Muhammad Taufan dan Nabilla Syafani adalah dua sejoli vokal-gitar  yang membentuk grup Manjakani. Mereka baru memiliki satu single, “Asmaraweda” (dirilis 2016) sejauh ini. Meski demikian, pergerakannya patut diacungi jempol untuk ukuran band yang masuk kategori muda belia.

Dalam beberapa kesempatan, Manjakani rela terbang jauh-jauh dari kota asal mereka di Pontianak ke Jakarta. Termasuk ketika wawancara untuk artikel ini dilakukan. Semuanya dilakukan untuk meramu dan merekam debut album yang sedang dipersiapkan sematang mungkin. “Sejauh ini prosesnya sudah sekitar 80%, tinggal take vokal untuk dua buah lagu terakhir,” ungkap Nabila kepada Siasat Partikelir.

Album perdana mereka digarap bersama dengan produser musik MC Anderson di Jakarta. “Beliau memang ada di Jakarta, kami rekaman di studio dirumahnya. Jadi agar ringkas urusan teknis, kami memilih terbang ke Jakarta beberapa hari untuk rekaman album ini. Dan supaya lebih fokus saja sih,” tambahnya lagi tentang progres pengerjaan.

Nabila mengaku sebelum ke Jakarta, mereka sempat merekam beberapa lagu di Pontianak, namun hasil akhirnya kurang memuaskan. Ada beberapa faktor yang mengganggu, seperti jadwal rekaman yang tidak konsisten dan kesibukan lain diluar kegiatan bermusik, diakuinya dua faktor tersebut yang paling membuat mereka hilang fokus.

Manjakani memiliki pandangannya sendiri tentang perkembangan musik di kota Pontianak. Memang kota ini bukan berada di peta utama perkembangan dunia musik tanah air, tapi setidaknya Pontianak mau untuk berkembang. Banyak kolektif yang diakuinya kini sedang rajin bergerak dan menerabas banyak batasan.

“Pontianak punya beberapa problem menurut saya. Semisal kita bicara infrastruktur, masih kurang memadai. Bahkan kami tidak punya gedung pertunjukan yang benar-benar layak pakai untuk sebuah pertunjukan musik atau teater. Tapi meski demikian, teman-teman sendiri akhirnya menciptakan ruang-ruang alternatifnya sendiri, rasa kolektif yang seperti ini yang sedang seru di kota Pontianak.”

Pun tidak hanya di bidang musik, Pontianak banyak memberi peluang untuk bersinggungan dengan banyak sisi kreatif lain. “Sebagai contoh waktu kami membuat video musik untuk Asmaraweda, waktu itu berkolaborasi dengan teman-teman yang aktif di teater taman budaya Pontianak, dan seorang videografer bernama Fietra Rey. Banyak juga ilustrator dan desainer grafis yang membantu urusan desain bagi band-band lokal di Pontianak. Kira-kira seperti itu, semangat kolektif tidak hanya dari satu bidang, tapi bersama-sama,” tambahnya.

Dengan banyaknya kekurangan di sekitar, Manjakani pun tidak memiliki opsi lain selain bergerak secara mandiri. Makanya mereka beberapa kali ikut submission agar bisa tampil di panggung-panggung yang baik, seperti Folk Music Festival 2017 (Malang) dan Soundrenaline 2017 (Bali). Lalu hasilnya pun sesuai harapan. Dari sana, Manjakani kemudian rajin membuka dan mengolah peluangnya lagi.

“Kami sebetulnya tidak merencakan semua hal itu.Awalnya ikut submission di beberapa acara yang ada di luar Pontianak, ternyata lolos dan berhasil manggung. Nah, dari sana kami bertemu teman-teman baru yang berdampak baik untuk kegiatan bermusik kami,” jawab Nabilla.

“Salah satu tujuan kami bermain musik adalah menyebarkan karya seluas-luasnya. Dan salah satu cara yang paling logis untuk dilakukan adalah harus berani dan rajin membuka peluang-peluang baru tersebut. Berjejaring dan bertemu kawan baru, tentu banyak ilmu yang kami dapat selama perjalanan ini.”

Kini Manjakani menaruh harapan pada album perdananya. Semoga nantinya album ini bisa membawa mereka lebih jauh dan didengar lebih luas lagi. “Harapan tentu ada. Abum ini akan jadi salam perkenalan kami, Manjakani, kepada khalayak. Semoga bisa menjadi (bagian) puzzle di musik Indonesia,” harap Nabila.

Yang mereka tawarkan kini adalah sebuah kesederhanaan yang dikemas dengan tidak sederhana secara konsep. Untuk temanya, masih membahas banyak aspek kehidupan. Manjakani pun amat menikmati prosesnya. Dari mulai bongkar pasang aransemen, semi karantina di Jakarta, sampai berhasil menemukan produser yang diakui mampu mengeksplor kemampuan mereka.

Manjakani sekarang berada pada babak 10 besar program Siasat Trafficking – Europe Calling sebagai duta Pontianak. Bila berhasil keluar sebagai pemenang, janji mereka juga tidak muluk, hanya ingin membawa pengalaman tur Eropa kepada pada kawan-kawan kolektif di kota Pontianak, karena mereka merasa ilmu yang didapat harus dibagikan seluas-luasnya.

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Manjakani