Sudah bukan merupakan barang baru memang bila mengatakan bahwa Bandung adalah kota kreatif, baik itu dari para pelaku dan industrinya sendiri. Insan-insan yang berada didalamnya tidak pernah merasa nyaman dengan apa yang sudah ada saat ini, cara berpikir mereka liar, mencoba terus membuka ruang-ruang baru yang nantinya akan bisa dimanfaatkan bersama.

Semenjak tahun 2017 kemarin, ramai lalu lalang lewat di media sosial tentang Lazy Hiking Club, apa itu ? sekelompok pemalas yang sedang belajar naik gunung ? atau kegiatan naik gunung dengan niat setengah-setengah yang diisi oleh mindset ‘puncak adalah bonus, bukit saja sudah cukup’, iya itu ?

Bukan, kedua tidak benar. Karena Lazy Hiking Club adalah sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh Lazy Club. Bertujuan sebagai ajang kumpul dan bersenda gurau. Isinya adalah dua macam seniman yang ada di kota Bandung, yang pertama adalah tipikal seniman yang pusing karena banyak pekerjaan, dan yang satunya adalah seniman yang pusing karena tidak memiliki banyak pekerjaan.

(Lazy Hiking Club #12)

Kegiatan ini digelar pada akhir pekan, waktu libur yang pas untuk menutup minggu dan membuka minggu berikutnya. Pada awal Lazy Hiking Club mulai dijalankan, mereka yang turut berpartisipasi adalah musisi-musisi dan seniman yang mencari refreshing atas kepenatan dari masing-masing. Mereka kemudian beramai-ramai kabur dari rutinitas mencari tempat yang sepi.

Kenapa harus tempat yang sepi ? karena semua tahu, Bandung akan berubah menjadi lautan manusia dan padat merayapnya kendaraan bermobil pada akhir pekan. Alih-alih mencari sarana hiburan dan refreshing menghirup udara segar, malah bisa makin menambah runyam kepala jadinya apabila tidak kabur ke tempat sepi yang jauh dari pusat kota, itu alasan mereka menggagas Lazy Hiking Club.

Kita pilih tempat yang sepi soalnya weekend di Bandung tuh chaos juga, ya mau enggak mau kita harus cari tempat yang sepi dan belum banyak orang yang tahu untuk kegiatan ini. Jadi bisa santai,” Anggung Suherman dari Bottlesmoker memberi keterangan. Dirinya menjabat sebagai tim internal Lazy Club, penampil dan peserta setia dari kegiatan Lazy Hiking Club ini.

Seperti banyak kegiatan lainnya, juga sebagaimana mestinya hukum alam, bila acara tersebut di setiap episodenya kian seru dan semarak, otomatis grafiknya akan berbanding lurus dengan peserta yang ingin ikut hadir kesana. Menurut Anggung Suherman atau yang lebih dikenal dengan nama Angkuy dari Bottlesmoker ini, pada awal dibuat Lazy Hiking Club ini pesertanya berjumlah tidak lebih dari 10 orang. Kemudian semakin hari makin ramai, hingga di gelaran teranyar mereka, yaitu episode 12, pengunjung menyentuh angka 70-an orang lebih. “Di edisi pertama tuh kita hiking ke Taman Hutan Raya, cuma ber kalau enggak salah, darisana kita merasa refreshed, yaudah jadi aja di lanjut,” Angkuy menambahkan lagi.

Bottlesmoker sendiri yang dijalankan oleh duo Angkuy dan Nobie tampil di episode ke 3. Hebatnya Lazy Hiking Club, mereka berhasil menarik perhatian publik nagri untuk turut berpartisipasi. Tercatat nama Unii dari Jepang dan Sautel Cago dari Perancis juga pernah hadir meramaikan Lazy Hiking Club.

Lazy Hiking Club juga sadar betul tentang pentingnya pendokumentasian. Semenjak edisi ke 8 pun mereka rutin menggelar rekaman live untuk para musisi yang tampil, lalu kemudian di unggah ke kanal YouTube Lazy Club.

(Lazy Hiking Club #12)

Tujuan Lazy Hiking Club pun sebenarnya sangat sederhana pada saat mereka mulai, sekedar ingin mengenalkan band-band baru, tepat baru dan produk-produk lokal di kota Bandung. Hingga pada akhirya, mereka pun menjalin kerjasama dengan Kebun Belakang, kios mungil yang menjual produk-produk sayuran organik. Kerjasama kedua pihak ini tidak terlalu ribet, namun tepat guna. Mereka berdua sepakat untuk bersama-sama menanam tanaman di tempat mereka mengadakan Lazy Hiking Club, sebuah langkah kecil untuk menghijaukan kembali kota kembang. Tidak sampai disitu saja, Angkuy juga mengaku bahwa saat ini Lazy Club sudah menyiapkan kerjasama dengan para berbagai kelompok belajar, semisal workshop melukis dan lainnya.

Namanya saja sudah Lazy, mereka tentu tidak mematok acara ini harus terselenggara dengan waktu yang konstan, semisal sebulan empat kali, dua kali atau sebagainya. Semua hanya akan jalan bila mencapai kata sepakat dari panitia dan peserta, waktunya relatif fleksibel dan menyesuaikan kepada banyak pihak.

Ketika ditanya apakah Lazy Hiking Club akan menjadi lebih besar lagi di edisi-edisi yang mendatang, jawabannya juga sederhana. “Lazy Hiking Club kan terasosiasi dengan Lazy Club, ini salah satu program mereka. Dulu Lazy Club punya Lazy Fest, program rutin 2 bulan dengan konsep arisan. Jadi sampai saat ii sih sudah ada obrolan untuk membuat Lazy Hiking Club dan Lazy Fest untuk disatukan kemudian digarap dalam skala yang lebih besar. Tapi ini semua masih tahap dikembangkan sih,” tutur Angkuy lagi. Lazy Club juga ternyata tidak lazy-lazy amat kalau melihat dari deret kegiatan mereka. Buktinya, ada Lazy Yoga Club, Lazy Swimming Club, dan yang kini sedang digodok adalah Lazy Motorcycle Club.

(Lazy Hiking Club #12)

Diakui oleh Angkuy mewakili Lazy Club, hal yang paling menyenangkan dari Lazy Hiking Club adalah bisa menjadi momen liburan bersama keluarga dan teman-teman, yang datang pun akhirnya bisa berkenalan antar satu dengan yang lainnya. Mereka menciptakan sebuah ekosistem positif yang baru di jantung kota Bandung. Lazy Hiking Club adalah tentang bersenang-senang dalam kesederhanaan, seperti mengenal alam dan lingkungan dan menjaga agar mereka tetap bersih dan segar. “Kita jadi bisa berpikir lebih sederhana aja sih disini. Kalau ternyata bahagia itu bisa se-simple dengan makan dengan alas daun bersama-sama, bisa nyanyi-nyanyi bareng sambil main di sungai, atau mengitari perbukitan,” tutup Angkuy.

Sejauh ini, sampai di edisi ke 12, mereka yang pernah meramaikan Lazy Hiking Club adalah Nada Fiksi, Senandung Taman, Feira Otna, Teman Sebangku, Dadimsdim, Naar Boeven, Yamasurih, Leanna Rachel, Okky Ade Chandra, Oscar Lolang, Jon Kastella, Jason Ranti, Fils, Bilal Al Wahid, Mustache & Beard, Nil Saujana, Wake Up Iris!, Munthe, Curly & Me, Alvin Baskoro, Syarikat Idola Remaja, Garhana.

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: dok. Lazy Club