Alan Mahirma adalah seorang seniman multi bidang dari Jogjakarta. Ia fokus di dunia fotografi dan videografi. Dua bidang ini telah termanifestasi dalam berbagai macam proyek yang ia kerjakan.

Menurut pengakuannya, ia adalah seorang yang tidak pernah cepat puas. Selalu ingin mencoba banyak hal baru demi ilmu yang nanti didapat. Oleh karena itu, Alan terus membuka pintu untuk berkolaborasi dengan siapa saja yang menurutnya memiliki kesamaan semangat dalam mencipta.

Berbekal ilmu fotografi yang ia dapat sedari kecil lewat lingkungan rumahnya, Alan terus mengembangkan potensi. Menurutnya, dengan rajin berjejaring adalah faktor utama ia bisa belajar banyak hal di lapangan.

Kepada Siasat Partikelir ia menceritakan perjalanannya. Sebagai latar belakang, ini merupakan daftar pameran dan screening yang pernah ia ikuti:

(2015)
‘Setengah Indah’
Gedung C

(2016)
Qubeland, Sentosa
Gandaria City, Jakarta

Fashion and Art Rahayu
Galeria Mall

(2017)
Rest Area ‘Perupa Membaca Indonesia’
Galeri Nasional

Bazaar Art Jakarta
Pasific Place, Jakarta

Eutopia
Medan Focal Point Mall

Kendel Riyin
Santika, FKY Gunung Kidul

Sebelum mengikuti program Siasat Trafficking – Europe Calling, kamu sudah lumayan sering ya ikut kompetisi seni?

Lumayan sih mas, lomba-lomba fotografi saat dulu masih di bangku kuliah. Karena saya basic-nya memang dari fotografi. Dan setelahnya juga pernah ikutan bikin fashion film.

Saat ini memang tengah memfokuskan pada fotografi fashion ya?

Fotografi fashion sebetulnya hanya sebuah jembatan saja. Untuk mengenal orang lebih banyak lagi. Ya karena nantinya akan ketemu orang-orang yang berbeda karakter, dan pastinya cara bekerjanya pun berbeda. Saya tidak mau menutup kemungkinan sih, apapun yang bisa dikerjakan dan yang intinya saya suka, pasti saya coba. Karena menurut saya ya seperti itu, banyak pertemanan banyak rezeki.

(Fashion Film Burberry & Gucci)

Awalnya bisa tertarik dengan fotografi fashion bagaimana itu?

Saya mengenal fotografi sudah dari saya masih kecil, saat itu ibu masih menjahit dan fotonya pun untuk kebutuhan ibu berjualan desain baju. Lalu kemudian semakin jalan kesini saya semakin tertarik dengan medium tersebut. Tetapi di beberapa kesempatan saya berpikir untuk belajar gambar gerak, yaitu video. Singkat cerita, saya mulai belajar membuat video dan mencoba bikin apa yang saya bisa. Saya bisa bercerita proses dari apa yang telah dilakukan itu bakal bisa menjadi bekal yang menarik untuk diri saya ataupun teman-teman di lingkungan saya. Belajar sendiri pun merupakan proses, ada kalanya seseorang harus berkarya dan ada kalanya seseorang harus berhenti untuk merencanakan pukulan yang lebih cepat.

Ada keseimbangan ketertarikan antara fotografi fashion dengan video ya. Sudah mencoba untuk mengawinkan keduanya kedalam satu project?

Kebetulan sudah. Saya keluarkan dalam bentuk video. Untuk materi pembuata video salah satu brand internasional.

Brand apa itu? Ceritakan dong.

Seperti belum lama ini saya baru saja selesai me-launching hasil karya saya untuk Universal Music. Selain itu, sekarang sedang sibuk proses pembuatan sebuah video musik dan beberapa kerjaan komersil lainnya. Karena itu tadi sih sebetulnya, fotografi fashion bagi saya hanya jembatan, dan di luar itu banyak yang bisa saya kerjakan. Saya banya mencoba untuk keluar dan mencari cerita baru.

(kover album Gloria Jessica – Universal Music)

Mencoba terjun ke banyak wilayah, otomatis harus semakin banyak belajar tentang banyak hal ya?

Iya betul. Saya sangat suka hal-hal yang penuh dengan percobaan, walaupun untuk hasil akhirnya sendiri belum tahu ya, bisa berhasil atau malah sebaliknya. Karena saya berusaha untuk menjadi seorang yang fleksibel dan multitalent.

Ada ketakutan enggak kalau terlalu banyak mencoba di berbagai wilayah itu?

Yang saya takutkan adalah kehilangan chemistry dalam foto atau film. Bakalan flat nantinya. Kan biasanya sebelum produksi itu rasanya deg-degan. Nah tapi justru itu yang saya harapkan, kalau tidak seperti itu berarti ada hal yang perlu dipertanyakan tuh. Sejauh ini saya merasakan bagaimana membuka obrolan dengan orang baru di lapangan supaya satu pemikiran. Dan ternyata kuncinya simple, yaitu jadi fleksibel saja. Banyak-banyakin nongkrong biar bisa ngajak ngobrol dan menjaga mood dari masing-masing orang yang ada didalam team, karena secara latar belakang orang-orangnya berbeda dan sifatnya juga.

Kamu sangat membuka lebar pintu untuk berkolaborasi dengan siapa saja ya berarti ?

Ketika membuat video kemarin saja, saya sempat merasa bosan juga. Dan akhirnya saya mencoba merambah ke dunia tekstil dan membuat pakaian dengan bentuk yang saya pikirkan. Kemudian pakaiannya jadi dan digunakan untuk sebuah performance art di Galeri Indonesia Kaya. Ada yang mengapresiasi pekerjaan saya, itu rasanya sesuatu sekali.

(Baju untuk performance art di GIK, Jakarta)

Sering bosan banyak mempengaruhi dalam hal berkarya juga ya? Kalau nanti dibilang tidak konsisten, bagaimana?

Sebenarnya jenuh dan bosan adalah emosi sesaat sih. Dari situ saya mencoba mencari pengalihan, agar proses berkarya bisa terus jalan. Kalau dibilang tidak konsisten sih kayaknya enggak. Karena kalau seperti yang kemarin saya contohnya, pakaiannya itu saya balut dalam konteks video, dan output-nya dari si performance art itu. Jadi bisa dikatakan masih dalam ranah visual.

Berarti lebih suka bekerja secara kolektif dibandingkan sendiri ?

Secara kolektif oke, sendirian pun oke, sama-sama asik. Yang penting menurut saya saat bekerja bersaam-sama adalah bisa saling mengisi dan saya bisa belajar dari mereka. Kalau sendirian pun kadang saya mengerjakan video itu sendirian. Karena beberapa memang karya untuk saya simpan.

Bicara tentang Eropa, yang jadi reward untuk program Siasat Trafficking – Europe Calling ini, dalam proses berkarya seorang Alan Mahirma, banyak dipengaruhi oleh elemen-elemen dari sana ?

Betul mas. Untuk berkarya saya lakukan apa yang saya bisa mas, dan salah satu seniman dan seorang director yang banyak mengispirasi saya adalah Bruno Aveillan (filmmaker, fotografer, artist kontemporer asal Toulouse, Perancis). Dia memang mendedikasikan diri bekerja untuk industri dan personal, salut sih. Dia juga berkarya berkeliling dunia, tetapi paling sering di Perancis. Juga untuk program Siasat Trafficking – Europe Calling, saya melihat program ini membuka kesempatan untuk bisa sharing dan menambah wawasan karena dari beberapa yang saya lihat banyak dari mereka yang keren-keren tapi kurang terekspos. Dan darisana mungkin dapat menyatukan beberapa seniman untuk kemudian membuat karya bersama atau sekedar saling berbincang saja.

*) Alan Mahirma adalah salah satu finalis Siasat Trafficking – Europe Calling untuk bidang visual.

teks dan wawancara: Yulio Abdul Syafik
foto: Dokumentasi Alan Mahirma