Tidak banyak jejak kreatif musik dari Samarinda. Kota penting di Kalimantan ini, tidak punya banyak gaung yang bisa dikabarkan. Tetangga mereka di Tenggarong, Kutai Kertanegara, malah punya Rock in Borneo, Kukar Rockin Fest dan band metal Kapital.

Tapi pelan-pelan, Samarinda mulai punya suara. Beberapa mata mulai mengarahkan radarnya ke sana. Satu nama yang sering muncul ketika mencoba membahas tentang band-band menarik dari Samarinda adalah Murphy Radio, trio yang memainkan musik instrumentalia. Musik mereka seperti matematika, rumit dan penuh perhitungan yang matang. Meleset sedikit saja bisa kacau balau semuanya.

Wendra memainkan gitar, Aldi Yamin bertugas mengisi bas dan pada posisi drum ada Akbartus Ponganan sang penjaga tempo. Ketiganya percaya bahwa musik instrumental yang baik adalah yang mampu berbicara banyak lewat komposisi mereka. Karena mereka memilih untuk tidak menggunakan vokal sebagai alat komunikasinya, irama yang diantarkan harus mampu menjelaskan apa yang mereka coba sampaikan secara komplit dan tepat kepada para pendengar.

“Sebenarnya itu selalu menjadi pertanyaan banyak orang kepada kami, bagaimana cara menyampaikan musik kami karena tidak semua orang bisa paham hanya lewat instrumen, atau bahkan ada dari mereka yang tidak suka dengan hanya instrumen saja,” ucap Wendra kepada Siasat Partikelir.

“Cara agar orang mengerti situasi di balik lagunya adalah dengan mengakali cara penamaan judul dan suasana dari lagu itu sendiri. Di sini kami merangsang mereka, membuat mereka bereksplorasi dengan imajinasinya sendiri agar apa yang kami bawa bisa mereka tangkap, tentang maksud dari cerita yang ada di balik judul lagu kami,” terangnya lagi.

Sedikit napak tilas cerita ke belakang, Murphy Radio memulai semuanya dengan 4 orang anggota pada 2013. Mereka memainkan musik alternatif rock. Formasi ini sempat bertahan cukup lama hingga suatu ketika mereka mendapat jatah panggung dengan durasi yang harus selesai dalam waktu satu jam. Berhubung jumlah stok lagu yang tidak banyak, hanya 4 lagu dan mempersiapkan 2 gubahan ulang, mereka merasa set-nya pun masih kurang untuk satu jam penuh.

Dan kebetulan, saat itu gitaris Wendra sudah mempunya beberapa macam riff kuncian yang dirangkai satu-persatu sehingga menjadi sebuah lagu instrumental. Mereka pun berlatih dan memainkan nomor instrumental tersebut sebatas hanya untuk menutup durasi. Ternyata di panggung-panggung berikutnya, Murphy Radio malah keasikan memainkan lagu-lagu instrumental dan kemudian memutuskan untuk jalan dengan formasi tiga orang.

“Waktu itu saya merasa Murphy Radio tidak menunjukan progres yang baik saat memainkan musik kami yang sebelumnya, makanya kami memutuskan mencoba jalan bertiga dengan sesuatu yang baru, setidaknya di Samarinda sendiri. Banyak kawan kami yang memberi respon positif. Mereka sepaham dengan kami dan memberi dukungan hebat, disana kami sadar, harus memulai sesuatu yang baru yang ada di depan mata, tidak perlu memulainya dengan langkah yang besar, juga berharap kepada sesuatu yang besar.”

Kalau bicara soal musik instrumental serta ragam turunannya, post-rock, math rock dan lain-lain, Murphy Radio menjadi satu-satunya di Samarinda saat ini. Sebelumnya memang ada Cuaca Mendung, namun belakangan mereka tidak terlihat aktif lagi.

Murphy Radio berani menembus batasan-batasan yang ada, mereka cuek saja, bersenang-senang memainkan apa yang mereka yakini. “Kancah musik di Samarinda itu variatif, dan saat ini sedang berkembang sekali. Kita secara natural memiliki semangat yang sama, bikin gigs atau acara bareng-bareng. Ya walaupun perlu usaha ekstra keras karena disini cenderung masih menunggu dan perlu trigger, tapi saya yakin kedepannya akan lebih lagi,” Wendra memberi sedikit gambaran bagaimana geliat musik arus pinggir di Samarinda.

 

Sejauh ini lemari diskografi Murphy Radio belum terlalu penuh, hanya ada EP Naftalena (2016), lalu dua buah single rilisan 2017, “Last Lonely Giant” dan “Sport Between Trenches”. Namanya beruntung tentu tidak bisa ditebak. Begitupun dengan Murphy Radio saat mendapati bahwa CD mereka diminati oleh para masyarakat luar negeri. Wendra sambil sedikit tertawa berkata, “Ternyata menyenangkan ya punya album. Yang beli macam-macam, dari dalam dan luar negeri. Ada orang dari Thailand, Kuala Lumpur, sampai Belanda yang beli CD kami.”

Ketika ditanya tentang program Siasat Trafficking – Europe Calling, Murphy Radio menjawab tidak terlalu muluk. “Sampai di fase ini saja sudah menyenangkan buat kami kok. Kalau memang diberi kesempatan untuk tur ke Eropa tentunya akan dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Kami akan membawa pulang oleh-oleh sebuah video dokumenter agar bisa ditonton oleh teman-teman di Samarinda, agar mereka percaya, kalau berkarya ya harus berani menembus bermacam bentuk batasannya.”

Murphy Radio menjadi salah satu kandidat 10 Besar program Siasat Trafficking – Europe Calling. Sebuah program yang diinisiasi oleh Siasat Partikelir bagi para emerging artist untuk bisa membuka pintu kesempatan-kesempatan baru, menyebarkan karya mereka lebih luas lagi. Nantinya akan ada satu pemenang yang akan diberangkatkan menuju Eropa untuk menggelar tur di beberapa negara.

Dalam beberapa hari ke depan di situs Siasat Partikelir kami akan membahas siapa saja band-band yang masuk kedalam babak 10 Besar hingga nantinya ditemukan sebuah unit terbaik untuk diterbangkan demi sebuah pengalaman perjalanan kreatif yang tidak akan terlupakan. Pantau dan simak terus Siasat Partikelir, pastikan kalian tidak melewatkan info-info menarik didalamnya.

teks: Yulio Abdul Syafik
foto: Dok. Murphy Radio