Arian13 punya jalan hidup yang jadi dambaan ABK (anak band kecil –red). Di masa lalu, ia menjadi front man band rock legendaris Puppen, kemudian menjadi salah satu personil Seringai yang selama lebih dari 15 tahun terakhir ada di papan atas sirkuit rock Indonesia, serta memiliki kehidupan yang tidak pernah jauh dari musik, passion terbesarnya.

Bila dirunut satu-satu, kegiatannya sehari-hari terdiri dari kebiasaan tiada henti menambah koleksi beragam bentuk rilisan rekaman, mengejar konser musisi favorit hingga ke penjuru dunia, manggung di bermacam daerah di Indonesia dengan jumlah penonton ribuan, punya bisnis retail yang berbasis musik, sampai merilis band-band baru yang dianggapnya potensial via Lawless Jakarta Records di mana ia menjadi salah satu orang di balik layar record label ini.

Lawless Jakarta Records menjaring banyak talenta segar dari scene rock Indonesia. Ada yang sudah punya rekam jejak, ada yang masih baru. Record label ini, menggali banyak hal dari sudut-sudut sendi musik rock lokal. Sejak berdiri tahun 2013, Lawless Jakarta Records telah merilis sejumlah rekaman penting dari band-band bagus di scene musik rock lokal, seperti: Alice, Petaka, Rajasinga dan Kelelawar Malam. Mewakili penggalian potensi, mereka juga merilis rekaman debut milik Piston, Poison Nova, Hurt’em dan yang paling baru Godplant. Arian13 meluangkan waktu untuk berbincang bersama SiasatPartikelir.com. Terutama tentang Lawless Jakarta Records yang tidak pernah berhenti mencari napas segar berupa talenta.

Apa yang membuat lo mendirikan Lawless Jakarta Records ?

Karena ingin. Sebelumnya gue sudah pernah mempunyai label rekaman juga, tapi dikelola secara santai. Sekarang (Lawless Jakarta Records), sedikit lebih serius tapi nampaknya tetap santai ya.

Fungsi dari Lawless Jakarta Records itu sendiri ?

Menurut gue, banyak band bagus yang mengeluarkan dana untuk rekaman, sementara pada saat harus rilis dan promosi, mereka kehabisan dana. Nah, di situ fungsi Lawless Jakarta Records, kolaborasi dengan band tersebut merilis album fisik. Kalau untuk rilisan digital, dari Lawless Jakarta Records sendiri masih berjalan juga kearah sana.

Apa parameter sebuah band yang menurut lo mereka itu cocok untuk diajak bekerjasama dengan Lawless Jakarta Records ?

Rekamannya bagus dan semangatnya tinggi. Ada juga yang ternyata seperti enggak niat buat merilis albumnya sendiri kok. Sejauh ini rilisan Lawless Jakarta Records itu memang masih sebatas band-band Jabodetabek & Bandung.

Kenapa ?

Karena untuk promosinya yang gue sanggupi, biayanya masih aman dan masuk akal.

Bicara soal rencana Lawless Jakarta Records di tahun 2018 ini, bagaimana? Ada apa saja selain Godplant?

Ada beberapa di antaranya. Ada Belantara (heavy, modern metal dengan touch progresif), Goads (grindcore/hardcore punk) & Kief (psychedelic stoner metal) sejauh ini sih itu. Sebenarnya masih ada beberapa band yang sudah oke untuk dirilis, tapi hingga sekarang masih belum deliver master-nya.

Lo masih memperhatikan pergerakan dari banyak label independen di Indonesia sampai saat ini?

Kalau label enggak banyak sih, tapi gue juga suka melihat kadang label terlalu sedikit merilis sebuah rilisan bagus. Sayang saja untuk bandnya, mereka enggak dapat apa-apa.

Banyak dari mereka yang merilis satu atau dua rilisan kemudian bubar jalan. Bagaimana lo memposisikan Lawless Jakarta Records di tengah kondisi begini?

Menurut gue enggak masalah kalau bandnya berumur pendek sebenarnya. Karena kalau materi si bandnya berkualitas, biasanya juga akan mendongkrak penjualan. Memang, kalau misalnya berumur pendek, penjualannya mungkin tidak akan lebih dari jumlah yang sudah diproduksi sebelumnya.

Apa hal yang paling menyenangkan dari menjalankan Lawless Jakarta Records ?

Bagi gue ketika mendapatkan produk akhirnya sesuai harapan atau malah menjadi lebih bagus dari yang direncanakan, mendapat respon positif dari mereka yang mendengarkan atau membeli albumnya, dan melihat si band akhirnya mendapat royalti dari penjualan CD atau merchandise pertama.

Tidak banyak musisi di Indonesia yang peduli pada pencarian band-band baru. Sedangkan untuk lo sendiri, terlihat masih rajin mengulik kanan-kiri untuk menemukan band dan musik yang baru. Apa yang membuat lo masih suka melakukan hal ini?

Itu sih masalah passion saja. Gue memang senang dengan musik, jadi selalu mencoba mengeksplorasi segala jenis musik. Ada yang bisa gue terima, tapi juga banyak yang enggak kok. Memang enggak hanya musisi, tapi teman-teman seangkatan gue yang dulunya militan dengan musik juga banyak yang akhirnya mentok di musik di mana mereka masih merasa relevan dengan masa mudanya.

Sedikit tentang Seringai. Kalian akan merilis album baru tahun ini rencananya kan. Bagaimana caranya untuk tetap related dengan anak-anak usia sekarang ? Mengingat, fans Seringai bisa dibilang ada dari nyaris semua kalangan umur.

Teman-teman gue rasanya bertambah muda saja! (Tertawa). Kayaknya kalau dalam musik, selama kita tetap membuka wawasan musik sih akan tetap relevan dengan musik. Memang, kalau ke gigs atau ke konser musik, akhirnya menjadi salah satu yang paling tua disana. Nggak masalah juga. Kalau untuk Seringai, mungkin topik lirik dan formula musik kami yang cenderung mix antara modern dan klasik sebenarnya yang menjadikan Seringai masih relevan untuk mereka yang muda ataupun mereka yang seumuran dengan kami. (*)

Arian13 bersama Seringai akan terlibat di banyak seri Soundsations. Pastikan jangan melewatkan aksi mereka ketika mampir di kota kalian. Bisa jadi, tanpa diduga-duga, ada materi baru Seringai yang dimainkan di panggung.

Teks: Yulio Abdul Syafik
Foto: Dok. Seringai Official Facebook