Nama Panji Purnama Putra, akrab dipanggil Jin Panji, beberapa tahun belakangan ini aktif menjalankan peran dokumentasi di banyak perhelatan seni budaya di Jakarta. Mulai dari seni rupa, musik, hingga street art seringkali melibatkan dirinya. Kehebatannya menangkap momen, memupuk reputasinya sebagai seorang fotografer panggung yang harus diperhitungkan karyanya.

Jin Panji adalah pribadi yang sangat menyenangkan. Teman-teman di sekitarnya sering mengolok-olok bentuk wajahnya yang begitu purba. Beberapa bahkan mengajaknya membuat sebuah mini seri yang jelas-jelas memintanya berperan menjadi seorang manusia yang salah jaman. Senyumnya yang manis, kadang melengkapi kesan. Belum lagi poni lurus dan berbagai macam atribut Adidas yang menempel di badannya.

Ada satu kesepakatan umum di komunitas tempatnya berkarya, “Jin Panji itu jeleknya minta ampun, tapi Tuhan adil. Ia diberi talenta besar untuk merekam.” Ada banyak becandaan yang patut dialamatkan pada dirinya sebagai seorang individu. Tapi, jika sudah berurusan dengan karya foto atau videonya, rasanya kita perlu sedikit serius.

Jika berhasil masuk ke dalam dunia pengkaryaannya, rasanya kekaguman atau perasaan enak menikmati karya-karyanya akan lebih dominan ketimbang keinginan untuk mengajaknya bercanda. Ia disegani lewat karya, seperti seharusnya seorang seniman hidup dan memberi arti pada sekitar.

Editor Felix Dass, berbincang dengan Jin Panji di sebuah malam yang panjang. Dalam rangka merekam kepadatan jadwalnya berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya, wawancara ini dilakukan. Biar ada pertanda waktu, jika satu hari nanti ia makin melejit dan semakin sulit dicari keberadaannya secara fisik di Jakarta, minimal ada wawancara ini untuk dibaca kembali.

Jin Panji adalah salah satu aset Jakarta yang harus dilestarikan keberadaannya; baik karya maupun wajah purbanya. (*)

Kita mulai dengan sesuatu yang standar. Bisa cerita gimana pertama kali tertarik dengan fotografi?

Awalnya tertarik karena bentuk kamera. Kok bisa dengan alat itu bisa merekam apa yang kita lihat? Padahal kan cuma pake alat gitu doang, kok bisa ya? Ketertarikan itu membuat gue menjadi penasaran dan pengen tahu lebih lanjut. Sampai sekarang pun masih penasaran sih kok bisa. Belum selesai rasa penasarannya.

Gimana prosesnya meneruskan ketertarikan itu jadi sebuah aksi? Dan akhirnya mulai motret?

Kisahnya bermulai pada saat awal masuk kampus seni rupa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ngomong-ngomong, baru kali ini nih, gue diwawancara. Jadi gini, karena di seni rupa mempelajari banyak hal termasuk fotografi di dalamnya, gue bergabung dengan klub fotografi kampus yang namanya KMPF. Itu awal tahun 2006. Dulu nggak punya kamera sama sekali, karena tidak punya uang. Suka dipinjemin sama teman-teman. Pada masa itu, yang punya kamera digital bisa dihitung pakai jari. Pertama kali belajar pakai Nikon FM10. Dari situ belajar ngabisin duit, karena masih belajar fotonya nggak fokus, dan lain-lain. Lalu, belajar terus diajarin sama kakak kelas yang baik hati, ikut hunting sana-sini, lihat pameran, pernah ikut Kelas Pagi-nya Anton Ismael dulu tahun 2007 kalau nggak salah. Tapi cuma setengah jalan, soalnya bentrok sama kuliah. Proses itu terhenti sampai tahun 2009. Saat itu gue punya kamera Nikon F90X. Kameranya hilang, terus gue jadi males lagi. Berhenti sampai tahun 2013. Nah, dari situ, ketertarikan muncul lagi. Tahun itu belum punya kamera lagi. Akhirnya kerja dulu. Bikin mural, display pameran, dan lain-lain. Dari situ bisa beli kamera digital pertama, Canon 60D. Seneng banget. Baru deh, sampai sekarang. Gue inget, dulu yang pertama kali ngajak untuk motret membantu perhelatan seni budaya itu Nissal Berlindung –artis visual berbasis Jakarta, bagian dari kolektif Gardu House—. Sejak itu, ya masuk ke babak baru.

Cerita belok ke fotografi panggung gimana?

Karena gue suka musik dan tatanan cahaya yang kadang ajaib aja kalau difoto. Suka mendapatkan hal yang tidak disangka dari foto panggung. Apalagi kalau gue juga suka sama musik yang difoto. Ini jelas jadi semangat tersendiri untuk bikin foto yang bagus.

Jadi, berapa lama kalau dihitung sudah melakukan ini?

Ya, hampir delapan tahunlah.

Sampai ke titik kualitas yang sekarang ini gimana? Prosesnya. Jatuh bangun nggak?

Kualitas pasti harus meningkat ya, karena proses tidak membohongi hasil. Ya, pasti jatuh bangun. Sampai sekarang malah. Menurug gue, harus terus jatuh bangun biar ngerasain nanti di akhir perjalanannya kaya gimana. Namanya juga manusia, nggak ada puasnya. Godok terus.

Menurut lo sendiri, titik balik dapat perhatian orang itu kapan?

Kayaknya 2014-an akhir.

Dari apa yang sudah terjadi, kekuatan utama lo apa sih?

Wah ini, susah jawabnya ya? Gue mencoba untuk memberikan yang terbaik yang gue bisa aja sih. Mungkin dari framing atau malah dari gue yang sering senyum, itu yang jadi kekuatan gue. Haha.

Balik lagi, yang paling menarik dari fotografi panggung sekarang itu apa sih menurut lo?

Masih artistik panggung dan tata cahaya sih. Itu yang paling menarik. Kalau nggak ada itu, hambar rasanya, bang.

Tapi pernah dalam kondisi busuk ketika beraksi? Yang jauh di bawah standar lo tantangannya?

Pernah pasti. Yang gue lakukan, ya udahlah, sikat aja. Jepret, jepret, Jepret.

Biasanya berhasil begitu?

Pasti berhasil.

Ketika sudah ada hasil, elo banyak menggunakan digital imaging nggak dalam karya lo? Atau mengandalkan apa yang dihasilkan di lapangan?

Gue lebih ke mengandalkan apa yang dihasilkan saat itu juga sih.

Kalau motret, pakai riset dulu nggak siapa yang main? Kalau pas dapat yang nggak masuk di selera, gimana caranya mengeluarkan potensi terbaik dari pertunjukan itu?

Kadang riset, kadang juga nggak. Suka random aja pas hari itu gue mau motret, ya udah deh, sikat. Kalau pas yang nggak masuk selera sih, biasanya nunggu momen dulu satu lagu untuk ngeliatin ekspresi si artis, baru lagu kedua setelah gue tahu flownya doi, langsung jepret.

Hasil yang kayak gitu ada nggak? Yang elo nggak selera tapi kemudian berhasil mendapatkan gambar bagus?

Ada, waktu itu pas di SCBD kalo ga salah.

Terus, bang, hasil yang paling elo seneng yang mana? Kenapa itu jadi favorit lo?

Pas gue fotoin Stars and Rabbit waktu salah satu sesi Soundsations. Kalau nggak salah di Jakarta Barat deh waktu itu.

Kenapa?

Pas banget lampu jatuh di titik ekspresi sang vokalis lagi memejamkan matanya.

Menurut lo, karir fotografi ini mau dibawa ke mana sih? Apakah dijadiin buku, bikin pameran, atau…

Tujuannya sih pasti kepengen dibikin buku. Tapi belum tahun kapan. Lagi rapih-rapih manajemen waktu dulu. Bikin buku itu bikin karya jadi kekal abadi.

Kebanyakan narik ya, bang? Eh, tapi serius nih, obsesi apa yang belum kejadian?

Iya nih, lagi kebanyakan, bang. Itu obsesinya, ada keinginan bikin buku foto. Buat gue, kalau sudah dicetak tuh, rasanya beda.

Yang elo pengen foto, tapi belom kejadian?

7 Kurcaci sih kalau masih ada. Atau Daniel Sahuleka. Haha.

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dokumentasi Jin Panji