Salah satu pemenang Go Ahead Challenge (GAC) 2017, Semiotika, mengirimkan Riri Ferdiansyah untuk mengunjungi SXSW Festival di Austin, Texas. Bersama Wake Up Iris!, ia tampil mengiringi Kimokal. Selain itu, ia juga menghadiri sejumlah konferensi yang menjadi rangkaian showcase festival itu.

(Demo Listening Class)

“Awal kali sampai di sana, terkejut sih, ini festival kok bisa secanggih ini ya? Paket komplit, dari sajian musik, film, literasi dan lainnya. Tapi yang paling menyenangkan adalah saat berjejaring dengan para insan kreatif disana,” katanya bercerita.

Riri yang memang hobi nongkrong, merasa kunjungan ini seperti hangout dengan para orang-orang yang ia idam-idamkan untuk bertemu. Banyak pelaku industri kreatif yang diajaknya mengobrol. Tidak ketinggalan berbagai kelas konferensi dihadirinya. Topiknya yang sungguh beragam, membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu, agar kesempatan yang ada menjadi tepat guna.

(Rockstar Networking Class)

“Yang paling saya ingat dan berkesan itu kelasnya Oisi Iunny and Blair, bahasannya tentang rockstar dan networking. Disana kami berkenalan seisi ruangan, lalu lanjut ke sesi demo listening. Yang seperti ini justru yang menurut saya adalah bentuk konkrit dari ungkapan ‘menyebar karya ke publik yang lebih luas lagi’. Singkat kok, kita berkenalan, cerita tentang profil band saya, mereka kemudian mendengarkan, dan beberapa tertarik. Semua mengalir begitu saja tanpa batasan,” paparnya.

(Demo Listening Session)

Selain itu, beberapa konferensi yang ia datangi di antaranya ‘Brands & Authenticity in Partnerships’, ‘Rockstar Networking at the Speed of Life’, ‘Are We Facing Brand Partnership Saturation?’, ‘How Technology Can Save The Music Industry?’ dan beberapa lainnya.

Menurutnya, topik-topik tersebut sebetulnya banyak ditemukan dalam kehidupan bermusiknya sehari-hari, namun jawabannya yang belum dia dapat. Karena itu, saat berada di SXSW ia enggan untuk mengalihkan perhatian dari topik incarannya tersebut. Riri mengaku betah saja duduk berjam-jam sambil berdiskusi dengan pakarnya.

Salah satu tempat yang sempat dikunjungi Riri adalah German Haus, sebuah tempat yang disulap menjadi sarang serba-serbi industri musik di Jerman. Ia sempat mengintip bahasan tentang ‘Responsible Innovation’. Sesi Asia Music Biz Meet Up pun dijajaki, khusus untuk sesi demo listening.

(Demo Listening Session – 2)

“Oh ya, saya senang bukan main saat tahu ada konferensi tentang CBGB, rumah kelahiran punk rock di New York. Judulnya kalau ngga salah, ‘From CBGB to the World: A Downtown Diaspora’. Kelasnya ramai banget, karena mungkin tempat ini legenda dan situs sejarah dalam dunia musik internasional. Membahas tuntas sejarah musik disana dan bagaimana banyak pergerakan lahir dari dalam sana,” jelasnya dengan penuh antusias.

Riri tidak habis-habisnya bercerita tentang keseruan saat berjejaring selama berada di SXSW 2018. Salah satu yang memberinya kesan adalah saat bersama Ralph penyanyi RnB asal Texas, John wartawan dan booking agent dari Seattle serta Ana seorang penulis dan traveler yang terbang India, membuat sebuah project dadakan. Konsepnya mirip-mirip KEXP Radio, tapi ini dieksekusi ditempat saat konferensi berlangsung di kelas ‘Rockstar Networking at the Speed of Life’.

“Di dalam kelas networking, saya betul-betul diajak untuk berjejaring dengan banyak peggiat industri kreatif dari ranah lain, bukan hanya dari musik saja. Ini tantangan sekaligus pengalaman berharga, karena baru pertama kali ikut konferensi dan langsung bertemu dengan orang-orang hebat didalamnya,” tambahnya.

(Conference & Networking)

Untuk urusan nonton pertunjukan, di SXSW 2018 kemarin, Riri berhasil menyaksikan Ringo Deathstarr, grup shoegaze yang sudah lama digemarinya. Dirinya pun tak ragu untuk bertegur sapa dengan para personil Ringo Deathstarr saat itu, juga tak lupa untuk memberikan cd album dari Semiotika bandnya. Mereka banyak berbagi cerita dan ilmu, dari mulai menjalankan sebuah tur yang baik sampai ke teknis-teknis rekaman.

Ia mendapatkan banyak hal dari kunjungan ini. Lumayanlah, menang banyak.

teks: Yulio Abdul Syafik
editor: Felix Dass

foto: Dokumentasi Riri Ferdiansyah