Luthfi Zulkifli seorang seniman yang kini aktif berpameran di Bandung dan Jakarta. Usianya baru 23 tahun. Urusan jam terbang, dia cukup mumpuni. Luthfi seringkali bereksperimen saat menciptakan suatu karya.

Kini dirinya banyak bergerak lewat unit kolektif yang ia bentuk bersama kawan-kawannya, bernama Kolektif Kesenian Klub Remaja. Rajin membuat karya dan tidak kenal batasan, mampu membuatnya membuat karyanya berbunyi hingga Amerika Serikat.

Di sela-sela kesibukannya, Luthfi Zulkifli tak sungkan meluangkan waktu untuk berbicang dengan Siasat Partikelir perihal proses berkarya. Namun sebelum itu, simak dulu beberapa momen yang paling membanggakan bagi seorang Luthfi Zulkifli;

(2017)
‘Unauthorized Exhibition’
Museum of Modern Art, San Francisco
Amerika Serikat

Collaborator at ‘After Art Service’
Museum of Mott Art, New York
Amerika Serikat

Sebagai seorang seniman muda, tentu membanggakan mampu berpartisipasi di salah satu pameran di Amerika Serikat, boleh ceritakan prosesnya?

Jadi awalnya itu pamerannya online platform. Kemudian saya coba submit karya yang saya punya. Alhamdulillah diterima oleh pihak di sana. Prosesnya sendiri bisa dibilang cepat. Kurang lebih dua minggu kemudian saya dihubungi oleh pihak kurator di Museum of Modern Art untuk turut berpartisipasi di pameran tersebut.

Selain itu kamu juga beberapa kali pameran di sini, termasuk pameran di kampus. Apa yang membedakan pameran di dalam dan luar negeri?

Saya juga sebetulnya masih mencari perbedaannya sih. Karena ya baru dua kali itu saya pameran di luar Indonesia. Tapi mungkin yang paling kerasa adalah sistem manajerial di luar negeri sangat profesional. Misalkan seperti masalah kedatangan karya atau pengambilan karya, kemudian urusan MoU juga lebih profesional. Tapi di Indonesia pun sedang menuju kearah sana kalau saya lihat sekarang-sekarang ini.

Bagaimana suasana ketika pameran disana?

Kebetulan waktu itu karyanya saja yang berangkat, sayanya tidak. Karena persoalan tiket yang lumayan mahal. Pamerannya sendiri kalau tidak salah digelar selama dua minggu.

Kalau yang saya lihat, kamu banyak menggunakan medium kertas ya? Kenapa memilih medium kertas? Saat ini kan sedang banyak kampanye daur ulang kertas karena krisis penebangan pohon.

Iya betul, kertas adalah salah satu mediumnya. Tapi lebih tepat kalau dibilang saya banyak menggunakan medium yang sifatnya ephemeral.

Apa itu medium yang ephemeral ?

Ephemeral yang dimaksud adalah medium yang tidak tahan lama. Saya gunakan karena konteks kekaryaan yang banyak mengangkat konsep ruang dan waktu. Nah kertas saya pilih sebetulnya sebagai simbolisasi atas hadirnya materi di dalam platform ruang dan waktu. Materi pada akhirnya akan terus menerus berubah dalam ruang dan waktu adalah pernyataan obyektif dari perubahan tersebut.

Berdasarkan pemikiran tersebut, saya tertarik untuk menggunakan medium yang bersifat ephemeral karena sifat dasarnya yang tidak tahan lama.

Kenapa tertarik dengan konsep ruang dan waktu? Banyak referensi dari hal-hal seputar sci-fi ya pasti.

Bisa dikatakan seperti itu sih. Awalnya saya saat masih kuliah sepat bingung dengan apa yang saya angkat, cuma pada akhirnya salah satu dosen saya bilang apa yang paling dekat dengan kamu. Nah, kemudian saya mulai berpikir bahwa yang dekat dengan saya adalah hal-hal tentang fisika teoritis, itu sangat menarik minat saya. Meskipun saya telat menyadarinya juga sih. Akhirnya saya mulai mempelajarinya sampai sekarang. Lalu ada ketertarikan melihat karya-karya yang konseptual, instalasi, minimalis juga berpengaruh cukup besar dalam proses saya berkarya.

Sebelum kuliah di jurusan seni rupa, apa memang sudah tertarik dengan hal-hal di dalamnya? Karena tadi kamu bilang sempat bingung di era awal-awal kuliah.

Saya memang sudah memiliki ketertarikan tentang seni rupa jauh sebelum memutuskan untuk masuk jurusan seni rupa di bangku kuliah.

Kalau begitu, siapa yang mempengaruhi atau yang memperkenalkan anda kepada dunia seni rupa?

Awalnya dari keluarga. Mereka lumayan banyak memberi insight tentang wacana kesenian karena kebetulan banyak di keluarga saya yang orang sastra. Lalu kemudian waktu SMA saya juga ikut ekskul seni rupa, jadi sedikit demi sedikit sudah tahu dasarnya. Tapi tetap kaget sih waktu masuk kuliah jurusan seni rupa. Kagetnya karena kuliah di jurusan seni itu, khususnya seni rupa, ternyata mampu membuka peluang-peluang dan bersinggungan dengan bidang keilmuan yang lain dan mempelajarinya.

Persinggungan yang paling dirasakan hingga saat ini? atau mungkin sampai yang mempengaruhi proses berkarya sekarang ?

Sudah pasti keilmuan tentang humaniora. Seperti filsafat, sosiologi dan antropologi. Tapi yang paling saya sadari sih sains.

Nah kamu juga membentuk sebuah kolektif seni. Boleh diceritakan pandangan tentang seni rupa di Bandung saat ini dan semangat kolektifnya ?20

Seni rupa di Bandung saat ini kalau yang anak mudanya banyak bergerak kembali ke wilayah kolektif ya yang saya amati dan kemudian banyaknya acara yang memang digagas dengan cara berkolektif. Saat ini menurut saya Bandung terus menuju ke arah yang lebih dinamis, asalkan konsisten. Kalau secara kolektif, di Bandung sih sebetulnya sudah ada dari tahun 70an dengan munculnya Decenta. Lalu banyak kolektif kesenian muncul pada 90an sampai 2000an. Kalau sekarang yang saya amati banyak kolektif di Bandung yang banyak bergerak di wilayah intervensi.

Kalau soal Kolektif Kesenian Klub Remaja, bagaimana posisinya sekarang di tengah banyaknya kolektif-kolektif lain di Bandung ?

Kalau Kolektif Klub Remaja sendiri saya bentuk bersama kawan-kawan untuk berpameran saja sebetulnya, cuma dengan format pameran yang selalu kita mainkan. Permainan format pameran seperti galeri kita sulap menjadi arena fitness sehingga muncul kegiatan aktif-pasif dengan para apresiatornya, sesederhana itu sih. Proyeksi ke depannya semoga menjadi kolektif yang barokah dan dilancarkan rezekinya (tertawa).

*) Luthfi Zulkifli adalah salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling untuk bidang visual.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Luthfi Zulkifli