Ibukota Sulawesi Tengah, Palu, punya bentangan alam yang sangat indah. Tidak bisa dipungkiri lagi keindahannya. Pegunungan yang berjajar dengan megahnya, serta hamparan pantai yang begitu cantik, menjadi daya tarik tersendiri kota ini.

Tidak berhenti di situ, Palu ternyata menyimpan harta karun lainnya. Industri kreatif di sana, perlahan namun pasti mulai menanjak dan menonjolkan dirinya. Satu dari sekian banyak pelaku kreatif di sana adalah Inu Putra Pratama. Dia adalah sosok di balik nama Indie Palu, Harus Kolektif dan banyak hal kreatif lainnya.

Untuk Indie Palu sendiri, mungkin beberapa kawan di luar Sulawesi Tengah telah mengetahuinya. Indie Palu merupakan sebuah portal musik yang membahas segala bentuk pergerakan musik di kota Palu dan juga Indonesia. Sementara Harus Kolektif sendiri adalah sebuah unit baru yang dibentuk oleh Inu Putra karena keresahannya akan berkurangnya wadah-wadah kreatif yang harusnya bisa menjadi ajang unjuk gigi para musisi di kota Palu.

Dari keresahan inilah akhirnya muncul ide untuk membentuk suatu wadah kolektif dan melibatkan teman-teman yang memiliki latar belakang dari komunitas berbeda untuk bekerja sama. Tujuannya satu: untuk lebih mengembangkan dan membuat kancah musik di kota Palu tetap lestari.

“Untuk saat ini fokusnya lebih ke arah mana, kita lebih fokus dulu ke ekosistem musiknya. Ingin dijayakan kembali apa yang pernah padam,” tutur Inu Putra.

Sejauh ini Harus Kolektif memiliki dua program yaitu Harus Sepanggung dan Kubisa. Untuk Harus Sepanggung sendiri lebih memfokuskan untuk membuat sebuah gigs rutin agar menjadi tempat para pelaku musik bisa tetap berkarya, sementara Kubisa lebih ke diskusi-diskusi santai yang melibatkan komunitas, media lokal dan juga sosok-sosok yang dianggap kompeten untuk berbagi edukasi seputar musik. “Musik bukan hanya sekedar menciptakan nada dan lirik. Lebih dari itu, musik sangatlah luas,” tambahnya.

Yang menarik dari program-program yang dijalankan oleh gerakan ini adalah tidak melulu hanya pelaku musik yang bisa menikmati dan mengaksesnya. Menjajal tempat-tempat umum seperti kafe dan public space juga dilakukan, dengan tujuan agar pasar yang sedang dikembangkan ini bisa terasa dampaknya kepada khalayak umum.

“Kami sengaja menggelar program ini di tempat umum dengan tujuan ekspansi atau perluasan pasar dilakukan secara masif sehingga sadar atau tidak, perlahan jumlah penikmat pun semakin banyak dan hasil akhirnya ekosistem musik di kota Palu akan semakin terbentuk” jelas Inu Putra lagi.

Sadar atau tidak, gerakan seperti ini sangatlah penting dilakukan. Bekerja secara komunal selalu ada langkah yang harus ditempuh untuk lebih merespon persoalan yang ada dan ke depan bisa menanggulanginya bersama. Upaya yang dilakukan jelas harus selalu memberikan semangat guna memacu kreativitas agar terus terasah dan bisa selalu berkarya.

Gerakan seperti ini tentu saja tidak selalu mulus dalam perjalanannya. Kritik dari orang terdekat, ketidaksukaan dengan konsep yang disajikan selalu menjadi bumbu pelengkapnya. Juga ego masing-masing yang harus dikesampingkan terlebih dahulu agar kedepannya apa yang ingin dicapai bisa terwujud.

Hal itulah yang menjadi senjata utama dari gerakan ini; selalu menghilangkan ego, saling berkomitmen dan bekerja sesuai visi misi yang telah disepakati. Mereka sadar betul bahwa menghilangkan ego masing-masing dapat menghilangkan sekat yang bisa menghambat tumbuh jalannya gerakan ini harus dilakukan. Dan juga mereka sadar bahwa letak geografis yang jauh dari jangkauan media-media musik besar membuat gerakan ini harus bekerja ekstra untuk mendapatkan eksposure lebih.

“Sejauh ini Harus Kolektif selalu berusaha terhubung dengan teman-teman komunitas musik ataupun scenester local yang berada di daerah lain, berusaha membangun sikap simbiosis mutualisme,” tutup Inu Putra.

teks: Adjustpurwatama
foto: Inu Putra/Harus Kolektif