Fikri Kariri, seniman asal Boyolali, Jawa Tengah, dikenal karena kerajinannya menggunakan bahan baku sampah dalam proses berkeseniannya. Sosoknya semakin jatuh cinta kepada dunia fotografi seni rupa setelah pindah ke Solo.

Kehidupan di Solo, membuat Ardhi Fikri mendapat sejumlah pemikiran baru. Salah satunya tentang dunia fotografi yang (ternyata) tidak sesempit itu. Fotografi tidak sebatas proses mendokumentasikan saja, tapi ada eksperimen dengan berbacam medium di dalamnya.

Fikri Kariri meluangkan sedikit waktunya untuk berbincang kepada Siasat Partikelir tentang hal-hal yang melibatkan proses mencipta dalam dirinya. Sebelum masuk ke obrolan bersama Fikri Kariri, simak dulu deret pameran yang pernah dijalankan olehnya dibawah ini;

(2014)
Pameran Fotografi ‘Manja Mulut Mata’
Pameran Fotografi Jurnalistik ISI Surakarta
Pameran Pasar Seni ISI Surakarta

(2015)
Ring Road Membara
Pameran Seni Rupa – Tolak Pabrik Semen di Rembang
Noise Melulu
Pameran Seni Rupa “CBGB”
Pameran Fotografi “One Day Project”
Pameran Fotografi Underwater
Solo Photo Festival 2015

(2016)
Pameran Fotografi “Kelas Etno Foto” Padang Panjang
Pameran Postcard Surakarta
Solo Exhibition ISI Surakarta
“Benih-Benih” Opening Tentrem Local Space
Solo Photo Festival 2016

Bagaimana perkenalan seorang Fikri Kariri dengan dunia fotografi dan seni rupa ?

Awal mulanya karena nyasar kuliah seni di salah satu kampus seni di Solo. Masuk ke jurusan fotografi, karena pada saat itu ISI Solo membuka jurusan baru, yaitu fotografi. Sama sekali tidak punya basic fotografi, modal nekat latihan dua minggu sebelum tes masuk.

Kemudian masuk dan diterima. Di semester awal perkuliahan untungnya jurusan ini banyak mengundang seniman fotografi. Saya merasa antusias sekali waktu itu dan mendapat banyak hal dan sudut pandang baru. Kalau fotografi bisa dibawa bereksperimen kedalam banyak hal dan berbagai medium. Ditambah lagi saya juga sering datang ke pameran seni rupa dan fotografi, sering melihat karya-karya tersebut membuat saya menambah pembendaharaan visual seni rupa 2D dan 3D.

Awalnya tidak sengaja ya. Berarti bisa dibilang, Solo memiliki banyak peran dalam pengembangan diri seorang Fikri Kariri ya?

Iya bisa dibilang begitu. Tapi sesempat mungkin saya menyempatkan untuk datang ke pameran di kota-kota lain, seperti Yogya dan sekitarnya.

Adakah tema besar yang menjadi ciri dari karya-karya Ardhi Fikri ?

Kalau tema enggak ada yang begitu spesifik sih, biasanya mengalir saja. Biasanya merespon isu yang sedang hangat atau lebih sering ke pengalaman pribadi biasanya. Yang jelas saya lebih suka eksperimen dengan objek sehari-hari seperti makanan, mainan, hewan, tumbuhan sampai sampah.

(Gift From Mr. Ronald)

Untuk proses mencipta sendiri, tahapannya bagaimana biasanya ?

Biasanya sebelum mulai ke proses eksekusi karya saya selalu bikin sketsa visual biar punya gambaran. Setelah itu mulai mencari objek. Untuk karya yang menggunakan sampah, saya biasa ambil objeknya dari tempat pembuangan akhir. Kan banyak tuh disana, tinggal pilih mau yang warna apa dan bentuknya seperti apa.

Atau sering juga sih, sambil jalan, tiba-tiba ketemu sampah yang menurut saya cocok untuk dijadikan karya, saya ambil. Nah setelah itu saya merekonstruksi temuan-temuan tersebut, sampai membentuk visual yang sudah di sketsa sebelumnya.

Apa yang paling menarik dari proses menciptakan suatu karya ?

Selalu ada saja hal yang tak terduga, itu yang selalu menarik buat saya. Se-simple seperti, misalnya sudah punya brief yang sesuai sketsa, tapi saat menjalani prosesnya tiba-tiba ada ketidaksengajaan yang ternyata itu malah bikin karyanya lebih menarik bagi saya. Jadinya malah berbeda dengan sketsa awal. Hal-hal seperti itu sih yang paling menarik dari menciptakan sebuah karya.

(Dilemma)

Kalau untuk tempat asli anda sendiri, Boyolali, bagaimana kondisinya disana sekarang ? dunia fotografi dan seni rupa.

Kalau di Boyolali pergerakannya masih kurang dan lambat. Itu yang menyebabkan saya pindah ke Solo. Biarpun sekarang sering bolak-balik Solo ke Boyolali, tapi saya lebih sering membuat karya di Solo.

Apa yang kini sedang dikerjakan di Solo? Kalau tidak salah, sedang menjalankan Tentrem Local Space ya ?

Kami di Solo membuat sebuah kolektif untuk bidang fotografi, juga sempat membuat sebuah ruang alternatif. Karena menurut saya, Solo pun sangat minim ruang. Tapi pelan-pelan semakin kesini ruang-ruang alternatif sudah mulai bermunculan dan pergerakan seni di Solo pun mulai muncul.

Tentrem Local Space awalnya lahir dari pemikiran tentang prses berkarya menggunakan medium fotografi yang. Kemudian berinisiatif untuk membentuk kelompok kolektif untuk menyewa kontrak rumah untuk dijadikan tempat berproses sekaligus ruang pameran.

Lewat Tentrem Local Space, sudah membuat apa saja sejauh ini ?

Pameran antar anggotanya, pameran koletif, workshop, mengundang pembicara untuk bedah buku, diskusi dan sharing karya. Tahun lalu Alhamdulillah kelompok kami sempat masuk nominasi event 32 Derajat Art Award di Jakarta.

(The Power Of Grow)

Bagaimana proyeksi dari Tentrem Local Space untuk kedepannya ?

Kami ingin mengenalkan cara proses berkarya kami seluas mungkin. Karena pada awalnya tujuan kami adalah untuk memperkenalkan gaya berkarya kepada adik-adik kelas kami di kampus dan masyarakat kota Solo. Karena mahasiswa jurusan kami masih banyak yang belum familiar dengan fotografi yang merujuk ke arah seni, mereka masih famiiar dengan foto model, foto pemandangan, atau foto komersial, intinya masih sering membicarakan teknis.

Untuk program Siasat Trafficking – Europe Calling sendir, bagaimana Ardhi Fikri memandangnya?

Intinya senang sih bisa berpartisipasi di program ini, bahkan enggak pernah kepikiran bisa masuk kedalam 10 besar seperti sekarang. Awalnya dikasih tahu oleh teman pada awalnya tentang program ini. Akhirnya cuek saja ikutan dan modal nekat juga sih untuk submit. Karena ini kesempatan emas sih menurut saya.

Kalau bisa menang dan berangkat ke Eropa, ini merupakan salah satu mimpi saya, bisa melihat dan merasakan scene seni rupa di Eropa. Tidak pernah menyangka saya bisa masuk 10 besar, karena saingannya pasti seniman-seniman dengan karya yang bagus. Tapi sampai disini pun sudah sungguh menyenangkan untuk saya.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Fikri Kariri