Belakangan ini, Sumatera, seolah seperti aktif melahirkan banyak talenta bagus di bidang musik. Ada geliat yang aktif di sejumlah kota seperti Pekanbaru, Palembang, Medan atau Padang. Salah satu yang menjadi contohnya adalah Cigarettes Wedding asal Pekanbaru. Band yang mulai aktif sejak 2011 ini sedikit demi sedikit mulai menarik minat para penikmat musik di tanah air khususnya mereka yang menyukai musik Post-Rock/Shoegaze.

Cigarettes Wedding beranggotakan El Kautsar Nazer (vokal), Tengku M Fadli (bass, vokal latar), Rizky (gitar, keyboard), Arri J Pratama (gitar, keyboard) serta Adeltra S Nugraha (drum). Band ini telah melahirkan sebuah EP dan album penuh, masing-masing dirilis tahun 2014 dan 2017.

Di dalam perjalanannya, sudah banyak cerita suka dan duka yang mampir. Mulai dari pergantian personil hingga kendala jarak antar kota yang memisahkan para personilnya. Beberapa waktu lalu, kami sempat berbincang dengan El, vokalis Cigarettes Wedding untuk mengorek lebih dalam kisah tentang bandnya.

Apa yang jadi penanda Cigarettes Wedding di industri musik Indonesia?

Penanda keseriusan kami dalam bermusik adalah saat kami merilis sebuah EP pada 2014 silam yang bertajuk “Senja Tinggi”, di dalamnya termuat 3 lagu yaitu “Senja Tinggi”, “Tissue of Quotations” dan “Boy Not Roy”.

Lalu, bagaimana cerita dirilisnya debut album penuh Cigarettes Wedding?

Perjuangannya bisa dibilang agak berat ya, soalnya pengerjaan album ini dimulai di tahun 2012 di mana kami merekam 3 lagu yang akhirnya dimasukkan ke dalam EP terlebih dahulu di 2014. Dalam rentan waktu tersebut, kami sempat berganti personil di lini gitar. Perjuangan terberatnya itu pada saat saya (El) dan Fadli (Bassis) harus hijrah ke kota di luar Pekanbaru. Namun show must go on, kami harus tetap menyelesaikan apa yang harus diselesaikan walau terpisah jarak yang cukup jauh.

Berkarya dengan kondisi personil yang terpisahkan kota suka dukanya apa sih?

Lebih banyak dukanya sih. Hahaha. Ada kalanya pada saat latihan kami selalu minta tolong bassist dari band lain untuk mengisi kekosongan. Untuk di lini vokal, pada saat latihan siapa yang bisa mengisi bagian vokal ya silahkan. Hehe. Yang terpenting kami harus selalu rutin latihan seminggu sekali walaupun tanpa vokalis dan bassist asli. Sukanya ya kalo pada saat akan manggung, kita bisa latihan berjam-jam bersama. Melampiaskan rasa kangennya di atas panggung dengan memberikan penampilan yang terbaik.

Deskripsi akan musik yang Cigarettes Wedding mainkan itu seperti apa? Selain orang tahu kalo musik Cigarettes Wedding itu Postrock/ Shoegaze?

Musik kita seperti memberikan penanda akan cuaca yang murung. Hahaha, bercanda. Musik kita itu selalu dekat dengan suara-suara delay reverb yang mengawang, cukup dinikmati dengan duduk dan mendengarkan dengan baik. Lewat musik kami ingin menyampaikan perasaan kami. Musik kami seperti musik perenungan.

Hal apa lagi yang paling menyenangkan dari menjadi anak band?

Secara general kami menganggap ngeband bisa menjadi tempat kami dalam meluapkan emosi-emosi dalam berkesenian. Selalu menjadi tempat kami curhat, tempat kami membagikan rasa bahagia dan sebagainya. Pokoknya kami pasti selalu puas setiap sehabis tampil.

Kalian juga sempat menggelar tur di dua kota yaitu Bandung dan Yogyakarta. Pengalaman apa yang didapatkan serta apa kesamaan dua kota tersebut dengan di Pekanbaru?

Kalo berbicara soal pengalaman, jelas kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dan luar biasa saat itu. Juga belajar bagaimana mengelola waktu, stamina serta keuangan, itu luar biasa. Dan pada saat menggelar tur tersebut, kami disambut dengan sangat hangat di dua kota yang kami singgahi. Itu di luar prediksi kami yang awalnya pesimis akan disambut dengan hangat. Awalnya kami hanya berpikir tur ini hanya untuk menjadi ajang promosi serta jalan-jalan. Salut dan terima kasih banyak untuk teman-teman di Bandung dan Yogyakarta, kami merasa seperti di kampung halaman kami sendiri. Kesamaan dengan Pekanbaru, dua kota tersebut sangat mengapresiasi teman-teman band yang mampu menjalankan sebuah tur dengan mandiri.

Bagaimana proses mencipta sebuah karya bagi kalian?

Kami selalu berpatokan dengan apa yang ada di sekitar, apa yang dirasakan dan dilihat. Kami mencoba untuk menuangkannya ke dalam musik. Contoh saat kami menulis lagu Cerita Langit, itu adalah lagu yang saya tulis liriknya. Saya mengintepretasikan keadaan Pekanbaru pada tahun 2016 dimana pembalakan dan pembakaran hutan secara liar dan besar-besaran pada saat itu yang menyebabkan bencana kabut asap yang sangat hebat.

Untuk industri kreatif sendiri di Pekanbaru, bagaimana perkembangannya saat ini ?

Sudah sangat berkembang dengan pesat, banyak bermunculan orang-orang kreatif dari bidang apapun, serta banyaknya work space yang bisa kami gunakan untuk berkarya. Seru, kota Pekanbaru menjadi semakin menyenangkan.

Berbicara soal genre musik, apakah musik yang dimainkan oleh Cigarettes Wedding saat ini sudah diterima dengan baik oleh para penikmat musik di kota Pekanbaru?

Untuk secara global, musik kami mungkin belum bisa diterima. Karena banyak yang merasakan musik kami tidaklah umum di telinga orang-orang di Pekanbaru.  Bahkan tidak sedikit yang mengatakan kalau musik kami lebih bisa diterima di luar Pekanbaru. Tapi kami selalu berusaha dan selalu memberikan penampilan yang terbaik dimanapun kami tampil.

Untuk hal teknis seperti rekaman dan membuat rilisan fisik, apa kendala yang ditemui di Pekanbaru ?

Untuk rekaman sendiri, sejauh ini kami tidak mendapatkan kendala yang sangat menyusahkan. Masih aman sejauh ini menurut kami, namun untuk membuat rilisan fisik yang agak mendapatkan kendala. Karena untuk penggandaan cd saja kami harus ke Jakarta serta untuk urusan cetak mencetak cover kami harus ke Bandung. Sebab di Pekanbaru biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit.

Pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini dalam proses berkarya?

Pada saat kami membuat aransemen lagu Tissue of Quotations, hampir 5 bulan lamanya kami mengerjakan aransemen dari lagu tersebut. Dari yang awalnya memiliki durasi 14 menit, lalu kami pangkas menjadi 11 menit. Sampai akhirnya kami mendapatkan durasi yang pas. Karena kami harus menyesuaikan antara durasi dan aransemen yang ada. Seru pokoknya.

Sejauh ini, batasan-batasan apa yang ingin dikulik lebih jauh oleh kalian?

Kami ingin berekplorasi dan bereksperimen lebih banyak di sound musik kami, lebih banyak memasukkan unsur musik ambient. Lebih ingin eksplor ke arah sana untuk saat ini.

Seandainya berhasil menjadi pemenang Siasat Trafficking – Europe Calling, apa yang ingin dilakukan?

Kami ingin merekam beberapa lagu di sana. Hitung-hitung bisa menjadi oleh-oleh yang sangat berharga. Tampil tentunya menjadi hal yang wajib kami lakukan. Membawa misi mengenalkan kalau di Indonesia memilik ragam musik yang banyak.

Saat ini Cigarettes Wedding bersama 9 band terbaik lain dari banyak daerah di Indonesia sedang berada di babak paling menentukan dari program Siasat Trafficking – Europe Calling, yaitu 10 besar. Pantau terus www.siasatpartikelir.com untuk kelanjutannya.

teks: Adjustpurwatama
foto: Dok. Cigarettes Wedding