Padang punya cerita yang segar. Di akhir tahun lalu muncul band pendatang baru yang memainkan musik beraliran Dream Pop. Band ini awalnya diinisiasi oleh tiga orang yang mempunyai minat yang sama terhadap Hazel english, Manic Sheeo, DIIIV, Day Wave dan beberapa karya musisi lokal. Band itu bernama Frys.

Ada benturan prioritas yang membuat formasi awal tidak bertahan lama. Pertanyaan yang mempertentangkan pilihan prioritas hidup dengan tetap bermain musik adalah hal yang tak dapat dihindari. Kini tinggal Kiki Ersya, sang vokalis melanjutkan mimpi-mimpi Frys.

Kiki mengakui bukan hal mudah memainkan genre Dream Pop yang notabene menjadi sesuatu yang baru di Kota Padang ini. “Aku percaya sih setiap musik akan punya pendengarnya sendiri, dan begitu juga musik akan bertemu dengan pasarnya juga,” jelas Kiki.

Di bulan April 2018 kemarin, lagu mereka yang berjudul Found, masuk dalam album Record Store Day 2018 Compilation bersama dengan banyak band dari kota lain. Sementara, sebuah lagu berjudul Lost juga sudah beredar luas di Soundcloud.

Stigma semacam “band baru harus terlebih dahulu mengcover sebelum terkenal” nampaknya tak berlaku untuk Frys. Frys langsung menyanyikan lagu yang mereka ciptakan sejak pertama kali berdiri.

Dari departemen produksi, Frys pun punya masalah klise: Sulit menulis lagu dalam Bahasa Indonesia. “Mengenai lirik yang berbahasa Inggris, sejujurnya aku mau bilang bikin lirik bahasa Indonesia itu susah buat aku,” terang Kiki lebih lanjut.
Dalam waktu dekat, Frys akan mengeluarkan sebuah EP yang berisi empat buah lagu. “Rencananya, kita akan merilis mini album sebelum akhir tahun. Mudah-mudahan,” harap Kiki. (*)

Penulis: Rio Jo Werry
Foto: Dokumentasi Frys