Gilang Anom Manupu adalah seorang seniman asal Bandung. Reputasinya mulai diperhatikan. Ia punya keberanian untuk melakukan eksplorasi berbagai macam kemungkinan dalam proses berkarya.

Tahun 2017, ia menjadi salah satu pemenang Go Ahead Challenge (GAC) yang membuatnya bisa berangkat ke Austin, Texas untuk mengunjungi SXSW Festival. Bersama Yahya Dwi Kurniawan, ia berkesempatan membuka jaringan dan melihat berbagai macam pertunjukan musik serta rangkaian konferensi yang membuka cakrawala untuk jadi lebih luas.

“Pertama kali menghirup udara dan merasakan suasana di Amerika Serikat, rasanya masih tidak percaya saya akhirnya bisa sampai disini. Dalam perjalanan ini pun, kami para pemenang Go Ahead Challenge, makin mengenal satu sama lain lebih dalam, baik secara pribadi dan karyanya masing-masing,” katanya membuka pembicaraan.

“Selama di Austin saya bertemu banyak orang, hampir dari seluruh bagian dunia mereka hadir ke sini. Untuk yang mencari (peluang) networking, pintunya sungguh terbuka lebar di sini. Saya dengan sangat senang hati bisa masuk ke setiap konferensi dengan tema menarik dan kelas-kelas yang diisi oleh para speaker ahli dari bidangnya masing-masing,” lanjutnya.

(Konferensi Augmented Reality)

Dari berbagai macam sesi yang diikuit, yang paling berkesan adalah ketika dirinya menghadiri bahasan tentang augmented reality dan pameran teknologi. Ia juga puas berburu artprint dan crafting yang dijual disana, sebagai sarana untuk menambah referensi dalam membuat karya-karya di kemudian hari.

“Sebelumnya saya belum pernah ketemu dengan konferensi yang mengangkat bahasan ini. Sebagai seorang seniman, tentu hal ini semakin membuat saya jadi mengenal dunia augmented reality lebih dalam. Terlebih, ini membuka peluang tentang medium baru dalam hal menciptakan karya. Bahkan pembahasannya bisa sejauh, augmented reality dari sudut pandang hukum itu seperti apa, karena tekhnologi augmented reality pun bersinggungan dengan hal itu,” tambahnya.

“Karena augmented reality merupakan salah satu pencapaian manusia yang cukup ajaib menurut saya, bentuk lain dari dunia hologram, membawa sci-fi menjadi science yang lebih nyata,” ungkapnya lagi.

(Live Painting)

Jika menyebut nama, ada beberapa yang dirasa beruntung bisa diikuti sesinya. Di antaranya Katherine Lewis, Intellectual Property Attorney dari Meister Seelig & Fein LLP, kemudian ada Shaine Gholston, Attorney Advisor dari Smithsonian Institutio, dan Karen Wong selaku Deputy Director di New Museum, New York City. Untuk kategori seniman, Gilang memiliki kesempatan untuk menyimak Will Pappenheimer, seorang artist yang fokus di new media performance, video and installation dari New York.

Menyimak Will Pappenheimer, pelajaran paling besar yang diambil oleh Gilang adalah bagaimana media baru dibentuk dan menjadi penunjang dalam proses berkarya. Bentuknya bisa beragam macam, dari pameran virtual atau sampai ke bombing karya di jalan lewat data digital ? Semua mungkin saja dilakukan asal berani mencoba untuk eksplorasi selanjutnya.

“Terlalu banyak yang bisa dieksplor disini, hampir semuanya menarik minat saya. Karena agak ribet membagi waktu, makanya diusahakan mungkin yang mana paling diprioritaskan,” imbuhnya lagi.

Selain berkeliling mengikuti berbagai macam sesi berbagi, ia juga mendukung penampilan Kimokal ft. Wake Up Iris! dan Semiotika di Russian House pada 17 Maret 2018. Sebuah kain hasil gambar tangannya menghiasi stand microphone milik Kalula, vokalis Kimokal. Ia juga sempat menggelar live painting saat berada di 7th Street, Austin, Texas untuk ikut memeriahkan rangkaian SXSW 2018.

(Gilang Painting, Kimokal – Russian House)

Irisan yang kuat antara seni visual dan musik, membuatnya tidak juga melewatkan kesempatan untuk bertemu dan ngobrol dengan sejumlah musisi. Di antaranya Moonchild, rapper dari Afrika Selatan dan Morgan Sorne penyanyi dari Los Angeles.

“Kalau dengan Moonchild, lebih banyak berbincang tentang kultur musik di daerah masing-masing, tentang bagaimana perkembangannya di Afrika dan juga kehidupan bermusik di sana. Menurut Moonchild, musisi di Afrika cenderung mandiri untuk mengembangkan musik mereka sendiri dan punya semangat dalam mencipta yang besar,” ceritanya mengulang pengalaman mengobrol itu.

“Sedangkan Sorne dari Los Angeles, lebih banyak berbincang soal teknis sebetulnya. Bagaimana proses dia dalam menciptakan suatu karya musik, pengetahuan akan teknologi Sorne juga besar. Dia berkarir solo dan menggunakan looper saja, darisana bisa dikembangkan bagaimana karya musiknya tersebut harus tetap bisa berkesinambungan dengan seni visual sebagai sebuah paket yang komplit,” tutur Gilang.

teks: Yulio Abdul Syafik
editor: Felix Dass

foto: Dokumentasi Gilang Anom Manupu