Seberapa besar minat menulis dan membaca yang kita miliki? Pertanyaan ini sering kali dilontarkan dan jadi konsumsi di benak orang banyak. Beberapa sumber sering mengutip bahwa Indonesia tercatat sebagai negara yang minat bacanya sangat minim. Padahal banyak karya bagus yang dihasilkan dari penulis-penulis Indonesia. Makassar punya upaya konstan untuk melawan stigma itu lewat Makassar International Writer’s Festival (MIWF).

Festival ini hadir sejak tahun 2011. Penggagasnya adalah Rumata Artspace. Festival ini berhasil mengusik banyak orang untuk ikut turut ambil bagian. Menjadi besar adalah efek yang kemudian terjadi. Tahun 2019 ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, MIWF kembali digelar.

Kali ini, MIWF mengambil tema People atau orang atau rakyat, sehingga cakupannya bisa melebar. Atas dasar tema tersebut, MIWF membuka ruang obrolan soal orang-orang biasa yang berdedikasi di berbagai bidang. Tema ini juga diangkat sebagai respon atas Pemilu 2019 yang baru saja selesai diselenggarakan. Festival ini juga bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan budaya membaca untuk orang-orang serta menyebarkan virus kegembiraan literasi.

“Kami memilih tema People karena negara tercinta ini baru saja selesai mengadakan pemilu yang paling kompleks di dunia dan wacana serta media arus utama dikuasai oleh urusan politik. Sementara people (rakyat) seolah-olah hanya diperhatikan saat perebutan kekuasaan,” jelas Lily Yulianti Farid, selaku direktur MIWF.

Tahun ini sekitar 55 penulis/ pembicara baik lokal maupun mancanegara akan hadir. Mereka akan membagikan kiat-kiat serta cerita mereka tentang dunia literasi yang digeluti.

Catat tanggalnya, 26-29 Juni 2019. Berpusat di benteng Fort Rotterdam, Makassar. Mari rayakan budaya literasi dan lestarikan.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Makassar International Writers Festival