin segar bagi mereka yang sudah jenuh dengan nilai-nilai yang ditanamkan orede baru selama 32 tahun. Harusnya begitu.

Tapi pada kenyataannya, nilai-nilai yang ditanamkan orde baru ternyata diwariskan sampai hari ini. Melancholic Bitch dengan sadar menangkap gejala itu. Di Normal-Moral bisa kita dengar, “Hantu-hantu masa kecil, lahir dari tidurnya yang panjang…”
Track Normal Moral adalah sebuah pembacaan bagaimana reformasi masih saja membahas isu-isu yang dianggap usang. Ada banyak isu yang dijadikan biang keladi. Salah satunya komunisme yang sebenarnya sudah benar-benar usang tapi masih diperlakukan seolah-olah relevan oleh konstruksi masyarakat kita secara umum.

Kini, isu-isu komunis masih saja dipakai untuk strategi berpolitik. Era yang harusnya ditandai dengan kearifan berpikir dan adil memandang sejarah, nyatanya masih dipakai oleh pihak-pihak tertentu guna menakuti-nakuti masyarakat. Masyarakat yang harusnya diberikan pendidikan sejarah, pada kenyataan hanya diperbolehkan mendengar dan membaca sejarah versi orde baru. Dan yang mengerikan berlangsung sampai sekarang. Teror jadi senjata penting untuk mengendalikan kehidupan bermasyarakat.

NKKBS Bagian Pertama juga menyoroti bagaimana keberlangsungan kebebasan berpendapat di era sekarang kerap disalahpahami oleh sebagian orang. Dahulu, semua orang takut untuk berbicara. Sekarang? Semua orang bebas berbicara. Saking bebasnya, kita dengan mudahnya menghakimi kepercayaan orang lain dengan merasa dirinya/ kelompoknya lah yang paling benar. Dalam hal bekeyakinan pun, setiap kita dengan mudahnya mengintrepetasikan kebenaran menjadi kebenaran tunggal. Kebenaran absolut dan tak terbantah.

Di 666,6, Melbi berkata, “666,6 ayat tapi matematika kita cacat. 666,6 kalimat tapi bahasa kita singkat.”

Kita menjadi superior atas keyakinan kita. Yang berbeda salah dan yang kita percaya benar. Termasuk konsekuensi jadi penentu segala yang baik dan buruk, surga dan neraka dari kacamata kuda.

Adalah statment yang konyol dan menggelikan jika menganggap NKKBS Bagian Pertama hanya bicara tentang hal-hal yang telah lewat. Justru sesuatu yang telah lewat itulah yang menjadikan kita siap menghadapi hari depan. Dari masa lalu kita belajar dan memperbaiki kesalahan agar tak terjadi di hari depan. Sebagai sebuah album, NKKBS Bagian Pertama berhasil melempar wacana bagi pendengar untuk mendiskusikan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa lampau.

Diskusi ini sudah berlangsung setahun. Sebagai penutup, tak ada salahnya kita berdoa agar Melbi bertanggung-jawab atas wacana yang telah mereka lemparkan dan kini bersemayam di kepala pendengar.

Oh, jangan lupa bahwa di beberapa review yang berseliweran di internet, Melbi banyak dikritik di bagian teknis. Tapi, apalah arti teknis rekaman dibanding ide besar untuk terus mengingat orde baru dan jeniusnya kejahatan yang dilakukan?

Melancholic Bitch di NKKBS Bagian Pertama (dalam foto dari kiri ke kanan) adalah Richardus Arditya, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Nadya Hatta, Yosef Herman Susilo dan Danish Wisnu Nugraha. (*)

Teks: Rio Jo Werry
Foto band: Dok. Melancholic Bitch
Foto live: Yose Riandi