Dari banyak sekali artis yang tampil di Soundrenaline 2018, editor Felix Dass dan penulis Adjust Purwatama yang hadir di salah satu festival musik terbesar di Indonesia itu, memilih sepuluh talenta yang terekam dengan baik di kepala.

Indikator pemilihannya jelas: Sesuatu yang kemudian kami ceritakan pada orang lain keesokan harinya atau pada mereka yang belum dapat kesempatan untuk menghadiri festival ini.

Dua orang itu beruntung jadi sebagian kecil saksi festival musik yang sedang mengubah wajahnya itu. Oh, dan daftar ini, tidak disusun berdasarkan peringkat. Jadi, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sayang, hanya sepuluh yang bisa dicatat di artikel ini. (*)

01. Pullo

Salah satu yang terbaik. Berhasil membuat orang tercengang. Bukan bicara kuantitas berapa yang nonton, tapi lebih ke bukti bahwa musik-musik model begini adalah yang sekarang relevan untuk anak muda Indonesia. Ups.

02. The Panturas

Menjelang waktu pertunjukan, beberapa jam sebelumnya, beberapa orang sibuk membagikan flyers swadaya hasil cetak digital yang berisi informasi bahwa The Panturas akan main di Creators Stage. Cara swadaya gerilyawan ini, lumayan seru untuk dijadikan catatan. Aksi panggungnya sendiri ciamik, salah satu yang memberi kesan berhasil pada eksperimen yang berani dilakukan oleh Soundrenaline yang mengalokasikan ruang untuk band-band kecil tapi punya musikalitas unik model begini.

03. Theory of Discoustics

Dari Makassar, menyiarkan kehidupan orang Bugis di tengah panggangan matahari. Jika ada banyak yang bertahan menyimaknya sampai habis, apakah perlu penjelasan lebih lanjut? Silakan google mereka lebih lanjut. Semoga makin banyak orang yang bisa menyaksikan band ini bermain di kota-kota lain.

04. Jogja Hiphop Foundation

Hiphop Jawa yang membuat festival ini jadi makin puspawarna. Dentuman bas super besar menembus batasan suara di akhir set. Penghibur sepadan untuk mereka yang melipir dari kepadatan antrian menyaksikan Limp Bizkit yang keterlaluan (kalau tidak ingin dibilang anti klimaks). Anyway, Hiphop Jawa rules!

05. Fourtwnty

Tidak banyak band yang memikirkan kemasan visual dengan porsi sama penting dengan audio yang keluar dari sebuah penampilan live. Fourtwnty benar-benar jadi contoh bagus bagaimana band yang sedang ramai-ramainya ditanggap, bisa menaikkan level penampilan mereka dengan mengundang visual jockey yang berhasil menerjemahkan keinginan dan cerita lagu dengan sangat baik. Dengar-dengar gosip, mereka menghabiskan budget yang tidak sedikit untuk memberangkatkan tiga orang artis visual yang mendukung penampilan panggung band.

06. Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca bermain di amphitheater tahun ini. Kapasitas yang hanya ratusan, jelas tidak bisa menampung penonton yang menunggu mereka. Pintu sudah ditutup, akses dijaga erat supaya tidak memberi celah orang untuk masuk lagi ke venue yang sudah sesak. Tapi, tidak pernah ada yang bisa menahan penonton yang ingin bernyanyi bersama pada lagu-lagu perlawanan model Di Udara. Rasanya perlu diulang sebagai pengingat; Dua tahun lalu, Efek Rumah Kaca jadi salah satu artis yang punya nyali untuk menyuarakan dukungan untuk FORbali yang memperjuangkan Bali Tolak Reklamasi di Soundrenaline. Mereka melawan self censorship yang entah diinisiasi oleh siapa yang berisi larangan untuk mengkampanyekan isu-isu politik di festival ini.

07. Fstvlst

Fstvlst merilis single baru berjudul Gas, tepat di pagi di mana mereka dijadwalkan untuk main di Creators Stage di Soundrenaline 2018. Kali ini, mereka tidak hanya menentang rasi bintang, tapi juga menentang matahari. Toh, masih ada sejumlah mas-mas gondrong yang ada di garis depan dan mengibaskan rambut mereka yang mungkin saja belum dicuci hari itu. Tidak apa, toh yang penting, “Gas!”

08. Jason Ranti

Siapapun yang menyaksikan Jason Ranti di Soundrenaline 2018, pasti sepakat; penyanyi solo ini naik kelas dan hamba-hambanya makin setia.

09. Kikagaku Moyo

Untuk satu jam, orang-orang dibawa menyaksikan penampilan lima orang pemuda gondrong yang bicara lewat musik berkualitas. Ditambah lagi, fakta bahwa mereka orang Jepang yang dikenal luas mampu mempertanggungjawabkan pilihan profesi. Jadi, Soundrenaline 2018 menyaksikan sebuah band cult kelas dunia yang jelas-jelas-jelas, lebih bagus ketimbang Limp Bizkit yang overrated.

10. Margie Segers feat. Adra Karim

Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya festival dibuka pada Jumat, 7 September 2018. Area A Camp, yang diset di ujung kanan venue festival, mulai beraktivitas. Penyanyi legendaris Margie Segers didaulat untuk berkolaborasi dengan pemain piano yang memanggilnya “Tante”, Adra Karim. Suhu GWK yang dingin, diperparah dengan suara Segers yang begitu solid dan penuh karakter. Konsumsi rokok yang berat serta bentukan alam gen orang Maluku serta pengabdian sepenuh jiwa pada proses menyanyi, menjadi bukaan yang bagus untuk Soundrenaline 2018.

Teks: Felix Dass
Foto: Maulana Hidayat (Pullo, Jason Ranti, Margie Segers, The Panturas, Fourtwnty), Yose Riandi (FSTVLST, Jogja Hiphop Foundation, Kikagaku Moyo, Theory of Discoustic), Felix Dass (Efek Rumah Kaca).