Duo seniman Putud Utama dan Rara Kuastra membentuk Tempa. Selain menciptakan karya-karya untuk beberapa pameran dan commissioned work, Tempa kini juga disibukan dengan bisnis art merchandise. Semuanya diawali dengan pertemuan di kampus di Jogjakarta.

Pada awalnya, mereka hanya ingin membuat karya yang tidak terpaku dalam satu medium saja. Eksplorasi pun dilakukan dan berbuah hasil yang bermacam-macam. Dan kini, produk Tempa bisa ditemukan dalam bermacam bentuk.

Diwakili oleh Putud Utama, ia menceritakan beragam hal tentang Tempa, khususnya tentang berkarya dan berbisnis merchandise. Berikut daftar beberapa pameran dan mural yang pernah diikuti oleh Tempa:

(2016)
Deck Construct
‘Souldance’
The Space Gallery The Parlor, Bandung

Goahead Challenge Proletart
‘Sayonara Agraria’
Bale Banjar Sangkring, Yogyakarta

(2017)
2017 Millenial Dopamine
Kedai Kebun Forum, Yogyakarta

Bekraf Paviliun
‘Souvenier; Agrarian Fuel’
Artjakarta 2017, Jakarta

BRAKE BREAK!
‘The Worst Part of Success Is Adapting To It’
FKY, Yogyakarta

Trooper Custom x Kustomfest 2017
‘Celestian Crown’
Jogja Expo Center, Yogyakarta

Set Design & Artistic Project
Kuningan City Mall, Jakarta

Facebook Air Program
Facebook Office, Jakarta

Singapore Art Book Fair 2017
Singapura

(2018)
Mural Jimbaran Hijau
Jimbaran Hub, Bali

Kalian berdua sebelum membentuk Tempa, apa sudah sering membuat project masing-masing?

Project masing-masing tentu ada ya. Tapi kemudian sepakat jalan bareng bikin karya desain dan seni menggunakan nama Putud Utama & Rara Kuastra. Lalu tidak lama kemudian, sampai saat ini sepakat menggunakan nama Tempa.

Apa basic kalian masing-masing?

Desain komunikasi visual dan seni lukis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Bagaimana awalnya sepakat untuk membentuk Tempa?

Awalnya kami ingin bikin karya yang tidak terbatas, baik desain atau seni menggunakan satu nama saja. Dan yang paling kami kuasai selain melukis, adalah menggambar atau mendesain untuk merchandising. Jadi saat itu kami bikin art merchandise dari karya masing-masing Dengan tetap di tujuan dasar sebetulnya, yaitu bereksplorasi dan bereksperimen di dunia kesenirupaan dan kreatif.

(Motherland & Faithfull)

Apa kesulitan saat awal-awal memutuskan untuk berada dalam satu nama?

Sampai sekarang, 95% tidak ada kesulitan, karena kami sangat menikmati prosesnya yang organik ini. Mungkin sisa 5% nya paling masalah pembagian waktu masing-masing dari kami saja.

Tempa dalam beberapa waktu kebelakang mulai fokus pada bidang art merchandise. Apa sekarang porsinya lebih condong ke bisnis art merchandise dibanding dengan berkarya? Atau bahkan commissioned work?

Pada 2017 kami akhirnya memutuskan untuk konsentrasi menciptakan karya karena pada tahun 2016 starting point kami untuk berkarya adalah menciptakan merchandise seperti scarf, pin, sweater dan lainnya. Setelah akhir 2017 kemarin, target kami untuk berkarya seni sudah cukup terpuaskan. Kini kembali lagi sedikit-sedikit bikin merchandise lagi. Karena kami sangat menggemari pernah-pernik, merancang desain merchandise dan fashion, produksi barang dan hal-hal lainnya. Namun saat ini pembagiannya sudah menjadi jelas, Tempa sebagai seniman, sedangkan Made By Tempa adalah merchandise yang dikeluarkan oleh Tempa.

(Sayonara Agraria)

Untuk merchandise tersebut, sejauh ini kalian sudah merilis dalam medium seperti t-shirt, jaket, topi, sweatshirt, kaos kaki dan lainnya. Apa terpikir untuk mengeluarkan merchandise dalam format yang sedikit berbeda? Meja dan bangku misalnya?

Ini yang kami pingin sebetulnya. Kami berkali-kali menyampaikan kepada teman-teman bahwa kami tidak ingin terbatas bikin merchandise “fashion” saja. Selanjutnya mungkin tableware dan furniture. Mungkin kedepannya bisa speaker portable atau apapun itu yang unik.

Becak boleh tuh. Kalau kalian ada campaign, tinggal pasang dan jalan deh keliling kota Yogya.

Becak drone mungkin ya. Khusus kirim paket makanan oke juga tuh. Biar enggak kelamaan nunggu (tertawa).

Tempa banyak menggunakan motif floral dalam karya-karyanya, kenapa tertarik dengan hal itu?

Karena kami sangat terpengaruh fungsi dan konsep sebuah rumah. Rumah banyak kita artikan seperti tanah air, kampung halaman, rumah itu sendiri. Juga hubungan rumah tersebut secara horisontal. Selain rumah itu tadi ya generasi seumuran kami.

Siapa saja seniman favorit kalian?

Kami banyak menggemari seniman-seniman dari Jepang sih. Seperti Murakami, Keichi Tanami, Makoto Shinkai, Satoshi Kon, Yayoi Kusama, Nigo.

Kalau dari segi bisnisnya sendiri, bagaimana pola yang kalian terapkan di Tempa?

Kalau untuk bisnisnya sih kami masih organik banget. Masih belajar, kami ingin ini semua tetap organik, namun di sisi lain juga bisa tetap menjaga laba dan omset. Kami rajin mencari info untuk link pop-up store juga sih. Baik itu di Indonesia maupun di luar Indonesia.

(Eastern Artifact)

Peran sosial media tentu cukup mendukung kegiatan bisnis di Made By Tempa ya?

Betul. Kami masih mengandalkan sosial media sebagai platform kami. Kalau untuk website, sedang on progress.

Oh ya, kenapa memilih kata Tempa sebagai identitas kalian?

Pada suatu ketika kami sedang dikelilingi deadline dari klien yang mencekik. Diiringi aluan gemuruh album Dopesmoker-nya Sleep dan samar-samar suara Oh Hyuk vokalis dari Hyukoh. Di situ kami mencari kta berbahasa Indonesia yang agaknya asing diucapkan dan tetap enak diucapkan orang luar negeri, terpilihlah Tempa. Karena kami selalu berkarya, ingi menempa terus.

*) Tempa adalah salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling untuk bidang visual.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Tempa