Gresik untuk sebagian orang mungkin hanya dikenal sebagai kota industri di Jawa Timur. Dulu, ada tambahan keberadaan Gresik United, salah satu tim sepakbola yang punya sejarah panjang di Indonesia. Tapi, sejak tim itu turun kasta dari Liga 1 langsung ke Liga 3 dalam dua tahun berturut-turut, kisahnya sudah terlupakan secara otomatis dari penanda kota.

Dari kacamata industri, Gresik mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Iklim dan kebijakan investasi membuat para investor semakin nyaman dalam berbisnis. Namun demikian, geliat kehidupan anak muda tergerus di lingkungan yang makin berorientasi bisnis.

Bukan menjadi sebuah rahasia lagi bahwa Gresik mempunyai kekurangan ruang dan sarana untuk berekspresi. Gedung yang representatif untuk berkesenian bahkan hampir tidak ada. Ruang-ruang untuk eksebisi, seringkali berebut jadwal dengan acara nikahan yang memenuhinya.

Minimnya perguruan tinggi juga menjadi masalah tersendiri yang menyebabkan banyak anak muda kota itu perlu keluar untuk melanjutkan studi tinggi dan kemudian jadi nyaman di kota barunya. Seringkali, orang memandang bahwa Gresik adalah kota yang tidak ramah untuk kegiatan merayakan hidup yang erat hubungannya dengan pembentukan kebudayaan.

Ada kisah menarik yang kemudian bisa dikabarkan di tengah riuhnya kehidupan industri. Sejumlah anak muda yang bertahan, justru menjadi militan. Kebutuhan untuk terus beraktivitas menjadi alasan untuk melawan keadaan. Pameran lukis terjadi di jalan-jalan, di bawah pohon, di warung kopi. Yang mampu menulis, akan membuat zine dan webzine. Jaringan luar kota ditarik main ke Gresik untuk menceritakan proses kreatif kota lain dan bertukar informasi. Hal-hal yang tidak ada di Gresik, diupayakan hadir. Misalnya ketika tidak ada bioskop, komunitas film akan berkeliling untuk mengadakan pemutaran film dengan model layar tancap.

Salah satu yang bertarung dengan keterbatasan ini adalah Gresiknesia. Pada mulanya, Gresiknesia adalah wadah untuk mewujudkan gagasan tentang imajinasi kota yang diidamkan oleh para inisiatornya. Bahwa kota tidak melulu tentang kekuasaan. Para penggerak Gresiknesia membayangkan ada kota yang mampu untuk ber-sinergi dengan dengan warganya untuk sesuatu yang baik.

Pada 2018, barulah Gresiknesia mampu berdiri secara fisik dalam wujud tempat yang memiliki warung, ruang baca, tempat menginap dan fasilitas-fasilitas untuk melakukan proses kreatif.

Salah satu yang mengawali adalah komunitas Gresik Movie yang kemudian menciptakan Yayasan Gang Sebelah untuk payung hukum kegiatan mereka. Kesadaran mengenai ekosistem yang sehat tidak mungkin berjalan sendirian, maka dari itu kemudian mereka menggandeng Sanggar Teater Intra, Ruang Sastra Gresik dan Kelompok Musik Onomastika. Selain komunitas, individu pegiat seni rupa, fotografi dan berbagai disiplin ilmu lainnya pun tidak luput mereka gandeng. “Kesemuanya hidup dan bersinergi di kota Gresik,” tegas Irfan Akbar, salah satu inisiator Gresiknesia yang ditemui Siasat Partikelir.

Modus operandi Gresiknesia adalah menghubungkan pihak-pihak yang mungkin bekerjasama dalam penggarapan sebuah karya. “Misalnya, ketika membuat film, mereka akan menggandeng band-band yang mau mengisi soundtrack atau kawan-kawan teater yang bisa menjadi aktor,” ungkap Irfan. “Kami bisa menjadi penghulu untuk menikahkan mereka dengan jaringan lainnya,” lanjutnya.

Gerakan swadaya ini, tidak bergantung pada pemerintah setempat. Mereka menjalaninya dengan kemandirian yang pekat. “Pemerintah daerah, kalau di Gresik, lebih mementingkan hal-hal yang menguntungkan untuk mereka, ketimbang harus mengurusi komunitas-komunitas di Gresik. Mungkin mereka belum sadar bahwa komunitas adalah salah satu aset besar kota,” katanya mengkritik.

Salah satu kegiatan mereka yang perlu dicatat adalah Festival Merayakan Luka.

“Ketika banyak orang membicarakan karya seni adalah hal yang harus diapresiasi, Gresiknesia memilih mundur satu langkah untuk melihat kegelisahan apa yang telah membuat luka sehingga karya diciptakan. Festival Merayakan Luka difokuskan pada perenungan manusia. Kemudian mengemasnya menjadi sesuatu yang perlu diceritakan dengan media seni; film, buku, musik dan lain sebagainya,” terang Irfan tentang konsep di balik festival yang menjadi salah satu program paling besar Gresiknesia ini.

Ada beberapa rencana masuk dalam program kerja mereka ke depan. Salah satunya perilisan video live Onomastika yang menggelar konser tunggal bersama Gang Sebelah. Mereka juga akan memproduksi film terbaru yang punya judul Gemintang.

Pergerakan Gresiknesia bisa terus dipantau via akun Instagram mereka, @gresiknesia. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. Gresiknesia